<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9157078983311861275</id><updated>2012-01-05T02:39:32.596-08:00</updated><category term='PINGGAN MATIO'/><category term='SEJARAH'/><category term='PEMIKIRAN'/><category term='LEGENDA'/><category term='TAROMBO'/><title type='text'>Matanari website.</title><subtitle type='html'>Matanari Pakpak Pegagan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.jmatanari.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9157078983311861275/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jmatanari.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Jerry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12686291329203742107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/Szhr6sraE_I/AAAAAAAAAPk/GdmGjFcazYM/S220/Jerry.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9157078983311861275.post-6378820657394772083</id><published>2009-11-15T18:00:00.001-08:00</published><updated>2010-06-17T22:34:11.060-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PEMIKIRAN'/><title type='text'>ADAKAH HUBUNGAN TALIAN DARAH (GEN) ANTARA MATANARI (PAKPAK PEGAGAN) DENGAN KETURUNAN LELUHUR DJAULI PADANG BATANGHARI (PAKPAK SIMSIM).......?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Jawaller Matanari, Ir.MS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kata Pengantar:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih dahulu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya, jikalau tulisan ini tidak berkenan bagi pihak terkait (marga Matanari, Padang Batanghari dan keturunan Raja Silalahisabungan). Tulisan ini adalah berdasarkan analisis terhadap beberapa tulisan yang ada dari (oleh) pihak terkait (marga Matanari, Padang Batanghari dan keturunan Raja Silalahisabungan). Tulisan ini dibuat untuk tujuan mencari kebenaran secara menyeluruh (tanpa sepihak), dan semoga menjadi alat pemersatu bagi pihak yang telah bertikai (berbeda pendapat) selama ini. Tulisan ini tidak menyangkutkan semua yang bermarga Padang Batanghari, melainkan hanya melibatkan keturunan  Leluhur Djauli  Padang Batanghari yang mengakui leluhur mereka sampai generasi ke-8 bertempat tinggal di Balna Sikabengkabeng dan namboru mereka Pinggan Matio.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Matanari Pakpak Pegagan Pemegang Hak Adat Sulang Silima di Sekitar Wilayah Balna Sikabengkabeng-Kuta Gugung&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pakpak dibedakan atas lima (5) suak (wilayah raja kuta) yaitu Pakpak Pegagan, Pakpak Keppas, Pakpak Simsim, Pakpak Kellasen dan Pakpak Boang. Raja Kuta masing-masing wilayah (daerah) adalah pemegang hak Adat “Sulang Silima” atau “Silima Sulang”. Walaupun pada satu  wilayah (daerah atau kuta) terdapat beberapa marga (Pakpak atau Toba), namun pemegang hak Adat “Sulang Silima” hanyalah satu marga saja, yaitu marga pamukka huta (pendiri kampung).  Marga lain boleh menjadi unsur dari “Sulang Silima” yaitu hanya sebagai unsur “Anak berru”.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sulang Silima” adalah terdiri dari 5 unsur, yaitu (1) Prisang-isang (anak paling tua), (2) Pertulan Tengah (anak pertengahan), (3) Prekor-ekor (anak paling kecil/termuda), (4) Anak Bberru, dan (5) Puncaniadep (saudara semarga yang dituakan ataupun kula-kula…tergantung kuta/daerahnya masing-masing).  Contoh fungsi Sulang Silima: jika keluarga marga Padang berencana melaksanakan pesta adat (suka dan duka) di wilayah Balna Sikabeng-kabeng-Kuta Gugung, maka pesta tersebut dapat dilaksanakan setelah lebih dahulu menghormati “penetua Sulang Silima” (Matanari dekket Berru na). Yakni menyediakan makanan dengan satu ekor babi sebagai lauk dan 5 helai oles (ulos) kepada penetua Sulang Silima. Akan tetapi lambat laun ketentuan ini semakin diperkecil (diperringan secara ekonomi),………… mungkin diraskan, terlampau berat bagi masyarakat/penduduk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Daerah wilayah Pakpak Pegagan adalah dahulu disebut kecamatan Sumbul Pegagan (sekarang telah dimekarkan menjadi beberapa kecamatan antara lain Sumbul Pegagan, dan Silalahi) hingga ke Tigalingga-Tanah Pinem.  Wilayah Pakpak Pegagan berbatasan dengan; sebelah Timur adalah wilayah Tao Silalahi (danau Toba) dan daerah Sipitu Huta (Merek) serta Tanah Karo, sebelah Selatan adalah wilayah Tele dan Pusuk Buhit, sebelah Barat adalah wilayah Pakpak Keppas (terdiri dari marga Ujung, Angkat, Bintang, Kudadiri, Capah, Sinamo dan Gajah Manik) yang dibatasi oleh aliran sungai Lae Renun, dan sebelah Utara adalah wilayah kecamatan Tigalingga, Tanah Pinem dan daerah Alas (Aceh).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemegang hak Adat Pakpak “Sulang Silima” di wilayah Pakpak Pegagan adalah marga Matanari di wilayah Balna Sikabeng-kabeng Kuta Gugung, marga Manik diwilayah Kuta Manik dan Kuta Usang,  dan marga Lingga di wilayah Kuta Raja dan Kuta Posong.  Tidak ada kuta di wilayah/daerah Pakpak Pegagan yang unsur-unsur “Sulang Silima” nya marga Padang Batanghari……kenapa..?.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rumah Adat Pakpak yang hanya dapat dimiliki Raja Kuta (pemegang hak Wilayat) diantaranya dijumpai di Balna Sikabeng-kabeng, yakni dinamai “Rumah Sipitu Ruang Kurang Dua Lima Puluh” dan didepan rumah tersebut terdapat Bale Adat Pakpak dinamai “Bale Silendung Bulan”.  Rumah dan Bale Adat Pakpak ini hancur dikarenakan Angin Topan dan simakan usia pada tahun 1984. Marga Manik dan Lingga mengakui abang mereka (paling tua) adalah pemilik wilayah Balna Sikabeng-kabeng Kuta Gugung yaitu marga MATANARI Pakpak Pegagan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak diberikan izin membangun Rumah Adat Pakpak di segala dusun/desa.  Misalnya, dusun Sikonihan dekat kota Sumbul adalah dusun perantauan (pengembangan) marga Matanari.  Didusun/desa ini dahulu tidak diijinkan didirikan Rumah Adat Pakpak, walaupun kuta (kampung) marga Matanari juga.  Rumah adat Pakpak dahulu ada di Balna Sikabengkabeng dan Kuta Gugung. Rumah Adat Pakpak yang di Kuta Gugung dahulu dibakar saat perang saudara, sedangkan Rumah adat Pakpak yang di Balna Sikabeng-kabeng hancur akibat Angin Topan 1984 dan lapuk termakan usia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wilayah Pakpak Keppas diawali yang dari daerah Sicikeh-cikeh (daerah Parawitasa=Hutan Lindung) hinga meluas ke daerah Sitinjo (marga Capah) ke Simpang Tolu (marga Kudadiri), daerah Sisikalang (marga Ujung), Sidiangkat (marga Angkat) wilayah Bintang-Pancuran (marga Bintang). Marga Sinamo dan Gajah Manik pergi dan tinggal ke wilayah Pakpak Simsim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wilayah Pakpak Simsim adalah kabupaten Pakpak Bharat (dahulu hanya terdiri dari kecamatan Kerajaan dan kecamatan Salak).  Marga-marga Pakpak Simsim antara lain adalah Solin, Padang, Bancin, Banurea, Barasa (Brasa), Brutu, Manik Kecupak, Gajah,  Kabeakan, Lembeng, Sitakar, Tinendung, maupun PADANG BATANGHARI.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wilayah Pakpak Kelasen adalah daerah Parlilitan dan sekitarnya terdiri dari beberapa marga antara lain Tinanbunan, Tumangger, Maharaja, Turutan, Pinayungan, Anak Ampun (Nahampun). Meka, Mahulae, Buaton, Kesugihen. Siketang, dan lain lain.  Sedangkan Pakpak Boang adalah di daerah Boang, Singkil dan daerah Aceh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Perang Saudara dan Melarikan Diri&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut ceritra dari mulut-ke mulut, bahwa mpung (para leluhur) marga Matanari di willayah Balna Sikabeng-kabeng sering terjadi perang saudara.  Akibat perang saudara tersebut, selain korban nyawa berjatuhan (meninggal) juga banyak keturunan Matanari yang terpaksa melarikan diri ke daerah lain yang relatip jauh dan umumnya tidak kembali lagi serta sebagian mereka merobah marganya.  Misalnya di daerah Tanah Karo dan Tigalingga-Tanah Pinem (kabupaten Dairi) keturunan Matanari menjadi marga Sitepu,  Sinulingga, Karo-karo, Surbakti, dan lain lain. Ke daerah Alas keturunan Matanari menghilangkan marganya atau menjadi marga…………? (belum ada informasi yang jelas).  Ke daerah Boang dan Subulussalam (Aceh) keturunan Matanari menghilangkan marganya tetapi masih ada yang mengaku sebagai keturunan marga Matanari..atau menjadi marga………..? (belum ada informasi yang jelas).  Ke daerah wilayah Pakpak Simsim keturunan Raja Matanari menjadi marga…………?. (belum ada yang mengaku secara jelas dan tegas).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pengakuan Djauli Padang Batanghari (pelaksana Asisten Wedana atau Camat) sekitar tahun 1960 dan putranya Pendeta Abednego Padang Batanghari, bahwa mpung (lelulur) mereka sampai generasi ke-8 bertempat tinggal di Balna Sikabeng-kabeng.  Akibat terjadi “graha” (perang) maka mpung (leluhur) mereka terusir dan pergi atau kembali ke SILEUH (wilayah Pakpak Simsim)…… mendapat tanah dari mertuanya dari marga SOLIN.  Apakah marga Padang Batanghari tidak mempunyai hak pemegang (sebagai) Raja Adat Sulang Silima di kampungnya  (kecamatan Kerajaan)…..? (belum diperoleh penulis informasi).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Djauli Padang Batanghari  mengaku (didepan seksi Tarombo keturunan Silalahisabungan) bahwa maraga Padang Batanghari adalah keturunan marga Pasaribu…….. Akan tetapi Pendeta Abednego mengaku (dalam tulisannya) bahwa marga Padang Batanghari adalah keturunan Pakpak yang berasal dari seribuan (SEU) manusia yang berasal dari daerah India yang masuk dari daerah Barus… hubungan kepada marga Pasaribu hanyalah hungan perpadanan (ikrar satu keturunan).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Djauli Padang Batanghari dan putranya Pendeta Abednego, selain mengaku mpung (leluhur) mereka sampai gegerasi ke-8 di Balna Sikebeng-kabeng juga mempunyai namboru bernama Pingga Matio istri Raja Silalahisabungan. Demikian halnya marga Matanari  mengaku mempunyai namboru Pinggan Matio istri Raja Silalahisabungan, Ranimbani istri Loho Raja, Rumintang istri Raja Onggu Ruma Sondi dan Siberru Taren instri Raja Manungkun Pintu Batu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenapa ada dua marga yang berbeda (Matanari dan keturunan leluhur Djauli Padang Batanghari)  mengaku ada namboru mereka bernama Pinggan Matio istri Raja Silalahisabungan.? Sama-sama benarkah kedua pihak yang mengaku tersebut..? Juga Djauli Padang Batanghari dan putranya Pendeta Abednego mengakui bahwa leluhur mereka sampai generasi ke-8 bertempat tinggal di Balna Sikabeng-kabeng.  Mungkinkah leluhur Djauli Padang Batanghari adalah bagian dari keturunan Raja Matanari yang terusir (pergi) akibat perang saudara…?. Djauli Padang Batanghari dan Pendeta Abednego mengakui bahwa ada marga Matanari yang ada disekitar Balna Sikabeng-kabeng mempunyai talian darah (keturunan) dengan mereka  Adakah hubungan keturunan (talian darah = gen) antara Raja Matanari dengan mpung (leluhur) Djauli Padang Batanghari…..??.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Adakah Talian Darah (Gen)…?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkinkah mpung (leluhur) Djauli Padang Batanghari adalah keturunan Raja Matanari yang melarikan diri (pergi) ke daerah lain (Sileuh) akibat Perang Saudara yang sering terjadi di Balna Sikabeng-kabeng……?........mungkin hal ini perlu dibicarakan dari hati ke hati (pihak Matanari, Djauli Padang Batanghari dan keturunan Raja Silalahisabungan) tanpa ada perasaan dilecehkan dan sebaliknya merasa sombong (benar).  Hal ini didasarkan pada alasan bahwa ada keturunan Raja Silalahisabungan mengaku bahwa Pinggan Matio adalah baru Matanari dan ada juga yang mengaku boru Padang Batanghari.  Kedua kelompok ini masing-masing membuat pesta dan mengundang hula-hula (kula-kula) masing-masing (marga Matanari dari Balna Sikabeng-kabeng kecamatan Sumbul Pegagan dan keturunan leluhur Djauli Padang Batanghari dari Sileuh kecamatan kerajaan kabupaten Pakpak Bharat).  Ternyata kedua pihak keturunan Raja Silalahisabungan sama-sama berhasil baik (sehat-sehat) melaksanakan pesta menghormati hula-hulanya, demikian juga pihak hula-hula selamat (sehat) pergi-pulang dari huta Silalahi…….. kenapa……? Penulis menduga bahwa sama-sama benar ada hubungan talian darah (gen = penentu sifat keturunan) antara Pinggan Matio dengan,  baik marga Matanari dari Balna Sikabeng-kabeng maupun  keturunan leluhur (mpung) dari Djauli Padang Batanghari dari Sileuh kabupaten Pakpak Bharat………… Untuk itu perlu pembicaraan antar tokoh-tokoh adat yang terkait.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain yang telah diuraikan di atas, dibawah ini ada beberapa hal yang mungkin ada saling terkait:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Kampung dari leluhur Djauli Padang Batanghari adalah Sileuh (kecamatan Kerajaan kabupaten Pakpak Bharat) sebagai Rading Berru dari marga Solin…?, tidak jauh dari kuta Balna Sikabeng-kabeng (kecamatan Sumbul Pegagan) ada desa Sileuh-leuh….. adakah hubungannya….?.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Leluhur Djauli Padang Batanghari bernama Silantak (Paroltep) mempunyai 7 putri dan yang paling bungsu bernama Pinggan Matio (istri Raja Silalahisabungan…?). &amp;gt; &amp;lt; Raja Matanari mempunyai dua orang hulubalang mempunyai alat tradisional oltep pergi dan berjumpa tak sengaja dengan Raja Silalahisabungan (saat mencari obat tradisional untuk obat istri Raja Matanari yang sedang sakit).  Hulubalang pada jaman tersebut diduga adalah anggota keluarga/putra raja. Raja Matanari mempunyai satu orang putri yaitu Pinggan Matio yang cacat matanya, tetapi pada saat penyerahan putrinya (manaruhon bru) ke Silalahi, Raja Matanari menggunakan ilmu hitam menguji kemapuan Raja Silalahisabungan dengan cara menyuruh Raja Silalahisabungan memilih salah seorang putri dari 7 gadis yang diperlihatkan melalui ilmu hitam (7 gadis terdiri dari seorang manusia dan 6 lagi adalah siluman)…………..adakah persamaan atau perbedaannya….?.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Matanari adalah Pakpak pegagan &amp;gt; &amp;lt; sedangkan Djauli Padang Batanghari mengaku Pakpak Simsim.  Antara Wilayah Pegagan dengan Wilayah Pakpak Simsim terdapat wilayah yang relatip sangat luas yaitu Wilayah Pakpak Keppas.  Kenapa tidak ada keturunan leluhur Djauli Padang Batanghari di wilayah Balna Sikabeng-kabeng dan sekitar kecamatan Sumbul Pegagan…..?.  Wilayah tempat tinggal Raja Matanari adalah daerah Lae Pondom hingga ke Lae Renun,,, kenapa tidak ada keturunan leluhur Djauli Padang Batanghari diwilayah tersebut maupun sekitarnya si wilayah Pakpak Keppas…?.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Apakah penyebab leluhur Djauli Padang Batanghari pada generasi ke-8 terusir dari Balna Sikabeng-kabeng hingga pergi atau kembali ke Sileuh…..?........mungkinkah akibat perang saudara,,,, hingga yang terusir merobah marganya jadi marga lain…?. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Jarak Balna Sikabeng-kabeng ke Sileuh sekitar 50 kilo meter…..kenapa jarak pelarian ini begitu jauh…..?. Pada zaman tersebut masih luas lahan kosong yang subur di wilkayah Pakpak Pegagan ataupun Pakpak Keppas……kenapa harus dilewati menuju Sileuh..? (bandingkan tingkat kesuburan l;ahannya).. Mungkinkah yang terjasi asalah perang saudara yang begitu menyakitkan hati sehingga muncul keinginan pergi sangat jauh dan tidak ada sedikitpun niat kembali ke kampung asal…?  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Adakah kaitan nama kampun Batanghari yang ada di sekitar Sumbul Pegagan dengan marga keturunan leluhur Djauli Padang Batanghari….?.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Jika mungkin benar,  leluhur dari Djauli Padang Batanghari adalah keturunan Raja Matanari dari Balna Sikabeng-kabeng….wajar dan pantas marga Matanari dan keturunan leluhur Djauli Padang Batanghari sama-sama mengetahui turiturian namboru mereka (legenda Pinggan Matio istri Raja Silalahisabungan walaupun tempat tinggal mereka berjarak jauh yakni sekitar 50 km……..mungkinkah….???.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada pihak keturunan Raja Silalahisabungan yang menolak Pinggan Matio dan Ranimbani adalah berru Matanari, melainkan adalah berru Padang Batanghari.  Untuk hal ini kami memberikan tanggapan dan permintaan sebagai berikut: “ Kami marga Matanari tidak mempermasalahkan sikap (pernyataan) sebahagian keturunan Raja Silalahisabungan  tersebut di atas, akan tetapi mohon dikabulkan permintaan kami berikut, yakni al”:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Jangan dikatakan kampung hula-hula (mertua) Raja Silalahisabungan di kuta Balna Sikabengkabeng, karena kampung itu adalah kampunya marga Matanari Pakpak Pegagan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Tulisan yang menyatakan Pinggan Matio dan Ranimbani berru Padang Batanghari dari kuta Balna Sikabeng-kabeng (Pakpak Pegagan…kabupaten Dairi) harus dirobah menjadi dari Sileuh (Pakpak Simsim…kabupatem Pakpak Bharat).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Tulisan yang menyatakan, “Pertanda kula-kula (hula-hula) datang adalah menyalakan api di atas bukit (dolok) ni huta Silalahi, kemudian dibalas dengan menyalakan api di huta Silalahi sebagai pertanda siap menerima kedatangan hula-hula”…………mohon ditarik (diralat)……Karena kondisi seperti ini tidak mungkin terjadi zaman dahulu (yakni marga Padang Batanghari dari Sileuh-daerah Simsim datang ke Silalahi kemudian menyalakan api di atas tanah wilayah milik Raja Matanari),….mungkinkah..?.....apa peran Pakpak Pegagan (Matanari, Manik Lingga)…..?.....sangat mustahil bisa terjadi zaman dahulu bukan…?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Padang Batanghari yang menyatakan bahwa “ mpung (leluhur) mereka sampai generasi ke-8 berada di Balna Sikabeng-kabeng, tetapi akibat terjadi geraha (perang) maka leleuhur mereka melarikan diri (terusir) pergi/kembali ke Sileuh, dan sebahagian dari keturunan leluhur mereka yang tertawan merobah marga menjadi Matanari (pihak penyerang/pengusir marga Padang Batanghari)……Pernyataan/tulisan ini mohon ditarik atau diralat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Pernyataan yang terkait point 1, 2, 3 dan 4 di atas harus ditarik (diralat dan ditiadakan), karena marga Matanari beranggapan: ada maksud tertentu dalam tulisan tersebut, misalnya maksud penguasaan wilayah dan pengambilalihan hak pemegang Adat Sulang Silima di wilayah Balna Sikabeng-kabeng – Kuta Gugung dari marga Matanari. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Selanjutnya pihak Padang Batanghari (Pakpak Simsim) memohon maaf kepada marga Matanari dan marga-marga yang ada di Pakpak pegagan (terutama marga Manik dan Lingga).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Atau…..keturunan leluhur Djauli Padang Batanghari menunjukkan kepada marga Matanari, surat pernyataan dari Penetua Pakpak Pegagan, Penetua Pakpak Keppas dan Penetua Pakpak Silima Suak yang mendukung (membenarkan) pernyataan mereka (yang menyatakan leluhur mereka sampai generasi ke-8 bertempat tinggal di Balna Sikabengkabeng kemudian diserang/diusir oleh marga Matanari).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang suku Pakpak mudah mengganti marganya atau menghilangkan marganya…….?. Kenapa demikian……..???&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada umumnya akibat jumlahnya yang relatip sedikit yakni terutama si daerah perantauan (salah satu faktor) penyebab suku Pakpak mendekatkan diri ke suku Batak Toba, mengkait-kaitkan marganya dengan marga suku Toba dan akhirnya mengkui marganya anak dari marga Batak Toba.  Misalnya, Tinambunan, Tumangger, Maharaja, Pinayungan dan Anak ampun mengaku anak Simbolon (Naiambaton), Banurea dan Barasa mengaku keturunan Naiambaton (tetapi akhir-akhir ini ada juga marga Barasa tidak mengaku keturunan dari Naiambaton….karena ternyata dapat juga kawin antara marga Barasa dengan Tinambunan atau Tumangger), sedangkan marga Ujung, Angkat, Bintang, Kudadiri, Capah, Sinamo dan Gajah Manik (7 marga) dan marga Bako mengaku anak Naibaho,  harga Padang mengaku Situmorang, marga Padang Batanghari mengaku Pasaribu, Solin mengaku Pandiangan, juga Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) mengaku Sihotang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain alasan faktor tersebut di atas, pada umumnya marga-marga Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) akibat letak daerahnya sangat dekat dengan wilayah tanah Karo, Simalungun dan Samosir dan Humbang maka sudah beberapa generasi mereka (Pakpak Pegagan terutama marga Matanari) telah kawin mayoritas dengan suku Batak Toba.  Lambat laun bahasa yang digunakan sehari-hari sdslsh bahasa Batak Toba, dan adat istiadat dipakai adalah Adat Batak Toba (karena hula hula dan Boru hampir semuanya suku Batak Toba).  Dalam menjalankan Adat Batak Toba, marga Matanari membutuhkan saudara semarga. Kenyataan ini menyebabkan marga Matanari dan Pakpak Pegagan lainnya (Manik dan Lingga) telah lama mengaku keturunan marga Sihotang.  Dan akhirnya pengaruh marga-marga keturunan SiRaja Oloan juga berpengaruh kuat terhadap marga Matanari (terutama di perantauan). Kenyataan yang sebenarnya adalah marga Matanarilah  yang memberikan tanah (parhutaan) kepada marga Sihotang yaitu huta Sihotang Nahornop dekat daerah Balna Sikabeng-kabeng. …..mungkinkah anak/cucunya yang memberikan tanah atau parhutaan kepada bapak/ompungnya…?..mustahil kan..?.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum kuat pengaruh Sihotang di wilayah Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) dan Naibaho di wilayah Pakpak Keppas (Ujung, Angkat, Bintang, Kudadiri, Capah, Sinamo, dan Gajah Manik), maka antar marga-marga suku Pakpak di atas masih saling kawin.  Misal Matanari kawin dengan marga Bintang, atau Capah ataupun marga Lingga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adek perempuan Ranimbani boru Matanari (istri Loho Raja) ada dua orang, masing-masing kawin dengan marga Bintang dan marga Maha.  Marga Maha adalah suku Pakpak yang mengaku dirinya marga Silalahi dan Sembiring Maha di Tanah Karo&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akibat jumlahnya relatip sedikit maka pada umumnya banyak suku Pakpak merobah marganya di perantauan.  Misalnya marga Matanari yang merantau ke Tanah Karo, Tigalingga dan Tanah Pinem merobah marganya menjadi Karo-karo, Sitepu, Sinulingga, dan lain lain. Marga Matanari yang merantau ke daerah Deli, Riau, Jambi, Benhgkulu, pulau Jawa, Irian jaya dan lain lain ada yang merobah marganya menjadi marga Sihotang.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengaruh ajaran Agama yang sangat melarang (bertentangan dengan) kebiasaan adat dan budaya Pakpak, menyebabkan sebahagian suku Pakpak lambat laun mudah lupa (menghilangkan) marganya.   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga pertanyaan ini dapat dijawab dengan kerendahan hati, tanpa ada perasaan dilecehkan dan menghilangkan perasaan sombong (merasa diri paling benar) sehinga berguna dalam pengetahuan seajarah yang benar dikemudia hari tanpa ada pihak yang dirugikan.  Jikalau ada dalam tulisan ini yang kurang berkenan, maka penulis lebih dahulu mohon maaf dan penulis sangat menunggu kritik/perbaikan dari semua pihak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;NJUAH-NJUAH…….HORAS&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9157078983311861275-6378820657394772083?l=www.jmatanari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jmatanari.co.cc/feeds/6378820657394772083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jmatanari.co.cc/2009/11/adakah-hubungan-talian-darah-gen-antara.html#comment-form' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9157078983311861275/posts/default/6378820657394772083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9157078983311861275/posts/default/6378820657394772083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jmatanari.co.cc/2009/11/adakah-hubungan-talian-darah-gen-antara.html' title='ADAKAH HUBUNGAN TALIAN DARAH (GEN) ANTARA MATANARI (PAKPAK PEGAGAN) DENGAN KETURUNAN LELUHUR DJAULI PADANG BATANGHARI (PAKPAK SIMSIM).......?'/><author><name>Jerry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12686291329203742107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/Szhr6sraE_I/AAAAAAAAAPk/GdmGjFcazYM/S220/Jerry.JPG'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9157078983311861275.post-4083581121770881052</id><published>2009-03-23T06:35:00.002-07:00</published><updated>2010-06-17T22:39:16.533-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PINGGAN MATIO'/><title type='text'>TANGISAN DAN SEYUMAN PINGGAN  MATIO, RANINBANI, RUMINTANG DAN SIBERRU TAREN BERRU MATANARI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PADA PESTA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KETURUNAN RAJA MATANARI MENGGOHON-GOHONI POMPARAN RAJA SIHALOHO&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;DI HUTA SIHALOHO DI SILALAHI NABOLAK&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;SABTU 29 NOPEMBER 2008&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Ir. Jawaller Matanari, MS.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pesta Adat Yang Penuh Hikmat dan Makna Simbolik Petunjuk Kebenaran Sejarah Masa Lampau.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menggohon-gohoni (bahasa Suku Pakpak), berarti memberikan makan yang bermakna sakral menurut adat suku Batak Pakpak, dilaksanakan untuk tujuan agar orang yang diberikan makanan tersebut menjadi orang yang sehat, berani, dan kuat dalam berperang melawan musuh (atau dapat bekerja keras mencari nafkah, kuat mental menghadapi masalah, lulus dalam ujian, dan lain lain sejenisnya). Pada mulanya acara ini dilaksanakan terutama untuk tujuan berperang melawan musuh, maka dalam acara ini dilengkapi dengan acara penyerahan pakaian kebesaran menurut adat Pakpak dan alat perang berupa pisau, parang, tombak dan lain lain.  Selanjutnya acara ini dilakukan dalam hubungan kasih sayang antara kula-kula dengan anak berru, sehinga diikuti penyerahan bekal, modal, ternak, benih padi, tikar dan bentuk oleh-oleh lainnya dari pihak kula-kula kepada anak berru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rombongan Keturunan Raja (marga) Matanari dan Berru-Berre telah mulai berkumpul di Kuta Pernantiin (Pegagan Julu IV) di depan rumah Djos M (mpung Kristiani) Matanari sejak jam 7,00 WIB dengan perasaan yang becambur baur antara gembira, kerinduan dan was-was, selama menunggu kehadian semua anggota rombongan, menunggu persiapan pengadaan luah (oleh-oleh) yang akan dibawa, serta menunggu perwakilan marga pomparan Raja Sihaloho yang menjemput rombongan kula-kula keturunan Raja Matanari.   Sekitar jam 8.30 WIB semua yang ditunggu di atas telah hadir dan luah telah tersedia lengkap, sehingga kemudian dilaksanakan Acara Keberangkatan Rombongan keturunan Raja Matanari (mohon Doa Restu) secara singkat.  Rombongan dengan jumlah sekitar 500 orang berangkat secara beriringan menuju huta Sihaloho di Silalahi Nabolak,  Rombongan kula-kula (Matanari) sampai di pintu gerbang masuk ke kampung/ kecamatan Silalahi sekitar jam 10.00 WIB.dalam keadaan selamat dan sehat walafiat berkat Restu dan Lindungan Tuhan Maha Kuasa dan Penyayang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya dilakukan pengaturan atau penataan barisan arak-arakan rombongan kula-kula (Matanari) berdasarkan urutan (tahapan) pelaksanakan adat Pakpak yang akan dilaksanakan di Pesta Keturunan Raja Matanari Menggohon-gohoni Pomparan Raja Sihaloho di Huta Sihaloho di Silalahi Nabolak.  Persiapan dan penatan barisan rombongan ini membutuhkan waktu cukup lama yakni sekitar satu jam.  Barisan rombongan keturunan Raja Matanari mulai begerak bejalan kaki dengan perasaan bersemangat dan gembira diiringi Genderang Suku Pakpak. Barisan terdepan adalah Hulubalang yang dilengkapi senjata Pisau dan Tombak yang dihiasi dengan pucuk tanaman silinjuang.  Setelah barisan rombongan ketuunan Raja Matanari berjalan kaki dengan jarak sekitar 500 meter dari  gerbang kampung (titik awal keberangkatan), sampailah di jembatan sungai Binanga Simaila (bahasa suku Pakpak disebut: Lae siMela) yang disambut dengan  suasana/keadaan cuaca yang berubah dari sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semenjak keberangkatan rombongan keturunan Raja Matanari dari kuta Pernantin (Pegagan Julu-IV) hingga barisan arak-arakan sampai mendekati jembatan sungai Binanga Simaila adalah dalam keadaan cuaca cerah dengan Sinar Matahari yang indah menerangi daerah Silalahi Nabolak.  Cuaca/Sinar Matahari yang cerah dapat merupakan Symbol Senyum Kegembiraan bagi sebahagian orang dan mungkin juga bagi Arwah Pinggan Matio, Ranimbani, Rumintang dan Siberru Taren berru Matanari, yang bergembira menunggu kedatangan barisan rombongan keturunan Raja Matanari di sekitar jembatan sungai Binanga Simaila. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejadian ini menyimbolkan pengulangan sejarah zaman dahulu, yakni di tempat inilah Raja Silalahisabungan menunggu Raja Matanari mengantarkan putri tunggalnya si Pinggan Matio. Pinggan Matio adalah sebagai upah Raja Silalahisabungan yang telah berhasil mengobati penyakit istri Raja Matanari. Penyerahan Pinggan Matio dilaksanakan Raja Matanari, melaui proses atau tahap pengujian ilmu batin (hadatuan) si Raja Silalahisabungan.  Raja Matanari yang dikenal dengan Ilmu Hitamnya, mempertunjukkan 7 gadis, untuk dipilih salah satu  oleh si Raja Silalahisabungan. Dengan cerdik dan tanpa mempermalukan calon mertuanya, Datu Raja Silalahisabungan meminta agar 7 gadis tersebut menyeberangi sungai Binanga Simaila.  Raja Silalahisabungan memilih/menunjuk gadis yang basah pakaiannya setelah melewati sungai tersebut yaitu Pinggan Matio (putri tunggal Raja Mataanari), sedangkan 6 gadis lainnya bukanlah manusia, melaikan siluman yang dipertunjukkan Raja Matanari melalui Ilmu Hitamnya.  Raja Matanari keturunan Raja Api Pakpak Pegagan, dikenal dan ditakuti dengan Ilmu Hitamnya, sedangkan Raja Silalahisabungan terkenal sebagai Datu Pangubati (dukun mengobati orang sakit).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah barisan arak-arakan keturunan Raja Matanari sampai di jembatan sungai Binanga Simaila pada 29 Nopember 2008, suasana atau keadaan berubah secara tiba-tiba (sangat cepat).  Penulis memandang ke arah kiri barisan, yaitu arah bukit hutan Lae Pondom. Penulis melihat awan warna gelap di atas bukit itu, dan kemudian keadaan cuara cerah, cepat berubah menjadi sangat mendung dan seterusnya turun hujan gerimis.  Suasana atau keadaan mendung diiringi hujan gerimis adalah symbol Tangisan (air mata) kesedihan buat sebagian besar orang dan mungkin juga bagi Arwah Pinggan Matio, Ranimbani, Rumintang dan Siberru Taren berru Matanari yang merasa sangat sedih, karena kehadiran kula-kula mereka tidak diinginkan sebagian keturunan anak yang mereka lahirkan dari rahimnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peserta rombongan barisan arak-arakan keturunan Raja Matanari juga umumnya mengalami perubahan perasaan masing-masing.  Perasaan gembira berubah menjadi perasaan was-was, takut basah kuyup oleh air hujan, takut ponselnya terkena air hujan, perasaan sedikit malu atau grogi dan sedih dipandangi bernuansa mengejek dari sebahagian masyarakat yang tampak kurang simpati atas kehadiran rombongan kula-kula marga Matanari di Silalahi Nabolak. Perasaan sedih makin besar, karena selain diguyur hujan gerimis barisan arak-arakan rombongan keturunan Raja Matanari tidak diizinkan berjalan dari jalan raya yang tersedia. Melainkan rombongan harus menempuh sekitar 100 meter jalan setapak yang agak sulit untuk dijalani (setelah beberapa ratus meter dari jembatan sungai Binanga Simaila menuju lokasi dilaksanakan pesta). Padahal sebenanya ada jalan raya menuju lokasi pesta yang pantas dilalui tamu yang hina dina sekalipun.  Jalan umum yang dapat dilalui semua bangsa Indonesia di huta Silalahi Nabolak tidak diizinkan dilalui barisan arak-arakan marga Matanari kula-kula yang diakui Sihaloho kelompok Saing Sihaloho keturunan Raja Silalahisabungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenyataan pahit (terhina) yang harus dialami rombongan keturunan Raja Matanari harus terjadi (suatu kenyataan).  Kenyataan pahit (hinaan) ini mungkin adalah suatu symbol kejadian yang pantas (harus) diterima keturunan Raja Matanari, sebagai ganjaran (hukuman) atas segala dosa-dosa atau kesalahan masa lampau dan sekarang dari keturunan Raja Matanari kepada pihak berru-berre keturunan Raja Silalahisabungan-Pinggan Matio.  Harus diakui bahwa sangat besar dosa-dosa atau kekurangan kita keturunan Raja Matanari kepada pihak anak berru keturunan Raja Sillahisabungan pada masa lampau dan sekarang.  Hukuman (hinaan) ini masih jauh lebih kecil dibanding dosa-dosa/kesalahan yang telah diperbuat kita keturunan Raja Matanari.. Semoga dengan hinaan (hukuman) ini, maka dosa-dosa dan kesalahan keturunan Raja Matanari menjadi terhapus (diampuni), sehingga mendapat berkat dan rahmat kurnia Tuhan yang besar pada masa depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun demikian dengan berdasarkan perasaan sedih, berbesar hati dan kerinduan menjenguk keluarga berru, maka rombongan marga Matanari sampai juga di halaman rumah (sibaganding tua) Sihaloho di Huta Sihaloho di Silalahi Nabolak diiringi mendung dan hujan gerimis sebagai symbol perasaan sedih dan tangisan orang umumnya serta mungkin juga bagi Arwah Pinggan Matio, Ranimbani, Rumintang dan Siberru Taren berru Matanari , karena kula-kula mereka dihina atau ditolak oleh sebahagian keturunan anak yang lahir dari rahimnya.  Semoga tindakan ini tidak menimbulkan kerugian bagi semua keturunan Raja Silalahisabungan ke masa depan. Pesan “manat mardongan tubu” berarti “ ikut serta manat dan menghormati hula-hula ni dongan tubu” juga bukan….?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rombongan keturunan Raja Matanari disambut dengan perasaan gembira dan terharu dari keturunan Raja Sihaloho yang dipinpin Maruba Sihaloho, SE (selaku Ketua Panitia Pesta) beserta nyonya boru Sitanggang, yang disemangati oleh nyonya Saing Sihaloho, MA boru Purba yang juga sudah dimargakan sebagai boru Matanari serta semua pendukung pelaksanaan pesta, mereka telah menunggu didepan halaman rumah di huta Sihaloho di Silalahi Nabolak. Rombongan  kula-kula marga Matanari yang diiringi genderang suku Pakpak mulai dari kuta Pernantiin hingga didepan rumah Sihaloho, kemudian disambut dengan gendang (gondang) suku Toba, sebagai symbol anak berru menghormati dan menyambut kula-kula.  Pada saat ini suasana atau keadaan sedikit berubah dari keadaan mendung diiringi hujan gerimis, berubah menjadi keadaan cuaca agak cerah diiringi hujan gerimis.  Keadaan ini dapat menyimbolkan bahwa hadirin dan mungkin juga Arwah Pinggan Matio, Ranimbani, Rumintang dan Siberru Taren berru Matanari dalam suasana menangis dalam kegembiraan.  Semua hadirin baik pihak berru (Sihaloho) maupun pihak kula-kula (Matanari) dalam keadaan/ perasaan terharu atau menangis dalam kegembiraan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keadaan cuaca agak cerah diiringi hujan gerimis (symbol dari menangis dalam kegembiraan) dan cuaca agak cerah tanpa hujan (symbol dari kegembiraan) terjadi secara silih-berganti selama proses adat berlangsung. Proses adat yang dilaksanakan adalah adat suku Batak Pakpak dan adat suku Batak Toba yang dapat dijabarkan sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.      Suara gendang (genderang) suku Pakpak di depan gerbang kuta, sebagai tanda pemberitahuan (mengetuk pintu rumah/gerbang kuta) kepada anak berru (Sihaloho) oleh kula-kula (Matanari), yang diikuti tarian Pakpak dari gadis-gadis berru Matanari beserta orang tuanya ataupun semua hadirin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.      Suara gendang (gondang) suku Toba dihalaman rumah Sihaloho, sebagai tanda penerimaan (dengan rasa hormat) kedatangan rombongan kula-kula marga Matanari, yang diiringi tarian (tortor somba) dari pihak boru Sihaloho dan tarian (tortor pasu-pasu) dari hula-hula (kula-kula) Matanari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.      Ucapan Njuah-Njuah (selamat) dari marga Matanari (pihak kula-kula) kepada pihak Sihaloho (anak berru) yang disampaikan oleh Ketua Sulang Silima Pegagan Julu-IV Djos M (mpung Kristiani) Matanari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.      Ucapan Horas (selamat) atas kedatangan kula-kula Matanari menjumpai anak berru (Sihaloho) di Huta Sihaloho di Silalahi Nabolak, yang disampaikan Ketua Panitia Pesta Maruba Sihaloho, SE.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5.      Penyerahan Pakaian Adat Pakpak kepada Sihaloho dan istrinya (pihak berru) oleh pihak kula-kula (Matanari).  Pakaian adat pakpak dikenakan kepada Sihaloho, meliputi; pakaian, topi kehormatan, ulos selempang dan pengikat pinggang, dan pisau untuk berperang (bekerja keras) yang dikenakan kepada Maruba Sihaloho, SE.  Juga istri Sihaloho (Nyonya Maruba Sihaloho, SE boru Sitanggang) dikenakan pakaian dan topi (tudung) suku Pakpak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6.      Penyerahan luah (oleh-oleh) seekor lembu jantan, untuk berru (Sihaloho) dari kula-kula (Matanari).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7.      Penyerahan Pelleng (nasi pedas yang diberi kunyit dan daging yang pedas karena kandungan cabenya relatip banyak), terutama untuk memicu anak berru (Sihaloho) untuk siap dan berani berperang (bekerja keras), penyerahan dari kula-kula (Matanari) kepada anak berru (SIhaloho).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8.      Penyerahan Daging Manok Mersendihi (daging ayam masakan khas suku Pakpak) kepada berru (Sihaloho dan istrinya/keluarganya) agar kuat menghadapi rintangan, penyerahan dari kula-kula (Matanari) kepada anak berru (SIhaloho)..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9.      Penyerahan Nditak Gabur ( kue dari tepung beras) agar sehat menghadapi tantangan, dimana makanan ini dapat berguna menetralkan cabe dalam sistim pencernaan (usus perut) yang relatip banyak dikandung Pelleng yang dimakan sebelumnya. Dinasehatkan, agar semua keluarga anak berru mencicipi Nditak Gabur agar semua sehat-sehat., penyerahan dari kula-kula (Matanari) kepada anak berru (SIhaloho).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;10.  Penyerahan Pinahpah ( suku Toba menyebutnya; Sinaok, Tipa-tipa) yaitu padi yang baru dipanen, digongseng dan ditumbuk pakai lumpang dan alu, sehingga berbentuk pipih, menunjukan bahwa mereka (kula-kula) baru panen padi, penyerahan dari kula-kula (Matanari) kepada anak berru (Sihaloho).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;11.  Penyerahan Baka Kambal yaitu sejenis tikar produk anyaman secara tradisional, penyerahan dari kula-kula (Matanari) kepada anak berru (Sihaloho).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;12.  Penyerahan ayam hidup untuk dipelihara anak berru, penyerahan dari kula-kula (Matanari) kepada anak berru (Sihaloho).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;13.  Penyerahan Page (Benih Padi), untuk ditanam di ladang atau sawah, agar hasil panen bagus atau berlimpah-ruah, penyerahan dari kula-kula (Matanari) kepada anak berru (Sihaloho).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;14.  Penyerahan Bibit Pohon Beringin yang dikembangkan (dibiakkan) dari pohon beringin yang ditanam Pinggan Matio (disebut; eks tongkat Pinggan Matio) atau disebut juga Pohon Beringin (Jabi-Jabi) Sembahan si Raja Onggu Ruma Sondi- si Rumintang berru Matanari) di kuta Balna Sikabeng-kabeng, untuk ditanam anak berru (Sihaloho) sebagai pohon perteduhan, atau symbol kehormatan, penyerahan dari kula-kula (Matanari) kepada anak berru (Sihaloho).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;15.  Ucapan Mauliate (Terimakasih) dari Sihaloho kepada kula-kula (Matanari) atas semua luah (oleh-oleh) dan kerjasama yang baik selama waktu silam dan waktu yang akan datang, disampaikan Maruba Sihaloho, SE..  Walaupun keadan cuaca mendung diiringi hujan gerimis, namun tidak menyurutkan semangat dan kasih sayang antara kula-kula dengan anak berru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;16.  Ucapan Nasehat dan Lias Ate (terimakasih) dari kula-kula (Matanari) kepada anak berru (Sihaloho), disampaikan oleh Djos M (mpung Kristiani) Matanari. Beliau nampak menunjukkan perasaan sedikit kecewa kepada sebagian keturunan Raja Silalahisabungan yang belum menerima Matanari sebagai hula-hulanya. Jika pernyataan beliau kurang berkenan buat anak berru (Sihaloho), mohon maaf dan harap maklum beliau sudah sangat lelah mengatur rombongan barisan keturunan Raja Matanari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;17.  Makan Siang Bersama (kula-kula dan anak berru dan undangan) yang dijamu oleh anak berru (Sihaloho) dengan makanan kehormatan sesuai dengan adat suku Batak Toba (yaitu makan diikuti acara penyerahan Tudu-tudu ni sipanganon juhut ni horbo nabolon jala natabo, diserahkan kepada hula-hula (Matanari).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;18.  Acara Selingan berupa Hiburan, yaitu nyanyian dengan judul “Marsinggang Ho Inang” dan “Berngin en lang ter peddem mata ngku, merninget ko sambaing turang” yang dibawakan salah seorang boru Sihaloho, dan pakpak tentang ibu dengan calon menantu perempuannya (parumaen), yang dibawakan penyanyi duet yaitu berru Matanari bersama marga Simanjorang (berre Matanari). Wah………… cantik juga itu berru Matanari…..?.jika ada paribannya berminat datanglah ke kuta tulang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;19.  Acara Penyerahan Ulos, (sesuai adat suku Toba) dari hula-hula (Matanari) kepada boru (Sihaloho).  Adat suku Pakpak justru kula-kula (hula-hula) yang mendapat ulos dan emas dari anak berru.  Penyerahan ulos dari kula-kula kepada anak berru pada pesta ini adalah adapt suku Batak Toba.  Dengan demikian dalam acara pesta ini terjadi toleransi saling menghargai (melaksanakan) adapt budaya Batak Pakpak dan  Batak Toba.  Penyerahan ulos (symbol pasu-pasu/berkat dari Tuhan) dilakukan kula-kula kepada anak berru,  yang diikuti tarian (tortor) dan diiringi alunan suara gendang (Gengerang Pakpak dan Gondang Toba).  Acara ini berlangsung dalam suasana gembira, yang membutuhkan waktu cukup lama, karena cukup banyak pihak boru yang harus diulosi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;20.  Penyampaian luah (oleh-oleh Baka Kambal dan Ayam Hidup) dari keturunan Raja (marga) Bintang (Pakpak Keppas) kepada keturunan Raja Sihaloho..  Ranimbani berru Matanari (istri Raja Sihaloho) mempunyai 2 orang adik perempuan (pariban) yaitu yang kawin ke marga (Raja) Bintang dan marga (Raja) Maha. Selain hubungan marpariban (istri bersaudara), terdapat hubungan khusus (tidak boleh kawin antar keturunan mereka, disebut marpadan) antara Raja Sihaloho dan Raja Bintang, karena mereka saling menolong dalam perang melawan musuh pada zaman dahulu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;21.  Ucapan Horas Mauliate (Terimakasih) dari Nyonya Saing Sihaloho, MA boru Purba-Matanari, yang sangat mulia, rendah hati, menyejukkan perasaan, menimbulkan perasaan terharu, atas ucapan dan perbuatan nyata beliau dan keluarganya, dalam mewujutkan terlaksananya pesta ini.  Walaupun beliau harus memakai Kursi Roda, namun beliau dipapah untuk berdiri untuk mengucapkan pernyataan “Horas dan Mauliate Kepada Hula-hula Matanari” dan “Rasa dan Ucapan Syukur kepada Tuhan Maha Kuasa” atas terselenggaranya pesta tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;22.  Acara Penyampaikan Ucapan Berkat Tuhan (Pasu-Pasu), dari pihak hula- hula Matanari yang didukung lagu berpesan Nasehat, yang dibawakan oleh Kismer Matanari, dengan Vokal suara yang merdu dan berenergi, sehingg memimbulkan kesan dan pesan yang bagus kepada semua orang, terlebih-lebih kepada pihak berru (Sihaloho) tersampaikan pesan “Jangan Melupakan Ibu” dan “Bapa” selaku orang tua.  Perasaan Terharu yang timbul pada setiap orang akibat lagu yang dibawakan Kismer Matanari, membuat banyak orang menyumbang, baik dari pihak Matanari maupun Sihaloho.  Pemberian uang oleh keluarga (pihak) Sihaloho umumnya dilakukan dengan perasaan hormat, terharu, menangis sambil manortor somba (menari memberi hormat kepada pihak hula-hula Matanari), adalah suatu kejadian yang tidak terlintas dalam pikiran waktu sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;23.  Acara Penyampaian Ulos dan Parsituak Natonggi tu Hula-hula Matanari (mengikuti Adat Pakpak) dari anak berru (Sihaloho), yang dipimpin Maruba Sihaloho, SE.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;24.  Acara Penyampaian Silua (oleh-oleh) Dekke Jair tu hula-hula Matanari, dari boru (Sihaloho) tu hula-hula (Matanari), yang penyerahannya diikuti oleh tarian dan gondang Toba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;25.  Gondang Sitio-tio, adalah gendang (gondang) Penutupan Acara, yang ditutup ucapan kata HORAS/NJUAH-NJUAH  tiga (3) kali,dipinpin Maruba Sihaloho, SE (Ketua Panitia Pesta).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak acara poin nomor 19 di atas dilangsungkan sampai acara pesta selesai, keadaan cuaca dan suasana mulai berubah secara bertahap, pelan tapi pasti, yaitu cuaca berubah menjadi cerah dan hujan gerimis pun berhenti.  Bahkan selama kula-kula maraga Matanari diperjalan pulang dari huta Sihaloho di Silalahi Nabolak, keadaan hujan berhenti dan cuaca  cerah..  Keadaan cuaca cerah tanpa hujan merupakan symbol harapan masa depan yang cerah {sejalan dengan munculnya perasaan terharu dan gembira baik pada pihak kula-kula (Matanari) maupun pihak berru (Sihaloho) serta mungkin juga Arwah Pinggan Matio, Ranimbani, Rumintang dan Siberru Taren berru Matanari, Raja Matanari beserta keturunannya}.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga Harapan ini di Rhidoi Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesta Silima Tali di Sumbul Pegagan dan di Balna Sikabeng- Kabeng Kuta Gugung, adalah Momen Kuat Penyebab sebahagian marga Matanari Pakpak Pegagan mengaku dan menarik Tarombo anak Op Sanggapulo Martua Tinggi anak Op. Borsak Sihotang Pardabuan Uruk,…. dan selanjutnya menjadi  awal penyebab Pinggan Matio, Ranimbani, Rumintang dan Siberru Taren berru Matanari di lupakan keturunan anak yang lahir dari rahimnya……..,,,,,,,,,,,,? dan juga dilupakan kula-kulanya marga Matanari…………..?,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah arwah mereka menangis dan tersenyum menyambut kedatangan kula-kula “Keturunan Raja Matanari Menggohon-gohoni Pomparan Raja Sihaloho di huta Sihaloho di Silalahi Nabolak”,……. setelah sekian lama tidak lagi berlangsung …..?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;==================================================&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hubungan kekerabatan (persaudaran yang erat) yang sudah lama terjalin baik antara marga Sihotang, Matanari, Manik, Lingga dan Berru/Boru, dan semakin kuat setelah dilaksanakan Pesta Silima Tali di Sumbul Pegagan (sekitar tahun 1957) dan Pesta Silima Tali di Balna Sikabeng-kabeng Kuta Gugung (sekitar tahun 1960).             Silima Tali adalah ikatan kesatuan 5 unsur di Pegagan, yakni (1) Sihotang, (2) Matanari, (3) Manik, (4) Lingga dan (5) Berru-Berre dari 4 marga tersebut di atas.  Ikatan Silima Tali dibentuk untuk tujuan mulia, yakni ikatan kesatuan (SADA) antara  4 marga tersebut beserta berru-berre dari 4 marga tersebut, bertujuan untuk memperkecil terjadi perselisihan, memperkuat pengaruh (eksistensi) dari 4 marga dan anak berrunya terhadap gangguan atau serangan marga lain yang masuk ke daerah Pegagan.  Ikatan Silima Tali makin kuat eksistensinya karena menyerupai (mirip) dengan Struktur Adat Pakapak yang dikenal dengan nama Silima Sulang, yakni terdiri dari 5 kelompok yaitu (1) Perisang-isang (anak/keturunan putra tertua), (2) Pertulan Tengah (anak/keturunan putra tengah), (3) Perekur-ekur (anak/keturunan putra si bungsu), (4) Puncani Adop (anak.keturunan saudara se marga/ kakek/bapak kakak-beradik), dan (5) anak berru-berre.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Silima Tali dapat diartikan 5 (lima) kelompok diikat dalam satu kesatuan yakni 4 marga kula-kula (hula-hula) dan satu kelompok Berru-Berre dari 4 marga tersebut.  Pada mulanya Silima Tali adalah sebatas kesatuan (SADA) 4 marga di Pegagan yang terdiri dari 3 suku Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) dan satu suku Batak Toba (Sihotang) beserta Berru-Berre dari 4 marga tersebut, tetapi lambat laun terjadi perubahan dari kata satu kesatuan (Sada) menjadi Anak (Keturunan).     Kenapa demikian….?, adakah faktor penyebabnya….?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dasar kepentingan (alasan) dibentuk ikatan dan dilaksanakan pesta SILIMA TALI di Sumbul Pegagan adalah Kepentingan Saling Menguntungkan antara Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) dengan Sihotang (Batak Toba) yakni antara lain adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Upaya memperkuat eksistensi Sihotang di Tanah Pakpak Pegagan dan sekitarnya, menjaga hal-hal/kejadian buruk yang dapat terjadi dikemudian hari (perang antar suku, seperti yang pernah terjadi di daerah lain, pada waktu sebelumnya).  Mengantisipasi {agar tidak terjadi pengingkaran janji atas pemberian tanah dari suku Pakpak Pegagan kepada marga Sihotang, misalnya  marga Sihotang telah mendapat tanah dan kuta di sekitar Balna Sikabeng-kabeng dari marga Matanari (disebut huta Sihotang)}.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada waktu itu, Pusat Pemerintahan Daerah adalah di Tarutung (daerah suku Batak Toba).  Dengan demikian untuk berbagai kepentingan oknum Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) dalam berbagai urusan, terutama yang berkaitan dengan Pemerintah, maka mereka mencari marga suku Toba yang dapat sebagai saudara yakni marga Sihotang yang mempunyai ikatan luas dalam marga Batak Toba (yakni Sihotang berkaitan dengan semua keturunan Siraja Oloan, marpadan dengan marga Marbun dan mempunyai bere na burju Simanjuntak Sitolu Sada Ina)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peranan dan pengaruh marga Sihotang adalah sangat besar dan kuat terhadap Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Linga) dan demikian juga pada Pakpak Keppas (Raja Udjung, Raja Angkat, Raja Raja Bintang, Raja Capah, Raja Raja Gajah Manik, Raja Kudadiri, dan Raja Sinamo).  Pada umumnya semua marga di atas mengaku satu (SADA) dengan marga Sihotang.  Pada mulanya mereka hanya sebatas memiliki perasaan satu kesatuan (sada), tetapi lebih lanjut ada marga yang menarik Tarombo nya sebagai keturunan Sihotang, yakni misalnya sebahagian marga Matanari mengaku dan menarik Tarombonya dari keturunan Op..Sanggapulo Martua Tinggi, anak Op Borsak Sihotang Pardabuan Uruk (generasi ke-5 dari Sihotang atau generasi ke-6 dari Siraja Oloan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya marga Matanari adalah keturunan Pakpak Pegagan atau Raja Gagan atau disebut si Raja Api., karena memiliki ilmu kebatinan yang menyerupai nyala api, yang dapat terbang atau i-kabeng-kabeng ken (artinya diterbang-terbangkan) dan membakar atau membunuh musuh.        Kesalahan menarik Tarombo Matanari akibat pengaruh Pesta Silima Tali tersebut di atas, menyebabkan marga Matanari disebut keturunan Sihotang.  Hal ini akhirnya menyebabkan keturunan Raja Silalahisabungan memutuskan Pinggan Matio bukan marga Matanari (sebab marga ini adalah marga keturunan suku Toba yakni Siraja Oloan adek dari Raja Silalahisabungan), dan Pinggan Matio adalah putri suku Batak Pakpak.  Kenyataan ini menyebabkan seolah-olah tidak ada lagi Pinggan Matio, Ranimbani, Rumintang dan Siberru Taren berru Matanari.  Keempat (4) tokoh berru ini adalah putri Raja Matanari dan keturunannya generasi ke-2, ke-3 dan ke-4 marga Matanari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harus diakui marga Matanari mau kembali menggali sejarah yang benar setelah sejarah hubungan parboruon dengan Raja Silalahisabungan dan keturunanya berhenti sejak tahun 1981, yakni setelah marga Matanari diundang dan kemudian diusir dari Pesta Peresmian Tugu Silalahisabungan tahun 1981. Kemungkinan, juga Arwah berru Matanari (Pinggan Matio, Ranimbani, Rumintang dan Siberru Taren) ikut serta mengingatkan marga Matanari untuk bergerak memperbaiki Tarombonya, agar berru yang mereka sayangi jangan dilupakan. Hal ini terjadi melalui upaya keturunan Raja Sihaloho menelusuri dan mencari (patotahon) marga tulang dan hula-hulanya yang sebenarnya, yakni dipromotori oleh Saing Sihaloho, MA.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil upaya dan kerja keras keturunan Raja Sihaloho tersebut di atas, akhirnya melalui proses dan jalan yang pajang penuh liku-liku, marga Matanari tergerak hatinya untuk kembali dapat menjalin hubungan batin dengan keturunan Raja Silalahisabungan- Pinggan Matio berru Matanari, keturunan Raja Sihaloho-Ranimbani berru Matanari, akan tetapi  belum dapat menjalin hubungan baik seperti masa lampau dengan keturunan Raja Onggu Rumah Sondi- Rumintang berru Matanari dan keturunan Raja Manungkun Batu Raja- Siberru Taren berru Matanari.  Kenyataan ini menyebabkan terjadi tangisan (karena belum lengkap) dan kegembiraan (karena sudah ada permulaan kembali ke sejarah lama hubungan baik dan saling mengunjungi antara kula-kula dengan anak berru) antara Matanari dengan Sihaloho keturunan Raja Silalahisabungan.  Mendung diiringi hujan gerimis, cuaca terang diiringi hujan gerimis, dan cuaca cerah tanpa hujan berturut-turut adalah symbol air mata kesedihan, air mata kegembiaan dan kegembiraan kula-kula (Matanari) dan anak berru (Sihaloho) serta mungkin juga Arwah Pinggan Matio, Ranimbani, Rumintang dan Siberru Taren berru Matanari, yang berlangsung silih berganti selama Pesta Keturunan Raja Matanari Mengohon-gohoni Pomparan Raja Sihaloho di Huta Sihaloho di Silalahi Nabolak, Sabtu 29 Nopember 2008,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maaf dari penulis, bahwa tulisan ini bernuasan batin, Roh, dengan alasan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan dan Kematian Manusia adalah Misteri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manusia Hidup mempunyai Tubuh (Daging) dan Roh,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Eksistensi Tubuh ditentukan oleh keadaan (jenis) Roh yang mendiaminya, misalnya ada manusia dapat memakan atau mengunyah api, kaca, paku, makan dedak, dll, karena berubah (berganti) Roh yang mendiami tubuhnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika Tubuh secara biology sudah mati, maka Roh akan pergi(keluar dari tubuh)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manusia kemudian setelah meninggal akan kembali menjadi tanah, tetapi dalam dunia Roh, dia mempunyai Arwah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada hubungan manusia hidup dengan manusia yang telah meningal dunia melalui hubungan batin, iman atau kepercayaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi ada hubungan arwah Pinggan Matio, Ranimbani, Rumintang dan Siberru Taren berru Matanari dengan keturunan anak yang lahir dari rahim mereka, dan juga dengan pihak  Matanari selaku kula-kula mereka .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan lupakan mereka.         &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan buat arwah mereka bersedih……!!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika ada dalam tulisan ini yang tidak berkenan dan tidak tepat, untuk itu penulis mohon maaf, dan penulis dengan senang hati menunggu kritik yang terutama bersifat membangun demi penegakan sejarah yang benar sebagaimana mestinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;NJUAH-NJUAH ……….HORAS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salam dan hormat dari Penulis  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawaller Matanari, Ir. MS.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketua PERMANA (Perpulungen Matanari-Berru-Berre Kodya Medan dan Sekitarnya).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Putra Pendeta Ds Josep (mpung Sich Jerry) Matanari, Kuta Gerat Pegagan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mobile: 081361149346&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9157078983311861275-4083581121770881052?l=www.jmatanari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jmatanari.co.cc/feeds/4083581121770881052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jmatanari.co.cc/2009/03/tangisan-dan-seyuman-pinggan-matio.html#comment-form' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9157078983311861275/posts/default/4083581121770881052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9157078983311861275/posts/default/4083581121770881052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jmatanari.co.cc/2009/03/tangisan-dan-seyuman-pinggan-matio.html' title='TANGISAN DAN SEYUMAN PINGGAN  MATIO, RANINBANI, RUMINTANG DAN SIBERRU TAREN BERRU MATANARI'/><author><name>Jerry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12686291329203742107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/Szhr6sraE_I/AAAAAAAAAPk/GdmGjFcazYM/S220/Jerry.JPG'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9157078983311861275.post-8722149314625028567</id><published>2009-03-23T06:35:00.001-07:00</published><updated>2010-06-18T00:14:12.364-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LEGENDA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEJARAH'/><title type='text'>SEJARAH DAN BEBERAPA LEGENDA PADA MARGA MATANARI PAKPAK PEGAGAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Ir.Jawaller Matanari, MS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Medan, 5 Februari  2009&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sub-Suku Batak&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suku Batak adalah berasal dari keturunan Melayu Tua (Proto Melayu) yang berasal dari (imigran) Hindia Belakang/Selatan (keturunan bangsa Yunani), dan kemudian kawin dengan Melayu Muda (Deutro Melayu).  Proto Melayu (Melayu Tua) yang menjadi Suku Batak, datang  dari dua arah yaitu pertama dari pantai barat pulau Sumatera (baik imigran dari Hindia Belakang maupun Transmigran dari kerajaan Sriwijaya maupun Kerajaan Melayu Jambi) yang sebahagian masuk dari daerah Barus,  dan kedua adalah dari arah pantai Timur pulau Sumatera terutama dari daerah Aceh Timur (kerajaan Haru, kerajaan Tamiang, dan lain lain).  Deutro Melayu (Melayu Muda) masuk melalui pantai Timur pulau Sumatera. Masing-masing pendatang (imigran atau transmigran bergerak menuju kawasan Danau Toba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pergerakan manusia Proto Melayu dan Deutro Melayu menuju kawasan Danau Toba disebabkan (dipengaruhi) oleh faktor (1) pasang-surut kekuasaan kerajan yang ada berkuasa di pulau Sumatera (kerajan kecil yang tahluk kepada kerajaan besar di Nusantara (yakni kerajaan Sriwijaya di Sumatera, dan di pulau Jawa kerajaan Majapahit) sekitar abad ke-6 sampai abad- ke-14 M, serta (2) akibat pengaruh penyebaran agama Hindu, Buda di Nusantara dan agama Islam (di daerah Aceh, daerah Deli dan daerah Sumatera Barat), yang mendesak orang-orang yang beragama animisme bergerak menuju kawasan danau Toba pada zaman dahulu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerajaan Sriwijaya pada zamannya mempunyai pasukan yang bertugas menerima upeti dari kerajaan kerajaan kecil yang ada di Nusantara.  Sewaktu kerajaan Sriwijaya ditahlukkan kerajaan Colamandala tahun 1025 M menyebabkan sebahagian pasukan yang sedang diperjalanan bertugas meminta upeti di kerajaan kecil di daerah Aceh dan Sumatera Utara tidak kembali ke pusat kerajaan Sriwijaya (Palembang).  Pasukan kerajaan Sriwijaya ini kemudian kawin dengan penduduk (Proto Melayu) yang sudah ada dan berassimilasi budaya membentuk masyarakat masing-masing Proto Batak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan alasan (pertimbangan) hal-hal yang diuraikan di atas dan berdasarkan kemiripan bahasa, sastra dan aksara, maka asal-usul sub-suku Batak (Proto-Batak) dapat dibedakan terdiri dari 2 bagian yaitu, (1) Proto-Batak Utara (terdiri 3 sub-suku Batak yakni: Pakpak, Karo. dan Alas/Gayo) dan (2) Proto Batak Selatan (terdiri 4 sub-suku Batak yakni: Simalungun, Toba, Angkola dan Mandailing)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedatangan Imigran ataupun Transmigran yang masuk ke daerah kawasan danau Toba adalah secara bertahap atau bergelombang dalam periode waktu berbeda, dan kemudian terjadi perkawinan ataupun assimilasi budaya. Setiap gelombang bergerak menuju daerah yang dianggap paling subur.  Pendatang yang lebih awal akan mendapat (bertahan tinggal) di daerah yang lebih subur, sebaliknya pendatang yang lebih belakangan akan mendapat daerah yang lebih tandus.  Pada mulanya suku Batak adalah hidup nomade (manusia yang tingkat kebudayaannya hidup dari memungut hasil tumbuhan secara alami dan menangkap ikan serta berburu binatang/burung dan tempat tinggal berpindah-pindah), kemudian berkembang ke tingkat budaya pertanian berpindah-pindah, pertanian tradisional dan hingga pertanian modern (sekarang).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebudayaan yang menganut sistem demokrasi pada bangsa Yunani dan keturunannya (trias politico) juga berkembang pada suku Batak. Demokrasi yang dianut pada suku Batak adalah azas “The Trias Manner of Batak Culture” yakni 3 sikap perilaku utama dalam berbudaya (hubungan antar manusia) suku Batak.  Pada Batak Pakpak  3 sikap prilaku utama tersebut, dilaksanakan dalam hidup berbudaya dan bermasyarakat yang disebut “Daliken Sitellu” adalah meliputi (1) Sembah Merkula-kula/Suyuk mendahi Puhun (sikap menghormati dan patuh), (2) Manat merdengngan sebeltek (sikap meghargai dan hati-hati), ( 3) Elek mi mberru (sikap kasih sayang dan mengampuni), yang dilaksanakan  dalam ikatan kekerabatan yang sangat besar pada setiap marga (raja kuta), yang disebut Sulang Silima (Penegak Hukum Adat Pakpak). Sulang Silima adalah 5 unsur yaitu (1) Perisang-isang (anak tertua), (2) Pertulan Tengah (anak pertengahan), (3) Perekor-ekor (anak bungsu), (4) Puncaniadip atau Puncaniadep (saudara semarga atau satu kakek) dan (5) Anak Berru. Sulang dapat diartikan memberikan makanan sebagai wujud rasa hormat kepada kula-kula dan sebaliknya rasa kasih-sayang  kepada berru (misalnya, menggohon-gohoni). Pada Batak Karo dikenal 3 cara tersebut adalah Rakut Sitellu yang dilaksankankan dalam ikatan kekerabatan Tutur Siwaluh.  Pada keturunan Proto Batak Selatan 3 cara tersebut disebut Dalihan Natolu (terdiri 3 unsur atau pilar yang sama tingginya agar dapat berfungsi langgeng (yakni hula-hula, dongan tubu dan boru yang sama tingkat derajat kemanusiaannya).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pakpak Pegagan (Matanari, Manik, Lingga)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sub-suku Batak Pakpak (bagian dari Proto Batak Utara) terdiri dari lima suak, yakni (1) Pakpak Pegagan, (2) Pakpak Keppas, (3) Pakpak Simsim, (4) Pakpak Kelasen dan (5) Pakpak Boang,  Salah satu keturunan sub suku Pakpak adalah Simergarahgah. Keturunan Simergarahgah adalah Perbuah Aji. Keturunan Perbuah Aji adalah Pitu Guru Pakpak Sendalanen adalah dukun (Datu) yaitu 7 Guru/Raja yakni Raja Api, RajaAngin, RajaTawar, Raja Lae/Lau/Lawe, Raja Aji, Raja Besi dan Raja Bisa) yang mempunyai ilmu kebatinan dengan keahlian (aliran) khas masing-masing.  Ilmu ini diturunkan (turun-temurun) kepada para murid masing-masing.  Murid yang paling mahir tetap disebut sebagai Raja/Guru dari ilmu aliran masing-masing.  Suatu ketika, yang dijuluki Pitu Guru Papak Senddalanen (sebagai yang terakhir..?) bertemu di daerah pegunungan antara daerah Pegagan dan Tanah Karo.  Pengaruh agama Islam dan Kristen, menyebabkan ilmu mereka ke 7 guru/raja lambat laun semakin pudar (kecil) pengaruhnya kepada masyarakat, kemudian mereka yang terakhir diyakini meninggal di pegunungan antara daerah Pegagan dan Tanah Karo.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pakpak Suak Pegagan (Raja Gagan) adalah keturunan Guru/Raja Api yang pertama, (yang mempunyai aliran ilmu tenaga dalam yang menyerupai tenaga api). Keturunan Guru/Raja Api (Pakpak Pegagan) ada 3 marga yaitu Matanari, Manik dan Lingga,.  Marga Matanari tinggal di daerah kuta Balna Sikabeng-kabeng dan Kuta Gugung. Marga Manik di Kuta Manik dan Kuta Raja.  Marga Lingga di Kuta Singa dan Kuta Posong.  Jumlah generasi mulai dari Proto Pakpak sampai terbentuk marga Matanari belum diketahui secara pasti, namun diduga ada sekitar 11 generasi, karena marga Matanari sudah ada sekitar 19-20 generasi. Jadi Proto Batak Pakpak diduga sudah ada sejak sekitar 30 generasi x 20 tahun = 600 tahun yang lampau (atau lebih…?).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Matanari dan Sembahan Simergerahgah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Zaman dahulu, oleh para mpung (nenek moyang) merga Matanari, diyakini ada kekuatan gaib yang berkuasa dan bersemayam disekitar hulu (takal) sungai (lae) Patuak (di daerah sekitar Lae Rias) sampai Lae Pondom di atas huta Silalahi Nabolak. Kekuatan gaib itu disebut “ Sembahan Simergerahgah” yaitu nenek moyang Raja Matanari. Diyakini mereka bahwa disekitar daerah ini adalah tempat kuburan para nenek moyang raja Matanari. Nenek moyang raja Matanari masih taraf budaya nomade (hidup dari hasil tumbuhan alam, hasil berburu binatang dan burung serta hasil tangkapan ikan tawar). Selanjutnya raja Matanari dan keturunannya berkembang ke tingkat budaya Petani Berpindah-pindah, sehingga mereka bergerak berpindah-pindah  ke rarah lahan yang lebih subur (dari Lae Rias-Lae Pondom menuju arah Balna Sikabeng-kabeng Kuta Gugung). Di tempat terakhir ini selanjutnya berkembang ke tingkat budaya Pertanian Tradisional hingga sekarang menjadi berkembang ke tingkat budaya Pertanian Intensip (Modern).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diduga, pada mulanya tempat tinggal Raja Matanari dan keturunannya adalah di sekitar kuta Balna.  Kuta berarti kampung/desa/dusun (huta, bahasa Batak Toba). Kuta Raja Matanari terletak pada dataran tinggi yang sebelah Barat berbatasan dengan sungai (Lae) Renun yang terbentuk akibat terjadi patahan lempeng bumi ribuan tahun sebelum masehi (SM), dan sebelah Timur berbatasan dengan danau Toba (Tao Silalahi) yang terbentuk akibat letusan gunung berapi ribuan tahun sebelum masehi. Arah ke Utara adalah kuta (kampung) yang ditempati Raja Manik dan Raja Lingga serta arah Selatan adalah daerah Tele dan gunung Pusuk Buhit.  Kuta Raja Matanari terbentang pada lahan yang relatip subur dan tersedia sumber air baik dari sumber Mata Air maupun air beberapa sungai. Raja Matanari dan keturunannya memilih tinggal di tempat yang dekat dengan beberapa sungai misalnya Lae Patuak selain sebagai sumber air minum dan air mandi juga sumber ikan sungai (tawar).  Pada mulanya belum ada nama tempat tinggal Raja Matanari.  Nama kuta tempat tinggal keturunan Raja Matanari ada kemudian sesuai sejarah yang terjadi di daerah tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Paroltep Hulubalang Raja Matanari&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu ketika, istri Raja Matanari sakit keras, pada zaman itu belum ada pengobatan medis, yang ada adalah pengobatan tradisional, baik melalui obat ramuan maupun ilmu kedukunan (paranormal = hadatuon).  Raja Matanari menyuruh  hulubalangnya mencari ramuan daun-daunan, akar-akaran dan biji-bijian ke hutan, untuk obat mpung berru Simeratah istrinya . Hulubalang pergi sambil membawa Oltep yakni alat senjata tradisional, yang dapat digunakan menembak burung, (orang yang sering menggunakan Oltep disebut Paroltep).  Hulubalang pada zaman itu, umumnya adalah anggota keluarga (keturunan) kepala suku ( kelompok) Raja Matanari.?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hulubalang berangkat dari kuta menuju ke arah Timur, mengikuti aliran sungai  (Lae) Patuak ke arah hulu (menuju Huta/Tao Silalahi). Di tengah perjalanan,  hulubalang melihat seekor burung yang cantik.  Hulubalang bermaksud menangkap burung tersebut hidup, sehingga dia coba menembak dengan Oltep secara pelan (tidak kuat).  Burung tersebut jatuh, tetapi karena tidak kuat ditembak (dioltep) burung tersebut terbang lagi dan hinggap ke pohon lain.  Hulubalang mengejarnya dan coba menembaknya lagi dengan cara yang sama,. burung tersebut jatuh dan dengan keadaan yang sama terbang lagi dan hinggap ke pohon lain.  Demikian kejadiannya berlangsung berulang-ulang, hingga hulubalang tidak sadar sudah sampai mendekati Tao Silalahi (danau Toba), hulubalang lupa tugas utamanya mencari ramuan.  Karena waktu sudah menjelang malam hari, hulubalang melihat asap api menyala di suatu gubuk.  Hulubalang mendekati gubuk tersebut, dan melihat seorang laki-laki di dalam gubuk tersebut yaitu Raja Silalahisabungan..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hulubalang menegur  Raja Silalahisabungan, dengan pertanyaan, “ kenapa kau menempati tanah ini ?,tanah ini adalah milik suku Pakpak”..?. Kemudian Raja Silalahisabungan dengan cerdik dan benar menjawab, “Ndang tanom na hu hunduli tanonggku do, Ndang aekmu na hu inum aek ku do”, sambil menunjukkan bungkusan tanah yang didudukinya dan menunjukkan air dalam kendi dari bambu, yang di bawa nya dari Toba.   Karena pernyataan Raja Silalahisabungan adalah benar, maka tidak mempan ilmu hitam yang dipasang Hulubalang kepada Raja Silalahisabungan.  Selanjunya hulubalang menyadari bahwa Raja Silalahisabungan tersebut pasti seorang Dukun Hebat (Datu Bolon). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena obat ramuan tidak didapatkan (terlupakan akibat mengejar-ngejar burung tersebut di atas), maka hulubalang mendapat inspirasi jalan keluar atas tugasnya yang terlalaikan, yaitu hulubalang (paroltep) meminta Raja Silalahisabungan mau bersedia mengobati istri Raja Matanari yang sedang sakit.  Dan diberitahukan, bawa Raja Matanari telah membuat sayembara, bahwa “barang siapa dapat menyembukkan mpung istri Raja Matanari akan diberikan hadiah apa saja yang diminta, baik harta bahkan putrinya (dijadikan menantu Raja Matanari).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Balna Sikabeng-kabeng berasal dari kata Mballa si kabeng-kabengken&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tawaran hulubalang di penuhi Raja Silalahisabungan, yakni bersedia mengobati istri Raja Matanari.  Karena Raja Silalahisabungan adalah seorang dukun, maka beliau “martabas” dan kemudian mengatakan, istri Raja Matanari dapat sembuh, jika setan/hantu/begu/bala (bahasa suku Batak Pakpak disebut MBALLA) yang masuk ke tubuh istri Raja Matanari harus kita buang atau terbangkan (dalam bahasa suku Batak Pakpak dikatakan  SIKABENG KEN, bahasa Toba dikatakan ta pahabang). Hal ini dikatakan dukun (Raja Silalahisabungan) kepada Raja Matanari. Kemudian Raja Matanari ditanya anggota keluarganya, “bagaimana kata dukun tersebut cara menyembukan sakit istri Raja Matanari”  Raja Matanari menjawab mereka: “caranya adalah MBALLA SIKABENG KEN” (artinya setan yang di dalam tubuh yang sakit harus diterbangkan/dibuang) melalui acara ritual.  Pelaksanaan ritual menerbangkan setan (MBALLA SIKABENG KEN) di lakukan di lokasi diluar kampung (kuta), kemudian (sekarang) lokasi ini disebut kuta Balna Sikabeng- kabeng. Acara ritual membuang/menerbangkan setan (Mballa Sikabeng ken) seterusnya menjadi terbiasa di lokasi ini dalam tahap penyembuhan penyakit.  Tempat ini menjadi tempat yang sakral atau kramat, zaman itu nenek moyang kita menganut agama Animisme atau Pelbegu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada waktu selanjutnya, bertambahlah jumllah penduduk dan bertambah juga Dukun atau orang orang berilmu kebatinan. Karena araca ritual kebatinan atau belajar menuntut ilmu perdukunan, tidak boleh terganggu, maka dilarang penduduk biasa lalulalang (masuk-keluar sembarangan) ke tempat tersebut. Tempat ini diperuntukkan hanya bagi pertua, dukun, orang belajar ilmu kebatinan dan proses pelaksanaan acara ritual tertentu. Penduduk biasa, keluarga dukun dan anak-anaknya  tinggal di tempat agak terpisah dari yang disebut sekarang kuta Balna Sikabeng-kabeng yang jaraknya relatip dekat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada mulanya tempat melakukan MBALLA SIKABENG KEN, selain menjadi tempat yang dianggap sakral, tempat mengobati yang sakit, tempat menguji ilmu perdukunan, tempat belajar ilmu kebatinan dan ilmu hitam, juga menjadi tempat yang ditakuti masyarakat biasa karena tempat ini adalah lokasi pembunuhan terhadap musuh, penghianat dan orang yang melakukan kesalahan besar. Pembunuhan (Hukuman Mati) bagi orang Penghianat Raja ataupun Orang yang bersalah besar,  sengaja dipertontonkan kepada masyarakat, untuk tujuan membangun efek jera. Musuh yang dibunuh kadang-kadang dimakan untuk  menambah ilmu kekebalan dan ilmu hitam, (mereka percaya, jika daging musuh tersebut dimakan maka akan berpindah ilmu musuh tersebut ke dalam tubuhnya). Tiang Bale Silendung Bulan di Balna Sikabeng-kabeng adalah tempat menancapkan gigi-gigi manusia yang di bunuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya sesuai pertambahan penduduk, maka sering penduduk biasa  bertanya kepada orang yang lebih tua (datu), yakni dengan pertanyaan “kegiatan apa yang dilakukan dilokasi itu, sehingga kita dilarang memasukinya…?” . Orang tua (datu) tersebut menjawab secara bijak, itu adalah tempat MBALLA SIKABENG-KABENG KEN (artinya: itu adalah tempat setan kita terbang-terbangkan). Karena selain untuk tempat pengobatan, lokasi ini juga digunakan sebagai lokasi menguji ilmu kebatinan, ilmu menerbangkan lumpang (losung) dan alu (andalu), ilmu hitam, menerbangkan penyebab gatal-gatal (GADAM), memelihara Sibiangsat, Begu Ganjang, meracik racun (bisa), dan lain lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjunya akibat terjadi perkembangan zaman, masuknya pengaruh ajaran agama Islam dan agama Kristen., pengaruh  pertambahan penduduk putra daerah dan penduduk pendatang (terutama dari suku Batak Toba) sehingga dalam bahasa sehari-hari terjadi assimilasi/pembauran, yang menyebabkan terjadi perubahan kata atau kalimat dari aslinya yakni::Tempat MBALLA SIKABENG-SIKABENG KEN berubah menjadi nama kuta  BALNA SIKABENG-KABENG&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesuai perkembangan zaman dan pertambahan penduduk, maka terjadi juga pertambahan dusun atau kuta.  Putra sulung Marcintaratus (anak Raja Matanari) bertempat tinggal sekitar kuta Balna Sikabeng-kabeng, sedangkan putra bungsu Marcintaratus (anak Raja Matanari) dan keturunannya membentuk kuta yang baru sekitar beberapa ratus meter arah ke utara.  Sesuai letak lokasi ini adalah pada tempat yang lebih tinggi dari tempat sekitarnya, maka tempat ini jadi terbiasa disebut Kuta Gugung.  Gugung (Dolok, dalam bahasa Toba) berarti lokasi yang lebih tinggi dari tempat sekitarnya.  Kemudian terbentuk dusun-dusun baru sesuai pertambahan jumlah penduduk, misalnya, Pernantin, Kuta Kabo, Kuta Lama, Kuta Baru, Sikula, Kuta Gerat, Silencer, Simbereng, Simanabun, Juma Tungko, Sibira, Buluh Ujung, Sileuh-leuh, Pergambiran, Lae Siboban, Lae Rias, Lae Pinagar, dan lain lain&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian keturunan putra sulung dan putra bungsu Raja Matanari pergi merantau ke daerah/desa SIKONIHAN, SIMANDUMA, BUKIT LEHU, TIGALINGGA, KABAN JULU, SIDIKALANG, PASI-SUMBUL-BRAMPU, SINGKIL, BOANG,  SUMBULUSALAM, ALAS/GAYO-ACEH, dll.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesuai perkembangan zaman, juga terjadi perubahan nama-nama kampung (kuta), yakni akibat terjadi pengaruh bahasa pendatang (terutama bahasa suku Batak Toba) yang saat ini jumlahnya jauh lebih banyak dari suku Batak Pakpak di daerah Pegagan Julu IV, yakni antara lain perubahan nama kuta:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.            PARNANTIAN nama aslinya adalah PERNATIN yang berarti tempat ini adalah tempat menunggu orang lain dari arah simpang yang berbeda, di mana tempat ini adalah simpang tiga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.            BULUHUJUNG nama aslinya adalah LEBBUH UJUNG yang berarti tempat paling ujung (tepi hutan) pada zaman tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.            SIBERENG nama aslinya si MBERENG artinya si Hitam, karena ditempat ini pernah terjadi kebakaran yang menyebabakan terlihat asap api warna hitam di lokasi tersebut. Asap api warna hitam terjadi dalam waktu relatip lama karena yang terbakar adalah beberapa rumah yang mempunyai atap ijuk dari pohon Aren.  Kebakaran terjadi akibat perkelahian sesama keturunan Raja Matanari (perang saudara) dalam perebutan kekuasaan Kampung&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.            HUTA GORAT nama aslinya adalah KUTA GERAT karena dilokasi ini dahulu banyak terdapat jenis mangga hutan yang disebut namanya GERAT dan juga Embacang hutan yang disebut namanya Embargus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5.            HUTA BARU nama aslinya adalah KUTA BARU yang berarti perkembangan penduduknya  dari kuta lama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6.            SILESSER nama aslinya adalah SILENCER&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7.            HUTA SILEU-LEU nama aslinya adalah KUTA SILEUH-LEUH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8.            HUTA PARGAMBIRAN nama aslinya adalah KUTA PERGAMBIREN, dll.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Putra sulung Marcintaratus Matanari (Kembung Mbaliang) lebih duluan diajari Marcintaratus Matanari tentang ilmu kebatinan (hadatuon) dan berhasil baik Putra sulung berhasil menunjukkan eksistensinya sebagai putra sulung (boi do di jujung baringinnya) yakni menguasai ilmu kebatinan yang diajarkan orang tuanya Marcintaratus Matanari. Karena putra sulung Marcintaratus Matanari dan keturunannya berhasil menekuni atau melaksanakan ilmu kebatinan (hadatuan), maka dia dan keturunannya berhak dan bersedia menempati tempat kramat atau sakral tersebut, (yaitu tempat MBALLA SIKABENG-KABENG KEN, sekarang disebut kuta Balna Sikabeng-kabeng).  Dengan demikian Kuta Gugung ditempati putra bungsu Marcintaratus Matanari (Mbalang Tiktik dan keturunannya), karena dia menghormati kedudukan atau hak abangnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pinggan Matio berru Matanari istri Raja Silalahisabungan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Matio (bahada Batak Toba) sama dengan atau berasal dari kata Machiho (bahasa Batak Pakpak dan Batak Karo) artinya adalah jernih atau bening.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pinggan Matio berru Matanari menjadi istri Raja Silalahisabungan adalah: (1) sebagai upah Raja Silalahisabungan yang telah berhasil mengobati penyakit istri Raja Matanari, dan (2) setelah Raja Silalahisabungan berhasil memilih Pinggan Matio, (seorang putri  dari antara 7 gadis yang diperlihatkan Raja Matanari Pakpak Pegagan melalui Ilmu Hitam),  dengan cerdik dan bijaksana tanpa mempermalukan calon mertuanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah berhasil mengobati penyakit istri Raja Matanari, maka Raja Silalahisabungan menagih upahnya yakni sesuai perjanjian, agar Raja Matanari berkenan memberikan putrinya untuk dipersunting Raja Silalahisabungan menjadi istrinya. Kenyatan ini dipenuhi Raja Matanari dengan terpaksa (tidak sepenuhnya ihlas….?).  Ditentukanlah waktu mengantarkan berru ke tempat (huta) pengantin laki-laki (Raja Silalahisabungan) di kampung (huta) Silalahi. Dalam penyerahan upah Raja Silalahisabungan (Pinggan Matio), Raja Matanari memakai ilmu hitam di sungai (binanga) Simaila di Silalahi.  Raja Matanari mengizinkan (mempersilahkan) Raja Silalahisabungan memilih salah satu dari tujuh (7) gadis yang diperlihatkan Raja Matanari. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Silalahisabungan sudah mengetahui bahwa hanya satu orang putri Raja Matanari (yaitu Pinggan Matio). Namun Raja Silalahisabungan cukup cerdik tidak mau mempermalukan calon mertuanya.  Raja Silalahisabungan meminta/ mempersilahkan semua (7) gadis tersebut menyeberangi sungai (binanga) Simaila.  Setelah semua (7) gadis menyeberang sungai tersebut, Raja Silalahisabungan menunjuk (memilih) gadis yang basah pakaiannya waktu menyeberang sungai yaitu salah seorang yang paling buruk rupanya (Cacat Matanya) dari semua (7) gadis yang diperlihatkan Raja Matanari.  Gadis yang dipilih Raja Silalahisabungan tersebut adalah tepat (benar) si Pinggan Matio.  Enam (6) gadis yang lain yang diperlihatkankan Raja Matanari (melalui ilmu hitamnya), tidak basah pakaiannya sewaktu menyeberangi sungai (binanga) Simaila karena mereka ini bukanlah manusia, melainkan Siluman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ranimbani berru Matanari istri Raja Sihaloho&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu ketika setelah para putra Raja Silalahi/Pinggan Matio sudah ada, mereka datang berkunjung ke daerah Balna Sikabeng-kabeng menjumpai mertua/orang tua serta keluarga Mancintaratus Matanari (saudara laki-laki Pinggan Matio).  Mancintaratus mempunyai 2 putra ( Kembung Mballiang dan Mballang Tiktik) dan 3 orang putrid (Ranimbani dan dua orang adeknya). Pinngan Matio melihat,  ada putri Mancintaratus yang bernama Ranimbani berru Matanari (dalam seharihari dipanggil Ranimtamende) yang cocok (diinginkannya) dikawinkan dengan putra tertuanya (yaitu Sihaloho Raja).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guna mewujudkan keinginannya, Pinggan Matio mengambil dahan pohon beringin (jabi-jabi).  Didepan orangtuanya (Raja Matanari) dan keluarga saudaranya (Mancintaratus) Pinggan Matio menenam dahan (ranting) pohon beingin tersebut seraya memohon, berjanji/bersumpah, “ jika dahan/ranting pohon beringin yang ku tanam ini tumbuh, maka tidak ada yang bisa menghalangi putranya Sihaloho Raja mempersunting parumaennya si Rumintang berru Matanari”.  Ternyata apa yang dilakukan dan diharapkan Pingga Matio terwujud baik, yakni dahan/ranting beringin yang ditanam tumbuh subur (selanjutnya pohon ini disebut Tongkat = tungkot ni Pinggan Matio) dan dengan demikian Sihaloho Raja mempersunting Ranimbani berru Matanari menjadi istrinya (marboru tulang).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan: Kemudian, dua adek perempuan si Ranimbani, masing-masing  kawin ke marga Bintang dan marga Maha. Sihaloho Raja marpariban dengan Raja Bintang dan Raja Maha .  Keturunan mereka umumnya tidak boleh saling mengawini satu sama lain (ndang boi mersiolian, berdasarkan ikrar = padan sisada boru sisada anak) karena selain istri mereka bertiga adalah kakak-adek, juga hubungan persaudaraan mereka sangat dekat dan saling membatu melawan musuh pada zaman dahulu kala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pinggan Matio berru Matanari Terlupakan….?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pinggan Matio berru Matanari terlupakan (berobah menjadi berru Padang Batanghari) akibat kesalahan/kekeliruan marga Matanari (tidak kesalahan dari Panitia Tarombo Pendirian Tugu Raja Silalahisabungan). Panitia Tarombo keturunan Raja Silalahisabungan (tahun 1967) bertanya, “masuk tudia do marga Matanari”…?. Penetua (pertua) marga Matanari menjawab, “ Sada do hami dohot Sihotang”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jauh sebelum tahun 1967, Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) sudah dekat hubungan persaudaraannya dengan marga Sihotang (Batak Toba) dan puncaknya adalah terbentuknya Ikatan (Pesta) Silima Tali di Sumbul Pegagan tahun 1957.  Silima Tali teriri dari 5 unsur yaitu (1) Matanari, (2) Manik, (3) Lingga, (4) Sihotang dan (5) Berru.  Keempat marga tersebut diatas menjalin ikatan persaudaraan “Sisada&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak dohot Sisada Boru” yakni keturunan 4 marga tersebut tidak boleh kawin. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum terbentuknya ikatan (pesta) Silima Tali, antara marga Matanari, Manik dan Lingga masih terjadi perkawinan (marsiolian).  Akibat pengaruh ikatan (pesta) Silima Tali, waktu selanjunya sebahagian marga Matanari, Manik dan Lingga mengaku keturunan marga Sihotang, sehinnga pertanyaan Panitia Tarombo Pendirian Tugu Raja Silalahisabungan tahun 1967 sulit dijawab pertua marga Matanari dengan jawaban yang sebenarnya.  (Seberarnya: Matanari, Manik dan Lingga adalah keturunan Pakpak pegagan).  Lebih lanjut, dalam Pustaha Batak (Toba) dituliskan dalam Tarombo marga Matanari, Manik dan Lingga adalah keturunan marga Sihotang, adalah tulisan yang mungkin tanpa disadari menghilangkan keberadaan Pakpak Pegagan. Pakpak  Pegagan adalah bagian dari Proto Batak Utara (Pakpak, Karo dan Gayo) sedangkan Toba adalah bagian dari Proto Batak Selatan (Mandailing, Angkola, Toba dan Simalungun).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Tanding Ilmu Hadatuon Raja Matanari dan Raja Silalahisabungan &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah berlangsung ikatan kekeluargaan yang erat antara Raja Matanari dan Raja Silalahisabungan (hubungan kula-kula-berru), suatu ketika masing-masing mereka menunjukkkan kehebatan ilmu kebatinannya (hadatuon).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Matanari Pakpak Pegagan mengambil suatu batu relatip kecil, dengan tenaga dalam (ilmu hitam…?) batu tersebut digunakan melembar segerombolan burung yang  terbang di angkasa.  Sekali lempar (oleh Raja Matanari) batu tersebut ke gerombolan burung yang terbang tersebut, meneyebabkan semua burung jatuh ke tanah (kena lemparan kah…? ).  Melihat hal ini Raja Silalahisabungan kagum (takut..?) kepada mertuanya Raja Matanari yang mempunyai tenaga dalam (ilmu Hitam…?) yang cukup hebat (pada zaman itu ditakuti…?).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Silalahisabungan kemudian menunjukkan kehebatan ilmu kebatinannya kepada mertuanya Raja Matanari.  Raja Silalahisabungan melihat seekor burung terbang di anggasa.  Dengan ilmu kebatinannya, dia mengangkat tangannya dan memangil burung yang sedang terbang tersebut.  Kemudian burung yang terbang tersebut hinggap (bertengger) di telapak tangan Raja Silalahisabungan (ilmu panubukan binatang…?, ilmu pawang binatang….?}. Melihat hal itu Raja Matanari semakin bangga (dan salut) kepada menantunya Raja Silalahisabungan atas kehebatan ilmu kebatinannya {hadatuon).  Dengan demikian Raja Matanari memberikan kepercayaan kepada Raja Silalahisabungan untuk menguasai (mangarajai) sebahagin tanah orang Pakpak Pegagan  yaitu daerah Silalahi dan sekitarnya. Raja Matanari yakin bahwa Raja Silalahisabungan dapat mengatasi (menghadapi) serangan orang lain ke daerah tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Matanari Pakpak Pegagan dan Raja Silalahisabungan adalah sama-sama yang memiliki ilmu kebatinan yang sangat hebat,  Raja Matanari [keturunan Raja Api atau Raja Gagan], mempunyai ilmu tenaga dalam yang menyerupai tenaga api (ilmu hitam.?) yang lebih condong menyakiti orang, sedangkan Raja Silalahisabungan mempunyai kehebatan ilmu kebatinan yang lebih condong kepada pengobatan (menolong orang).  Diguga,,,,, akibat hal di atas sehingga sekarang keturunan Raja Silalahisabungan relatip sangat banyak dan berpendidikan/pengetahuan lebih tinggi/maju. Sebaliknya keturunan Raja Matanari Pakpak Pegagan relatip sangat sedikit dan berpendidikan/pengetahuan yang sangat tertinggal/rendah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesuai atau mirip dengan legenda di atas, ada legenda saling menunjukkan kehebatan ilmu kebatinan (hadatuon) antara Pitu Guru Pakpak Sindelanan dengan Guru/Datu Melayu di daerah Langkat, sebagai berikut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu saat Pitu Guru Pakpak Sindelanan datang ke daerah Melayu Pesisir pantai laut Sumatera sekitar daerah Langkat, menjumpai Guru/Datu Melayu. Mereka saling menunjukkan kehebatan ilmu tenaga dalam yang mereka miliki.  Pitu Guru Pakpak Sendalanen menunjukkan ilmu tenaga dalamnya (ilmu hitam…?), dengan sekali lempar (dengan satu batu kecil) maka buah- buah dari beberapa pohon kelapa jatuh ke tanah.  Sebaliknya Guru/Datu Melayu dapat mengembalikan semua buah-buah kelapa yang sudah jatuh ke pohonnya (melalui ilmu tenaga dalamnya).  Keadaan ini berlangsung dalam waktu relatip lama (berulang-ulang), tidak ada yang kalah di antara mereka.  Akhirnya mereka saling mengakui kehebatan masing-masing dan saling mengormati atau saling takut satu sama lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Catatan:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami sangat tidak sependapat isi dua tulisan (yang pernah kami baca) yang menyatakan/menggambarkan sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.      Raja/Datu Pakpak mengajari Raja Silalahisabungan di Lae Pondom menjadi Datu (mempunyai ilmu kebatinan) yang hebat hingga dapat menunjukkan kehebatannya (manandangkon hadatuon) hingga ke daerah Toba,…….berarti Datu/Raja (orang) Pakpak lebih hebat (guru) dari Raja Silalahisabungan,…?.                dan sebaliknya ada tulisan yang mengatakan no 2 di bawah ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.      Raja Silalahisabungan dapat melemparkan batu yang ukurannya lebih besar dengan jarak lemparan yang lebih jauh ke arah bukit di Silalahi, sedangkan Raja Pakpak melemparkan batu yang ukurannya lebih kecil dengan jarak lemparan yang lebih dekat (sehingga Raja Pakpak kagum dan akhirnya memberikan tanah kepada Raja Silalahisabungan…….dst). ….berarti Raja Silalahisabungan lebih hebat (jago) dari Raja Pakpak….? Apabila hal ini  terjadi zaman dahulu, maka permusuhan atau pertumpahan darah, saling membunuhlah yang akan terjadi. Hal terakhir ini tidak terjadi, karena masing masing dapat mengakui kehebatan antara satu dengan yang lain (saling menghormati, karena tidak ada yang dikalahkan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walaupun sebahagian keturunan Raja Silalahisabungan tidak mengakui Pinggan Matio adalah berru Matanari (mungkin adalah akibat kesalahan atau kekeliruan marga Matanari waktu lampau), namun kami marga Matanari tetap mengaku dan merasakan bahwa Raja Silalahisabungan adalah amang boru kami, suami namboru kami Pinggan Matio berru Matanari.  Perasaan mengakui seperti hal di atas terutama selalu muncul pada saat-saat kami marga Matanari melintas sepanjang daerah Lae Pondom. Amang boru kami Raja Silalahisabungan adalah Datu Pengobati (mempunyai ilmu kebatinan) yang hebat (dikagumi) oleh keturunan Raja Matanari, di mana Raja Silalahisabungan juga pernah berhasil mengobati penyakit mpung berru Simeratah (istri Raja Matanari).  Mpung berru Simeratah adalah keturunan (berru) dari manusia yang dijumpai masih berpakaian daun-daun berwarna hijau di daerah hutan sekitar Sicikeh-cikeh pada zaman dahulu (meratah artinya warna hijau).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sembahan si Raja Onggu    &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sembahan si Raja Onggu Ruma Sondi -Rumintang berru Matanari diyakini sebagai Penghuni Pohon Beringin yang ditanam (disebut: Tongkat) Pinggan Matio di Balna Sikabeng-kabeng. Raja Onggu Ruma Sondi Dihukum Mati Karena Menghina Pakpak, dan akibatnya istrinya Rumintang berru Matanari mati gantung diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mpung Raja Beak (artinya kaya) Matanari mempunyai berru si Rumintang berru Matanari dengan menantu yang cukup terkenal sejarahnya di Balna dan sekitarnya adalah si Raja Onggu Ruma Sondi (keturunan Silalahisabungan) yang kawin dengan si Rumintang berru Matanari.    Raja Onggu selaku menantu merga Matanari sudah bermukim di Balna dan telah menguasai bahasa suku Batak Pakpak Raja Onggu adalah orang rajin dan bekerja keras sehingga cukup bersahaja (maduma) kehidupan keluarganya..  Raja Onggu adalah orang bersifat terbuka (seperti biasanya sifat suku Batak Toba) dalam berbicara sehari-hari, berbicara seadanya, kurang memikirkan orang lain tersinggung atau tidak karena semua sudah dianggapnya anggota keluarga dekat. Sebaliknya suku Pakpak (termasuk mertuanya marga Matanari) mempunyai sifat atau budaya malas bekerja (bertani) sehingga banyak yang miskin (kurang makan), mau meminta dari anak berru dan bersifat agak tertutup.Karena si Raja Onggu sudah merasa menantu penguasa marga Matanari dan ditambah sifat dan keadaan dia di atas, maka tanpa disadarinya dia telah sering menyalahkan (menghina) pihak kula-kulanya Matanari selaku suku Pakpak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Onggu sudah merasa sangat dekat kepada semua merga Matanari karena dianggapnya sebagai pihak kula-kula (mertuanya) dan tulangnya sebagai Raja Kuta dan Pertua Marga Matanari.  Karena dia dan keluarganya rajin bekerja keras/cukup makan (maduma) maka banyak orang justru tersinggung dengan ucapannya (yang mungkin adalah benar). Misalnya, si Raja Onggu mengatakan pantas kalian (Matanari suku Pakpak/kula-kulanya) miskin/kurang makan karena malas bekerja, bukan..?. Cara pengucapan si Raja Onnggu membuat banyak orang tersinggung atau marah.  Yang dikatakan si Raja Onggu Benar, tapi caranya tidak dapat diterima orang Pakpak pada zaman tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu ketika Raja Beak Matanari yang ada di Balna hendak membangun Rumah Adat Pakpak yang diberi nama “Rumah Sipitu Ruang Kurang Dua Lima Puluh” dan “Bale Silendung Bulan” di Balna Sikabeng-kabeng.. Tukangnya atau arsiteknya, selain orang suku Pakpak juga cukup banyak suku Batak Toba yang terutama yang didatangkan dari daerah Silalahi (termasuk si Raja Onggu). Pada waktu pembangunan Rumah Adat merga Matanari di Balna hampir selesai, si Raja Onngu lagi-lagi melakukan kesalahan kepada marga Matanari selaku Suku Pakpak. Raja Onggu (mungkin tidak menyadari) telah mengucapkan kata-kata penghinaan kepada marga Matanari (secara umum suku Pakpak ikut dihinanya). Raja Onggu mengatakan: “orang Pakpak Bodoh, massya gagang parang/pisaunya lurus-lurus”, tidak seperti gagang parang/pisau batak Toba ada sedikit membengkok di ujungnya. Sehingga memakai parang/pisau suku Toba adalah enak, tidak was-was pisau/parang terlepas dari tangan saat dipakai (sebaliknya parang/pisau orang pakpak). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernyataan tersebut di atas, diucapkan si Raja Onngu dengan cara yang tidak tepat dihadapan orang-orang suku Pakpak yang ikut serta sebagai Tukang Rumah Adat di Balna dan juga terdengar pertua marga Matanari pemilik rumah tersebut.  Pernyataan si Raja Onggu tersebut membuat orang-orang suku Pakpak marah, atau tidak dapat diterima (dibenarkan) suku Pakpak pada waktu itu.  Akibat kesalahannya tersebut, para penetua memutuskan:  “si Raja Onngu harus dihukum mati”, walaupun si Rumintang berru Matanari (istrinya) sudah menyembah-nyembah penetua, memohon agar suaminya tidak dihukum mati.  Raja Kuta (merga) Matanari waktu itu pada posisi yang sulit dalam mengambil keputusan, di mana yang akan dihukum mati (di seat) didepan masyarakat umum adalah seorang menantu marga Matanari, yaitu si Raja Onggu pomparan Silalahisabungan dengan Pinggan Matio berru Matanari. Tetapi demi menjunjung tinggi Hukum Adat, marga Matanari selaku Raja Kuta tidak memperdulikan permohonan si Rumintang berru Matanari (tidak dapat mentolerir/mengampuni kesalahan si Raja Onggu  tersebut).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena si Rumintang berru Matanari tidak dapat menerima kenyataan tersebut, dia menangis terus-menerus (mangandungi) memanggil-manggil Arwah Pinggan Matio berru Matanari ( istri Raja Silalahisabungan) dan dia menjadi bringas melawan orang tua dan saudaranya merga Matanari.  Akibatnya si Rumintang berru Matanari di ikat pada pohon Beringin (jabi-jabi yang ditanam Pinggan Matio).  Setelah dilakukan hukuman mati terhadap si Raja Onggu, si Rumintang berru Matanari terus menerus menangis (mangandungi) di bawah pohon beringin tempat dia diikat. Keesokan harinya ditemukan si Rumintang berru Matanari telah mengahiri hidupnya dengan cara gantung diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejadian ini sangat menyedihkan pada marga Matanari terutama pihak mertua kandung si Raja Onggu (bapa/ibu si Rumintang berru Matanari).   Sifat kerja keras, rajin dan terbuka dari si Raja Onggu, sebenarnya adalah contoh yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan dan kemajuan kuta (desa) Balna dan sekitarnya pada zaman tersebut. Setelah dilakukan hukuman mati kepada si Raja Onngu, darahnya dioleskan pada gorga (ornament) Rumah Sipitu Ruang Kurang Dua Lima Puluh. Kemudian mayat si Raja Onggu dan si Rumintang berru Matanari diizinkan penetua marga Matanari di bawa ke Silalahi atas permintaan pihak keluarga si Raja Onggu Ruma Sondi. Keputusan Hukum Adat ini menimbulkan rasa kesedihan dan penyesalan pada keluarga marga Matanari dan keturunan Silalahisabungan.  Lebih dari perasaan sedih dan penyesalan, wajar timbul perasaan benci dari keluarga si Raja Onggu Ruma Sondi dan keturunannya terhadap marga Maatanari dapat  dimaklumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akibat peristiwa itu, maka Rumah Adat Sipitu Ruang Kurang Dua Lima Puluh tersebut tanggung selesai dipahat/diukir ornamennya pada waktu itu, tetapi tidak pernah lagi diselesaikan hingga Rumah Adat tersebut hancur disebabkan Badai Angin Topan  pada tanggal 20 Oktober 1984 sekitar jam 17.30 WIB.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kematian si Raja Onggu Ruma Sondi dan si Rumintang berru Matanari adalah di luar kewajaran, maka marga Matanari dan masyarakat di Balna dan sekitarnya menyakini (kepercayaan animisme)) bahwa pohon beringin (jabi-jabi) yang ditanam Pinggan Matio berru Matanari beberapa ratus tahun silam adalah dihuni oleh arwah/begu si Raja Onggu dan Rumintang berru Matanari (disebut sehari-hari; Sembahan si Raja Onggu). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pohon beringin (jabi-jabi) ini mati layu kemudian setelah dilaksanakan Pesta Peresmian Tugu Silalahisabungan tahun 1981, di mana istri Raja Silalahisabungan tertulis pada Tugu tersebut bukan Pinggan Matio berru Matanari melainkan ditulis berru  Padang Batanghari.  Kebetulan, sebelum pohon beringin tersebut mati layu, salah seorang istri marga Matanari (boru Sijabat) mengambil ranting pohon beringin tersebut dan menanamnya, sekarang sudah cukup besar, tetapi tidak ada kenyakinan masyarakat bahwa pohon ini dihuni arwah/begu si Raja Onggu-si Rumintang berru Matanari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maaf…..Mungkinkah…..kejadian di atas, salah satu penyebab sebahagian keturunan Raja Silalahisabungan, bersih keras menolak marga Matanari sebagai hula-hula pomparan ni Raja Silalahisabungan dan menyatakan Pingga Matio bukan berru Matanari….?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan akibat Hukum Adat yang dijalankan keturunan Raja Matanari tersebut di atas, marga Matanari mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga pomparan Raja Silalahisabungan (khusus kepada si Raja Onggu Ruma Sondi-Rumintang berru Matanari dan keturunannya serta keluarganya).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Rumah Sipitu Ruang Kurang Dua Lima Puluh&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rumah ini adalah rumah berornamen budaya Pakpak yang dibangun Raja Beak (kaya) Matanari (sekitar generasi ke-7 atau ke-8) ayah dari si Rumintang berru Matanari, mertua dari Raja Onggu Ruma Sondi. Diduga nama rumah ini diberikan Raja Beak Matanari, berkaitan dengan kejadian/kematian (berkurang) dua anggota keluarganya (Rumintang berru Matanari + Raja Onggu) pada saat pembangunan rumah tersebut.  Pembangunan rumah tidak dilanjutkan lagi hingga hancur disebabkan Badai Angin Topan  pada tanggal 20 Oktober 1984 sekitar jam 17.30 WIB.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sipitu Ruang adalah gabungan dua kata yang mempunyai makna penting pada daerah Pakpak dan Karo (terutama masa lampau).  Sipitu Ruang diduga berhubungan dengan keyakinan: “untuk menghormati Pitu Guru Pakpak Sendelanen”. (pitu = tujuh), yakni 7 guru ilmu kebatinan yang masing-masing mempunyai keahlian khusus (spesialis} dalam bidang ilmu kebatinan yang turun-temurun dari guru kepada murid termahir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rumah Sipitu Ruang Kurang Dua Lima Puluh dan Bale Silendung Bulan, sudah pernah direncanakan (diusulkan) Pemerintah Kabupaten Dairi ke Pemerintah Propinsi Sumatera Utara, untuk dipugar sebagai bukti peninggalan budaya Pakpak (Situs Rumah dan Bale Adat Sub Suku Batak Pakpak), namun sampai sekarang belum terwujud. Kita sangat mengharapkan rencana (usulan) tersebut dapat diwujudkan Bapak Bupati Dairi melalui perjuangan yang terus-menerus dari pihak (dinas/departenen) Kebudayaan dan Parawisata serta anggota DPR Kabupaten Dairi.  Situs ini dapat menjadi lokasi tujuan Wisata (selain Taman Iman yang sudah ada) guna meningkatkan Pendapatan Daerah.  Harapan dan cita-cita ini…………..Semoga Berhasil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bale Sinendung Bulan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Balai (bale) ini dibangun pada lokasi yang berhadapan dengan Rumah Sipitu Ruang Kurang Dua Lima Puluh. Balai ini digunakan sebagai tempat melaksanakan rapat para penetua untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.  Tiang (pilar) Bale Silendung Bulan adalah  tempat menancapkan rahang dan gigi (tengkorak) para musuh yang telah dibunuh, sebagai symbol yang menunjukkan kekuatan raja (pertua) dan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Dengan symbol tersebut diharapkan para orang pendatang tidak sembarangan melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum adat atau pertaturan yang berlaku di daerah tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada serambi Bale Silendung Bulan adalah tempat membunuh (maneat) dan memasak daging manusia musuh yang dianggap kuat/hebat.  Daging manusia musuh yang dianggap kuat/hebat dimakan dengan keyakinan (tujuan), agar ilmu kebatinan manusia kuat tersebut berpindah ke dalam tubuh mereka, Dengan demikian tidak sembarangan manusia, dagingnya.dimakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Siberru Taren Matanari istri Raja Manungkun Pintu Batu&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siberru Taren Matanari istri Raja Manungkun Pintu Batu mendapat Rading Berru dari Raja Tarren Matanari. Rading berru tersebut adalah parhutaan/lahan di Temberro (arah Selatan dari Balna Sikabeng-kabeng) yang diberikan marga Matanari kepada Raja Manungkun Pintu Batu (keturunan Raja Silalahisabungan) dan keturunannya..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Tanda-tanda Kejadian di Silalahi dan Balna Sikabeng-kabeng&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hubungan batin antara kula-kula (Matanari) dengan berru/berre (Raja Silalahisabungan/keturunannya adalah sangat kuat dan dekat sejak masa lampau, sehinga  keturunan Raja Matanari mengetahui beberapa legenda (turi-turian) yang berkaitan dengan Pinggan Matio berru Matanari, yakni antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.       Apabila ada melihat kayu berbentuk dayung sampan (hole) hanyut di sungai (lae) Patuak adalah merupakan tanda-tanda ada kejadian yang kurang baik di Silalahi (misalnya ada solu = sampan) yang tenggelam di Tao Silalahi.  Dengan tanda-tanda ini akan terjadi kontak batin, maka otomatis (tanpa menunggu kabar pemberitahuan) otomatis keluarga Matanari berangkat ke Silalahi membawa beras sipirni tondi tujuh (7) karung (tandok bolon = bahul-bahul) untuk sipitu turpuk keturunan Raja Silalahisabungan.  Hal ini diyakini berdasarkan kedekatan hubungan batin, sebab sungai (lae)Patuak adalah berada di atas Tao Silalahi (tidak ada aliran air dari Silalahi ke Balna Sikabeng- kabeng).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.       Apabila di sungai di huta Silalahi ada terlihat gabah hampa (lapung) padi terapung, hal ini diyakini merupakan tanda sudah panen padi di Balna Sikabeng-kabeng. Dengan tanda ini,otomatis keluarga berru/ berre datang dari Silalahi dengan membawa ikan (dekke) pitu lanjaan (tujuh pikulan) sebagai oleh oleh untuk kula-kula.  Oleh-oleh dibagi atas 4 pikulan untuk kuta Balna Sikabeng-kabeng dan 3 pikulan untuk Kuta Gugung. Mereka datang untuk membantu panen padi. Tanda-tanda ini terlihat hanyalah berdasarkan kedekatan hubungan batin, sebab tidak ada sungai yang mengalir dari Balna Sikabeng-kabeng ke Tao Silalahi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sembahan Bendar Muncu&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diantara kuta Kabo dan kuta Pernantiin terdapat saluran irigasi yang relatip besar dan airnya cukup deras alirannya yang diberi nama Bendar Muncu.  Sampai sekitar tahun 1950 an lokasi ini dianggap keramat, sakral dan berbahaya. Dilokasi inilah Parmangmang (Tokoh kampung = Dukun) memuja dan memohon perlindungan bagi keluarga Matanari Kuta Gugung yang masih menganut agama Animisme dan menjalankan budaya tradisional.  Sebelum terlaksana musim tanam Padi, maka Parmangmang memuja dan memohon, agar kiranya hama yang menyerang tanaman Padi dijauhkan sehingga hasil panen berlimpah serta masyarakat dijauhkan dari penyakit yang mematikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Parmangmanglah yang mempunyai hak pertama menanam padi, dan setelah selasai boleh diikuti oleh masyarakat biasa menanam padi di lading masing-masing, demikian juga saat panen.  Setelah selesai menanam Padi, semua masyarakat harus berpuasa tinggal diam di rumah masing-masing, agar hama tanaman tidak menyerang kemudian hari  (berdasarkan kenyakinan agama animisme dan budaya tradisional).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Lokasi Terlarang Dimasuki Masyarakat&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdapat lahan yang cukup luas (sekitar 4 hektar) yang tidak ada masyarakat yang berani memasukinya, karena dianggap pada tanah lahan tersebut terdapat GADAM.  Menurut ceritra, bahwa kakek (mpung) dari keturunan Raja Matanari menguburkan (menyembunyikan) berbagai alat-alat bersejarah dan harta karun di lahan yang 4 hektar tersebut.  Kemudian, tidak ada orang yang berani mengambilnya, karena diyakini waktu barang-barang itu dikuburkan, kemudian ditaburkan pada tanah tersebut Gadam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gadam adalah guna-guna yang menyebabkan gatal-gatal kulit hingga membusuk dan mematikan manusia. Menurut keyakinan masyarakat, bila kena Gadam tersebut, hanya dapat diobati oleh orang yang memasangnya (meraciknya), karena Gadam mempunyai kunci rahasia (specifik).  Barang-barang ini dikuburkan mpung keturunan Raja Matanari, adalah karena dia takut barang tersebut diambil bangsa Belanda pada zaman penjajahan. Agar barang itu tidak bisa di ambil (digali), maka dijaga dengan menaburkan guna-guna Gadam pada tanah galian tersebut. Kakek (mpung) keturunan Raja Matanari tersebut sudah meninggal, tetapi beliau tidak memberitahukan kunci rahasia Gadam tersebut kepada keturunannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah pendapat (keyakinan) ini adalah salah..?, benarkah Gadam tidak dapat diobati secara medis…?. Masih adakah cara mendapatkan barang-barang peninggalan keturunan Raja Matanari tersebut…?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sembahan Liang Besi dan Liang Nankendeng&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Liang Besi dan Nankendeng masing-masing adalah tempat menyerupai gua kecil di samping air jeram di sungai (lae) Patuak dan lae Manalsal. Pada masa lampau, masing-masing tempat ini diyakini para leluhur (sesuai kepercayaan animisme) dihuni oleh mahluk gaib.  Tempat ini diyakini sebagai tempat melakukan semadi, memuja roh gaib, meminta/mendapatkan ilmu kebatinan, untuk mendapat ilmu kekebalan, ilmu hitam/siluman dan lain lain. Orang-orang yang belajar ilmu kebatinan melakukan penyelaman di jeram air sungai dekat Liang besi dan liang nankendeng  (lae Patuak/lae Manalsal) untuk mendapatkan sesuatu benda yang diyakininya menjadi jimat (benda berkekuatan gaib).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah catatan Sejarah dan beberapa Legenda pada merga Matanari Pakpak Pegagan berdasarkan ceritra dari mulut ke mulut yang didengar dan diingat penulis semenjak penulis masih anak-anak (umur sekitar 4-5 tahun).serta beberapa tulisan pertua (penetua) merga Matanari. Semoga yang dipaparkan penulis ini dapat berguna, dan jikalau ada kekeliruan dalam tulisan ini, maka penulis lebih dahulu mohon maaf dan dengan senang hati penulis dapat menerima kritik demi perbaikannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan untuk dikaji lebih lanjut:……?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentang Persamaan dan Perbedaan Sejarah pada marga Matanari dengan Keluarga Djauli Padang Batanghari &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan: Mohon Maaf…., yang sebesar-besarnya kepada marga Matanari dan marga Padang Batanghari serta keturunan Raja Silalahisabungan jika tulisan  di bawah ini tidak dapat mereka terima adanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau ada kalimat menyebut Keluarga Djauli Padang Batanghari berarti tidak semua marga Padang Batanghari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Marga Matanari Pakpak Pegagan dan keluarga Djauli Padang Batanghari (Pakpak Simsim..?) sama-sama mengaku punya namboru bernama Pinggan Matio istri Raja Silalahisabungan.  Mengapa dapat terjadi demikian…..?. Apa persamaan dan perbedaan di antara mereka,..?, antara lain adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.      Marga Matanari mempunyai tempat tinggal asal-usul (sebagai raja kuta dan pengemban hak Sulang Silima) di Balna Sikabeng-kabeng (daerah Pakpak Pegagan) di atas huta Silalahi Nabolak.  Marga Padang Batanghari (keluarga Djauli) mempunyai tempat tinggal asal-usul di Sileuh yang mendapat tanah tempat tinggal berupa “rading berru”  (warisan untuk anak perempuan) dari marga Solin Pakpak Simsim.  Siapa raja kuta di Sileuh (kecamatan Kerajaan kabupaten Pakpak Bharat)…?, marga Padang Batanghari atau marga Solin…?.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.      Sejak dahulu sampai sekarang marga Matanari adalah penghuni dan raja kuta Balna Sikabeng-kabeng.   Djauli Padang Batanghari (dan diikuti putranya Pendeta Abednego) secara tertulis (masing-masing 25 Nopember  1967 dan 15 Augustus 2003) mengaku leluhur mereka sampai generasi ke-8 mulai si Lantak tinggal di Balna Sikabeng-kabeng…?.  Surat pengakuan tersebut disampaikan kepada keturunan Raja Silalahisabungan (bahan dasar/awal Pinggan Matio menjadi berru Padang Batanghari), tetapi tidak ditembuskan kepada marga Matanari selaku raja kuta (dan tidak diumumkan di mas-media), tetapi mengapa keturunan Raja Silalahisabungan dapat mengakui isi surat pernyataan tersebut…?.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.      Menurut marga Matanari, yang berjumpa dengan Raja Silalahisabungan (di Silalahi) adalah dua orang hulubalang (orang kepercayaan) Raja Matanari yang membawa Oltep (alat senjata tradisional).  Orang yang sering menggunakan oltep di sebut Paroltep. Menurut Djauli Padang Batanghari, orang berjumpa dengan Raja Silalahisabungan adalah Si Lantak (Paroltep).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.      Apakah Paroltep versi marga Matanari sama (atau berbeda) dengan versi Djauli Padang Batanghari…?.  Mungkinkah zaman dahulu dalam satu kuta Balna Sikabeng-kabeng (wilayah Pakpak Pegagan) terdapat beberapa orang (dengan marga berbeda) sama-sama bergelar Paroltep…?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5.      Siapakah dua orang hulubalang (Paroltep) Raja Matanari..?, apakah mereka orang  (marga) lain atau anak kandung Raja Matanari….?. Jika orang lain, marga apa mereka….?, apakah seorang diantaranya  adalah Si Lantak..?. Pada zaman tersebut lebih logis, jika hulubalang adalah anak kandung kepala suku (Raja Matanari),..?. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6.      Dalam Trombo, Raja Matanari hanya mempunyai satu putra (Marcintaratus) dan satu putri  (Pinggan Matio). Jika hulubalang adalah putra Raja Matanari, berarti Marcintaratus adalah salah seorang dari hulubalang, dan seorang lagi siapa …?,, mungkinkah dia adalah Si Lantak,,,?,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7.      Adakah yang disembunyikan dalam turi-turian sejak generasi pertama sampai generasi ke-8..?  Apakah antara keturunan dari dua hulubalang Raja Matanari pada generasi ke-8 atau 9 berperang….?, sehingga ada ceritra atau  tarombo  yang disembunyikan atau dilupakan mereka masing-masing…?. Mungkinkah keturunan dari salah seorang hulubalang kalah berperang, yang menyebabkan kemudian pergi merantau ke  daerah lain dan akhirnya merobah marganya menjadi marga lain..?.....ke Sileuh .menjadi marga Padang Batanghari…?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8.      Apabila dua orang hulubalang (disebut Paroltep) adalah putra kandung Raja Matanari, berarti Marcintaratus abang beradik dengan Si Lantak (Paroltep)…?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9.      Keturunan mereka berperang pada generasi ke-8….?.  Keturunan salah seorang tetap tinggal di Balna Sikabeng-kabeng (kemudian menyusun Tarombonya tersendiri), sedangkan keturunan yang seorang lagi terusir ke daerah lain sehingga mengganti marga mereka)….?. ke Sileuh menjadi marga Padang Batanghari….?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;10.  Mungkinkah ada talian darah (gen = sifat keturunan) antara marga Matanari dengan keluarga Djauli Padang Batanghari…?..  Jika ternyata ada talian darah di antara mereka, maka Test-DNA (yang diusulkan beberapa orang keturunan Raja Silalahisabungan) hasilnya akan membingungkan peneliti menarik kesimpulan....?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;11.  Menurut Pendeta Abednego Padang Batanghari bahwa akibat perang (geraha) yang menyebabkan 99 rumah terbakar, banyak orang terbunuh, sebahagian melarikan diri ke Tanah Karo, ke Boang di Aceh, sebahagian kembali ke Sileuh serta sebahagian marga Padang Batanghari ditawan (dijadikan budak) dan kemudian merobah marganya menjadi marga Matanari (penyerang). Apakah benar beberapa Matanari di kuta Silencer mengaku keturunan leluhur Djauli Padang Batanghari…? Benarkah mereka adalah keturunan tawanan (budak) penyerang  (marga Matanari)…?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;12.  Sampai sekarang belum ada marga dari Boang-Acaeh dan Tanah Karo yang mengaku leluhur mereka sampai generasi ke-8 berada di Balna Sikabeng- kabeng (yang mengaku hanyalah Djauli Padang Batanghari dan keluarganya).  Informasi lisan yang pernah kami ketahui bahwa di daerah Subulussalam-Aceh .dijumpai keturunan bermarga Matanari (tetapi nama mereka tidak lagi bermarga), juga ke daerah Gayo- Alas dijumpai  keturunan diduga dahulu bermarga Matanari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;13.  Pinggan  Matio menjadi istri Raja Silalahisabungan adalah sebagai upahnya yang telah berhasil mengobati penyakit istri Raja Matanari.  Menurut Djauli Padang Batanghari Si Lantak (Paroltep) memberikan putrinya Pinggan Matio karena simpati dan kasihan kepada Raja Silalahisabungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;14.  Raja Matanari dalam penyerahan Pinggan Matio adalah dengan cara menguji hadatuon ni Raja Silalahisabungan (yakni Raja Silalahisabungan disuruh memilih salah seorang dari 7 gadis yang diperlihatkan Raja Matanari melalui ilmu hitam. Dari 7 gadis tersebut hanya satu orang manusia sedangkan yang 6 lagi adalah siluman).  Sebaliknya Paroltep (Si Lantak) yang mempunyai 7 anak gadis (manusia) mempersilahkan Raja Silalahisabungan untuk memilih salah seorang dari 7 gadis tersebut (Paroltep atau si Lantak tidak memakai ilmu hitam..?).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;15.  Raja Matanari dan keturunannya sampai sekarang sudah 19 atau 20 generasi. Si Lantak (Paroltep) sampai cucu Djauli Padang Batanghari sudah 20 generasi. Padang Batanghari sampai Djauli Padang Batanghari sudah 28 generasi, maka cucu Djauli Padang Batanghari sudah generasi ke-30…?.  . betulkah….?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;16.  Adakah hubungan trombo antara marga Padang (Padang  Jambu) dengan marga Padang Batanghari…?. Apakah anak cucu dari Padang Batanghari (lihat Tarombo): Si Jambu maksudnya adalah marga Padang…?. …dan Si Pinem maksudnya adalah marga Pinem (suku Karo) yang ada di kecamatan Tanah Pinem kabupaten Dairi…?.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;17.  Apakah sampai sekarang, marga Padang, marga Sitakar, dan marga Tinendung telah mencapai 30 generasi seperti halnya marga Padang Batanghari…?. Apakah sampai sekarang marga Solin (mertua Padang Batanghari) telah mencapai 31 generasi..?.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;18.  Apakah dari beberapa pertanyaan di atas, dapat menggugah hati dan pikiran keluarga dan keturunan Djauli Padang Batanghari/ Pendeta Abednego Padang Batanghari untuk berkenan merevisi tulisannya yang telah mereka sampaikan kepada keturunan Raja Silalahisabungan, serta dapat memberikan tembusnya  kepada marga Matanari….?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;19.  Pernyataan dan Kesaksian Pribadi oleh Dangkit Sihaloho (Raja Daotan) yang ditulis Maruba Sihaloho (Juni, 2008,Jakarta) menyatakan/menjelaskan:   “ Djauli Padang Batanghari, pada waktu seminar tahun 1968 di Silalahi Nabolak dengan memukau, menarik pedang  dari sarungnya di pinggangnya dan melantunkan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a.        Kemasyuran dongeng dan legenda parhulahulaan Raja Silalahisabungan dengan Silantak Padang Batanghari, dan perkawinannya dengan Pinggan Matio.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b.        Kesedihan terusir dari Balna Sikabeng-kabeng, harus menyusuri sungai menggunakan batang-batang (potongan batang kayu) dengan pegangan “padang” (sejenis rumput) kembali ke huta asal Sileuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c.        Pernyataan bahwa Padang Batanghari adalah sama dengan Pasaribu, yang kemudian membuat keturunan Raja Silalahisabungan yang hadir pada seminar tersebut tanpa ragu sepakat meresmikan Padang Batanghari adalah hula-hula Raja Silalahisabungan”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendeta Abednego Padang Batanghari menyatakan/menuliskan (15 Augustus 2003), bahwa leluhur mereka bukan Pasaribu, malainkan adalah orang Batak Pakpak yakni keturunan Parrube Haji…….. mana yang benar…ya..?     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah ada kaitan sejarah nama marga leluhur (mpung) dari Djauli Padang Batanghari dengan ceritra potongan batang kayu (batang-batang) dan sejenis rumput (padang) sarana yang digunakan sewaktu terusir dari Balna Sikabeng-kabeng hingga pergi/kembali ke Sileuh…?,……mohon maaf jika kami terlalu lancang bertanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syukurlah selamat leluhur Djauli Padang Batanghari menelusuri sungai Lae Patuak (sungai yang paling dekat ke Balna Sikabeng-kabeng) dengan bantuan sarana batang-batang dan padang, karena sungai ini mempunyai aliran air yang deras (kencang) menuju Lae Renun, dan pada waktu itu sungai Lae Patuak adalah cukup besar (tidak seperti sekarang pasca proyek PLTA ….?).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;20.  Berdasarkan pengakuan Djauli Padang Batanghari tersebut di atas, kemiripan ceritra (legenda) Pinggan Matio dan Paroltep versi marga Matanari dengan versi Djauli Padang BTH, dan kekurang pastian keberadaan beberapa keturunan Raja Matanari (yang pergi merantau karena sakit hati/perang saudara..?)….. Mungkinkah…?, layak diduga bahwa  dua hulubalang (disebut Paroltep) Raja Matanari adalah putranya kandung yaitu (1) Marcintaratus (keturunannya adalah marga Matanari yang kampungnya di Balna Sikabeng-kabeng dan sekitarnya) dan adiknya (2) si Lantak (Paroltep) leluhur Djauli Padang Batanghari (……pada generasi ke-8 atau ke-9 keturunannya kalah perang saudara sehingga pergi/terusir ke Sileuh…..seterusnya merobah marganya menjadi marga Padang Pabatanghari yang sudah ada di Sileuh/yakni keturunan si Sebar Padang Batanghari..?)…. Jika dugaan ini ternyata benar (dapat diterima marga Matanari dan keluarga Djauli Padang Batanghari)…….berarti ada talian darah di antara mereka (Test DNA akan sia-sia hasilnya…?)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal inikah penyebab, kedua kelompok (marga) sama-sama mengaku mempunyai namboru Pinggan Matio…?, mereka sama-sama sehat pergi dan pulang dari Silalahi karena sama-sama benar (tidak berbohong)……ingat di Silalahi ada Batu Gadap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Njuah-njuah….jayalah marga Matanari dan keluarga Djauli Padang Batanghari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis menyadari, bahwa tulisan ini tidak luput dari kekurangan (aneh tapi nyata…?), dan apabila ada terdapat kesalahan/kekeliruan atau hal-hal kurang berkenan, maka penulis mohon maaf kepada semua halayak terlebih-lebih kepada marga Padang Batanghari, keturunan Raja Silalahisabungan dan marga Matanari.  Tulisan ini bertujuan untuk memancing atau meminta masukan (kritik) demi perbaikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;NJUAH-NJUAH….HORAS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hormat saya Penulis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawaller Matanari, Ir. MS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Putra Pendeta Ds. Josep (mpung Sich Jerry) Matanari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketua PERMANA (Perpulungen Matanari, Berru/Berrena) Medan dan Sekitarnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kontak:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mobile 081361149346   Email: &lt;a href="mailto:matanarij@yahoo.com"&gt;matanarij@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan Pendapat tentang Marga Matanari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya.., syah-syah saja…asal dengan sikap kepala dingin, berjiwa besar, santun dan rindu akan kebenaran serta mengakui kebenaran itu adalah tentatif (absolute hanya milik Tuhan).,,,Maka untuk itu saya sampaikan bahan diskusi kita berikut ini:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.  Informasi lisan dari Drs. Rippe  Matanari, MSi. [putra Tarima (mpu Tresna) Matanari] kepada penulis, bahwa bapak tuanya kandung (Rehniate Matanari ayah kandung Drs Hery Matanari) pada sekitar tahun 1970 telah menulis Tarombo dan Beberapa Legenda pada marga Matanari selaku orang Pakpak Pegagan (tulisan tersebut masih sedang dicari dimana keberadaannya). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2,  Tarombo Matanari (yang ditulis 3 Juni 1977 oleh Torsa M (mpu Demak), Jamaruli (mpu Ranap) dan   Lumban (mpu Ramos) Matanari, dapat dilihat bahwa  marga Matanari tidak anak ni Sihotang.. melainkan orang Pakpak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.    Sekitar tahun 1976 Torsa M (mpu Demak)  Matanari, secara lisan (di Sidikalang dan di Jumateguh) menyatakan (didengar penulis) bahwa marga Matanari adalah orang Papak Pegagan (bukan keturunan Sihotang).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.  Tarombo Mpu Kerahan Matanari (keturunan Mbalang Tiktik -Matanari Kuta Gugung) yang tertulis, disusun ulang oleh Banua (mpu Ruben) Matanari dari hasil yang mereka susun secara bersama-sama dengan  Pendeta Ds Josep (mpu Sich Jerry) Matanari serta Togi Matanari, SPd. sekitar tahun 1992.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5.   Togi Matanari, SPd. mengaku, bahwa pada point 4 di atas, Tarombo Matanari sengaja tidak ditulis secara keseluruhan, dengan alasan dari “Pendeta Ds Josep (mpu Sich Jerry) Matanari”, jika diberitahukannya asal-usul Matanari yang sebenarnya maka akan berkelahilah kita keturunan Raja Matanari (ai molo hupaboa sasintong na gabe marsiseatan do hita pomparan Raja Matanari), jadi kemudian harilah setelah saya meninggal, kalian tuliskan yang sebenarnya yakni Matanari Pakpak Pegagan bukan anak Sihotang, (dung mate pe au muse, asa surat hamu Tarombo Matanari  sasintong na, Matanari Pakpak Pegagan do ndang anak ni Sihotang). Beliau Pendeta Ds Josep (mpu Sich Jerry) Matanari (alm) tidak berkenan menyaksikan pertentangan (perpecahan) marga Matanari saat sekarang, (benar terjadi) di mana beliau telah meninggal dunia tanggal 19 November 1999, …..apakah kejadin ini dapat sebagai unsur pendukung….?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6.    Sejarah Asal Mula Matanari menjadi Mertua Silalahisabungan yang Kawin dengan Si Pinggan Matio berru Matanari dari Balna Sikabeng-Kabeng  Pegagan, ditulis  tgl 01 oktober 2003 oleh 31 orang Tokoh (pertua) marga Matanari., menyatakan Matanari Pakpak Pegagan bukan anak Sihotang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7.   Buku Tarombo Matanari Pakpak Pegagan (ditulis 12 Oktober 2002 oleh Pistar (mpu Sofyan) Matanari mewakili  (berdasarkan kesepakatan) 27 orang Tokoh atau Pertua marga Matanari .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8.  Sejak 01 Augustus 2008 sampai sekarang, saya penulis telah menulis Tarombo Matanari Pakpak Pegagan, yang merupakan hasil gabungan dari point 2 sampai 7 di atas, serta informasi lisan dari perorangan marga Matanari (konsep sudah ada beredar baik di internet maupun bentuk copy tulisan, tinggal menungggu waktu kapan kita dapat lakukan Seminar atau Pertemuan Matanari membuat keputusan bersama……..moga terlaksana ya,,kan.?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9.   Tetapi Ada menyatakan, bahwa Matanari adalah anak Op.Sagapulo (anak dari Op.Borsak) Sihotang Pardabuan Uruk (generasi ke-6 dari Si Raja Oloan)…..?, namun “Tarombo Matanari sebagai anak Sihotang” dalam bentuk tertulis (oleh para pertua Matanari) hingga saat ini saya belum pernah melihatnya..,  jika ada,…..tolong di sampaikan kepada kita Matanari   ya….?., kita sedang menunggu semua tulisan (karya) keturunan Raja Matanari yang terkait Tarombo,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;10.  Sesuai point 9 di atas, saya mengajukan beberapa pertanyaan di bawah ini, untuk dapat kita masing-masing menjawabnya, menulisnya dan kalau boleh disebarluaskan ke halayak (atau hanya Matanari saja) yakni.:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a.    Matanari sudah ada sekitar 20 generasi….., jika Sagapulo Sihotang Pardabuan Uruk adalah generasi ke-6 dari Si Raja Oloan ……, maka Matanari sekarang sudah generasi ke 26….?, sudakah ada Sihotang generasi ke-26 dari Si Raja Oloan…?.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b.    Generasi ke-15 sampai  sekarang, nama-nama pertua kita marga Matanari sudah banyak namanya dari bahasa Batak Toba (karena marga Matanari umumnya telah kawin dengan orang Batak Toba, bukan…?),  tetapi generasi-1 sampai 12 nama- nama mpung kita Matanari relatip semuanya dari bahasa Pakpak (missal; Kembung Mbaliang, Mbalang Titik, Taren, Kaing, Kerahan, Kepar, Mblangen-jodi, dll)…kenapa…?.  Mustahil Sihotang orang Batak Toba (orang hebat dahulu maka dapat merantau ke tanah Pakpak Pegagan) tidak ada memberikan nama dari anak atau cucu atau cicitnya dari bahasa Batak Toba….bukan,,,,?,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c.   Jika Raja Matanari anak Sihotang, siapakah yang mengajari mereka berbahasa Pakpak dan Adat Pakpak (Daliken Sitellu dan Sulang Silima)….?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d.   Marga Matanari satu-satunya yang mempunyai Sulang Silima (marga Penegak Hukum Adat Pakpak) yang berlaku untuk semua marga yang ada di daerah sekitar Balna Sikabeng-kabeng (termasuk untuk marga Sihotang….. bukan..?)…., kenapa marga Matanari tidak mengikutsertakan Sihotang dalam hak Sulang Silima…? (anak durhaka…. ya…?).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e.  Tidak ada marga Matanari mempunyai/mendapat hak tanah di bona pasogit marga Sihotang (huta Sihotang di kabupaten Samosir)….bukan..?.  tetapi sebaliknya marga Matanari ada memberikan tanah dan parhutaan kepada marga Sihotang (yaitu Huta Sihotang dekat daerah Balna Sikabeng-kabeng….ya kan..?)….Matanari memberian tanah/parhutaan kepada bapaknya atau kakeknya…?, mustahil lahhhh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;f.    Sudah sangat banyak saya mengikuti pesta Adat, belum pernah saya mendengar an melihat langsung marga Sihotang memanggil/memberikan jambar ni marga Matanari dan berru/berre Matanari.  Sebaliknya Matanari selalu memberikan/manjouhon jambar ni marga Sihotang dan boruna, jambar ni keturunan Si Raja Oloan dan Boruna, jambar ni marga Marbun dan boruna (dongan marpadan ni marga Sihotang), jambar ni bere dan ibebere Simanjuntak Sitolu Sada ina (bere hasian ni marga Sihotang)………. amang….inang hansit nai marga Matanari on ate…?, manetek do ilu ngku ditingki na manurat on ampara/ito.,.  Yah… mungkin ada juga marga Matanari yang mendapat jambar atau tumpak dari yang saya sebutkan marga-marga diatas….., tetapi pasti setelah dia mengaku marga Sihotang….ya ..kan…?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;g.    Berdasarkan point 8 f di atas, berarti ndang benar-benar marga Sihotang holong tu marga Matanari…..ya kan..?,….dapat dimaklumi ,,,,anak angkat..?, atau orang dan marga yang mendekatkan diri ke marga Sihotang… ya .. kan..?.  Harus di akui, bahwa di tanah perantauan, marga Matanari ibarat makan buah simalakama…, ise ma dongan tubu di tano ranto on ate..? (populasi Matanari sangat sedikit dibanding marga-marga Batak Toba, pada hal adatnya sudah Adat Batak Toba karena beberapa generasi terakhir pria dan wanita marga Matanari relatip hamper semua kawin dengan orang Batak Toba)…..,baku mo mpung…?, nggo lui kalon ate kami pomparen men…?, kssa boi bagi…?, yah…marsodip kita mi Tuhan, ti…?, kssa mase mo Ate ni Tuhan i hapus dosa-dosa marga Matanari, kssa i bere Tuhan mo mbue keturunan mendahita  kita Matanari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;11.Sumbul Pegagan ada dan berkembang pada waktu pembangunan jalan raya Medan-  Subulussalam- Aceh zaman penjajahan Belanda.  Sebelum Sumbul Pegagan ada dan berkembang sudah ada kuta Balna Sikabeng-Kabeng  (marga Matanari sebagai Raja Kuta, pemangku Hak Sulang Silima), demikian juga Raja (marga) Manik di Kuta Manik dan Kuta Raja, serta Raja (marga) Lingga di Kuta Singa dan Kuta Posong di daerah Pakpak Pegagan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;12. Sudah sangat lama marga Sihotang (sejak generasi ke-5….?) datang ke daerah Pakpak Pegagan dan menjalin persaudaran dengan orang Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga), demikian juga dengan marga di Pakpak Keppas.  Marga Sihotang sangat pintar menjalin persaudaraan, sehingga marga Matanari memberikan tanah/parhutaan “huta Sihotang” dekat Balna Sikabeng-Kabeng, demikian juga marga-marga lain dari Batak Toba diberikan leluasa mengerjakan/memiliki tanah hak wilayat (adat) marga Matanari di Pegagan.  Harus diakui, kehadiran Batak Toba adalah sangat menentukan (vital) dalam pembangunan sawah dan saluran irigasi di daerah Balna Sikabeng-Kabeng.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;13. Persaudaraan yang erat (dongan sabutuha = dengngan sebeltek) antara orang Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) dengan marga Sihotang adalah dipicu ketakutan menghadapi tekanan dari keadaan zaman penjajahan Belanda, seterusnya setelah zaman kemerdekaan NKRI, adalah pengaruh kepentingan yang saling menuntungkan di antara mereka.  Marga Sihotang ingin memperkuat keberadaannya di daerah Pakpak Pegagan dan Pakpak Keppas, sedangkan Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) ingin memperlancar berbagai urusan terutama bidang pemerintahan, di mana pada waktu itu pusat pemerintahan berada di Tarutung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;14 Puncak hubungan persaudaraan mereka adalah terbentuk/terlaksananya Ikatan (Pesta) Silima Tali di Sumbul Pegagan sekitar tahun 1957.  Silima Tali terdiri dari 5 unsur yaitu (1) Matanari, (2) Manik, (3) Lingga, (4) Sihotang dan (5) Berru/Boru dari 4 marga tersebut.  Emapat (4) marga di atas sepakat menjadi Sisada Anak Sisada Boru (ndang marsiolian be), pada hal sebelumnya  terjadi perkawinan antara Matanari dengan Lingga dan juga Lingga dengan Manik (tetapi antara Matanari dengan Manik……belum ada informasi).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;15.Umumnya, hubungan persaudaraan tersebut di atas hanya diketahui marga Sihotang dan marga-marga keturunan Si Raja Oloan yang berasal atau bertempat tinggal di sekitar kabupaten Dairi (dari daerah lain tidak mengetahui kesepakatan tersebut di atas).  Jadi tidak mengherankan, di daerah perantauan marga Matanari yang mendekatkan dirinya ke marga Sihotang……dan karena populasi marga Matanari sangat sedikit di daerah perantauan, orang bermarga Matanari tersebut merobah marganya menjadi marga Sihotang,  Karo-Karo, Sitepu, Sinulingga dan mungkin marga lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;16. Demikian halnya, marga Simanjuntak Sitolu Sada Ina (PSSI) secara otomatis, (karena mengikutkan tulangnya marga Sihotang) ikut serta juga marga Matanari diakui Simanjuntak sebagai tulang. (sebaliknya Matanari menganggap dan memperlakukan Simanjuntak sebagai bere naburju keturunan dari namboru mereka,….saling mengakui).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;17. dan seterusnya… ? masih banyak yang harus kita diskusikan ya…kan..?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenapa ada yang bertahan Matanari mengaku secara lisan Anak Sagapulo Sihotang Pardabuan Uruk…?, mana Tarombonya…?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.      Kenyataannya (defacto) populasi marga Matanari adalah relatip sangat sedikit, terutama di daerah perantauan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.      Marga Matanari sekarang umumnya sudah melaksanakan Adat Batak Toba ataupun sebahagian kecil melaksanakan Adat Karo (Adat Pakpak di ditinggalkan….. kenapa..?),  karena beberapa generasi terakhir (sekitar 7 generasi terakhir…?)  pria dan wanita marga Matanari kawin dengan orang Batak Toba.  Hampir semua Hula-hula/parumaen dan Boru/hela marga Matanari adalah orang Batak Toba, sehingga marga Matanari tidak dapat bertahan menjalankan adat Pakpak Pegagan (dalam acara Suka dan Duka).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.      Dalam menjalankan Adat Toba (dalam acara Suka dan Duka) marga Matanari wajib membutuhkan (mangalului) dongan tubu (dengngan sebeltek) untuk menghadapi pihak hula-hula maupun pihak boru.  Karena populasi marga Matanari sangat sedikit di daerah perantauan, maka marga Matanari mendekatkan dirinya kepada marga Sihotang dan keturunan Si Raja Oloan.(atau Karo-Karo di Tanah Karo).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.      Marga Matanari di daerah perantauan menghadapi masalah yang termaktub dalam point 1, 2, dan 3 di atas………ibarat makan buah simala kama dalam memilih atau mengaku “ Matanari Pakpak Pegagan atau Matanari anak Sihotang, atau Karo-Karo, atau Sitepu, atau Sinulingga, atau dll…?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5.      Sebagian marga Matanari di daerah perantauan memilih (menyatakan) Matanari anak Sihotang, karena pilihan ini lebih menguntungkan dirinya dalam menjalankan Adat (dalam Suka dan Duka) terkait keluarga besar/famili yang hampir seluruhnya dari orang Batak Toba.  Mereka juga mempunyai pengaruh kuat terhadap keluarga (dengngan sebeltek dan berru) Matanari di kampung asal (sekitar kuta Balna Sikabeng-kabeng)……….ah lebih maruntung do mengakui, Matanari anak Sihotang …(….kata mereka), ….nungnga saotik marga Matanari gabe ni pametmet muse diri gabe Matanari Pakpak Pegagan.? ……holan alani si Pinggan Matio…?, ba unang pe taho hula-hula ni Sihaloho/Silalahi hita,…., aha untung sian i…?, on nungga jelas gabe torop dongan sabutuha niba di Paradaton  …ah ibana ma i,…..Sihotang do hita ate (kata mereka)…………….dst.  Marga Matanari di perantauan sudah ada Pengurus/Ketua “Punguan Sihotang” maupun “Punguan Si Raja Oloan”……….tu dia nama bahenon bohi on…?.........maila hian iba di bahen angka dongan tubu nta on ate..?(….keluh mereka).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6.      Apa yang dikatakan sebahagian marga Matanari pada point 5 diatas, dapat diterima akal sehat (benar) melihat kepentingan kebutuhan akan Paradaton di lapangan (defacto),,,,,, akan tetapi segetir apapun masalah yang harus kita telan, kita marga Matanari harus mau (rela berkorban) menjunjung tinggi harkat keberadaan (sejarah yang benar) dari mpung (leluhur) kita selaku orang Batak Pakpak Pegagan, sesuai bukti-bukti sejarah (berdasarkan turi-turian) yang dapat diterima akal sehat.  Sejarah yang benar (logis) menunjukkan bahwa Matanari Pakpak Pegagan bukan anak Sihotang orang Batak Toba……jadi bukan karena kepentingan agar menjadi Hula-hula ni Sihaloho atau Silalahisabungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7.      Alangkah naifnya kita menurunkan sejarah yang salah kepada keturunan Raja Matanari di hari-hari mendatang……..adalah dasar kita untuk menyatakan sejarah yang benar (jangan sekali-kali atas dasar kepentingan sesaat)……kalau dalam Paradaton, untung-rugi dalam marhula-hula-marboru adalah sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8.      Marga Matanari seharusnya tidak boleh melupakan (menyepelekan) keberadaan Pinggan Matio, Ranimbani, Rumintang dan Siberru Taren berru Matanari……, karena mereka semua adalah namboru kita marga Matanari.  Mereka adalah saudara (ito = turang) dari para mpung kita mulai dari Marcintaratus Matanari.  Bayangkan kedekatan hubungan diantara mereka pada zaman dahulu kala dengan cara membandingkan hubungan keluarga kita masing-masing sekarang (hubungan orang tua dengan anak-laki-laki dan anak perempuan dan hubungan na mar ito = mar turang……..indah bahagia yak an…?)……..mereka bersedih juga jika dilupakan oleh keturunan saudaranya…. Ya…kan..?.  Sangat banyak orang merasakan lebih dekat (akrap) dengan (tulang/namboru dan keturunannya) dibanding dengan (bapa tua/ bapa uda dan keturunannya) dalam hidup sehari-hari…. ya..kan..?.  Marilah kita contoh hubungan Sihotang dengan Simanjuntak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9.      Marilah kita marga Matanari membangun sejarah yang benar tanpa ragu dan ikhlas (tanpa embel-embel tententu) asli milik kita sejak dari leluhur (mpung) kita Raja Matanari Pakpak Pegagan, dengan mendekatkan diri (membangun ikatan persaudaran yang erat) dengan marga-marga berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I.      Manik Pakpak Pegagan (panggil; ampara/ abang jika lebih tua/anngia jika lebih muda)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;II.   Lingga Pakpak Pegagan/Karo/Simalungun/Gayo (panggil, ampara/  abang jika lebih tua/anngia jika lebih muda)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;III.  Sihotang (panggil ampara/abang jika lebih tua/anngia jika lebih muda), berdasarkan sejarah Ikatan (Pesta) Silima Tali di Sumbul Pegagan sekitar tahun 1957, dan kemudian dapat mengikut ke pomparan Si  Raja Oloan dan marga Marbun, serta bere na burju ni Sihotang (Simanjuntak Sitolu Sada Ina).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;IV.  Sihaloho – Silalahisabungan (panggil, amang boru)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;V.     Bintang (panggil, amang boru)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;VI.  Maha (panggil, amang boru).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mendekatkan diri kepada saudara-saudara bermarga tersebut di atas tidak akan membuat marga Matanari menet (kecil/hina) akan tetapi sebaliknya…..semoga Matanari Pakpak Pegagan semakin Jaya ke masa depan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepada kita keturunan Raja Matanari, kita harap dapat menjauhan sikap “mudah menyalahkan” pendapat sesama kita, tetapi mari kita saling menghargai perbedaan pendapat……kemudian kita masing-masing coba menuliskan apa kebenaran atau legenda yang kita ketahui tentang/terkait Tarombo Matanari, untuk selanjunya menjadi bahan pelajaran buat kita semua yang berguna kelak dalam mengambil satu kesimpulan yang kebenarannya paling akurat……Bagi mo ti kaltu..? . Pesan ini saya sampaikan terutama buat kita yang aktip memberikan komentar di inter net (misalnya; Mpantas Matanari, Antonius Matanari, Stefanus Matanari, Marganda Matanari, Antony Matanari, Drs. Asiroha Matanari, Sich Jerry Matanari, SE, Ir. Sofyan Matanari dan Sadakata Matanari, SH, MA)…… ta enget mo sada daroh mo kita karina ti,  boi ngo beda pendapat tapi ulang mo kita rubat i,….. mela kita situk mendahi kalak ti..?. Pos ngo ukur ku mendahi kita karina, belgah mo kelleng nta mendahi kita na mardengngan sebeltek  marga Matanari karina.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bage kata situa-tua simendokken:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Makam Ndates Cundut, Makam nterrem jabu-jabu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Koden mak mbelgah ngo, kssa oda kita sada perdakanen&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kayu kurang nggeddang ngo asa oda kita sada bagas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Njuah-nyerdik mo kita karina&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aceh mo nina sipihir tulan, tanoh na mahan pilih-pilihan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maseh mo ate Tuhan, ulang lot mendahi kita perselisihan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;…….oang ….oang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tumpak simerpara, mermbuahi dahan parira,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manumpak mo Tuhan Debata, iperkininjuahi kita karina&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;……………..oang….oang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua lubang ni sige, sada mo mahan gerrit-gerritan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mella laus merga Matanari barang mike, ulang mo mbernit-mberniten.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;………oang….oang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;NJUAH-NJUAH ……HORAS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada gading yang tidak retak, maka jika ada tutur kata yang salah mohon penulis dimaafkan, dan tolong diberikan kritik demi perbaikannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;LIAS ATE&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hormat penulis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawaller Matanari, Ir. MS&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Putra Pendeta Ds. Josep (mpu Sich Jerry) Matanari par kuta Great-Kuta Gugung&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketua PERMANA Medan dan Sekitarnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kontak:  mobile 081361149346&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="mailto:matanarij@yahoo.com"&gt;matanarij@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/matanarij"&gt;www.geocities.com/matanarij&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.jerrymatanari.blogspot.com/"&gt;www.jerrymatanari.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.jmatanari.co.cc/"&gt;www.pakpakpegagan.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9157078983311861275-8722149314625028567?l=www.jmatanari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jmatanari.co.cc/feeds/8722149314625028567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jmatanari.co.cc/2009/03/sejarah-dan-beberapa-legenda-pada-marga.html#comment-form' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9157078983311861275/posts/default/8722149314625028567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9157078983311861275/posts/default/8722149314625028567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jmatanari.co.cc/2009/03/sejarah-dan-beberapa-legenda-pada-marga.html' title='SEJARAH DAN BEBERAPA LEGENDA PADA MARGA MATANARI PAKPAK PEGAGAN'/><author><name>Jerry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12686291329203742107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/Szhr6sraE_I/AAAAAAAAAPk/GdmGjFcazYM/S220/Jerry.JPG'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9157078983311861275.post-4557823088673562475</id><published>2009-01-15T16:44:00.000-08:00</published><updated>2010-01-08T02:55:56.311-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TAROMBO'/><title type='text'>TROMBO MERGA MATANARI PAKPAK PEGAGAN</title><content type='html'>REVISI TROMBO MERGA MATANARI PAKPAK PEGAGAN YANG DISUSUN PENULIS, 01 AUGUSTUS 2008&lt;br /&gt;Oleh: Ir. Jawaller Matanari, MS. Medan 07 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbentuknya Sub-suku Batak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku Batak adalah berasal dari Hindia Belakang/Selatan, keturunan Melayu Tua (Proto Melayu) dan kemudian kawin dengan Melayu Muda (Deutro Melayu). Kemudian terjadi assimilasi kebudayaan imigran atau transmigran pertama yakni Melayu Tua, dengan pendatang (imigran atau transmigran) berikutnya yakni Melayu Muda menjadi kebudayaan yang lebih berkembang (lebih maju). Proto Melayu (Melayu Tua) adalah berasal dari Hindia Belakang, yang menjadi Suku Batak datang dari dua arah yaitu pertama dari pantai barat pulau Sumatera (baik imigran dari Hindia Belakang maupun Transmigran dari kerajaan Sriwijaya maupun Kerajaan Melayu Jambi), dan kedua adalah dari arah pantai Timur pulau Sumatera terutama dari daerah Aceh Timur (kerajaan Haru, kerajaan Tamiang dan lain lain).&lt;br /&gt;Deutro Melayu (Melayu Muda) masuk melalui pantai Timur pulau Sumatera. Masing-masing pendatang (imigran atau transmigran bergerak menuju kawasan Danau Toba. Pergerakan manusia Proto Melayu dan Deutro Melayu menuju kawasan Danau Toba disebabkan (dipengaruhi) pasang-surut kekuasaan kerajan yang ada berkuasa di pulau Sumatera (kerajan kecil yang tahluk kepada kerajaan besar di Nusantara yakni kerajaan Sriwijaya) dan pulau Jawa (kerajaan Majapahit) sekitar abad ke-6 sampai abad- ke-14 M, serta kemudian akibat pengaruh penyebaran agama Islam di daerah Aceh, daerah Deli dan daerah Sumatera Barat..&lt;br /&gt;Dengan demikian Suku Batak berasal dari (1) imigran masuk dari pantai Timur pulau Sumatera dan/atau trasmigran dari kerajaan Tamiang, kerajan Haru, kerajaan Pasai, yang menyebar menuju kawasan Danau Toba dipengaruhi oleh pasang-surut kekuasaan kerajaan tersebut dan pengaruh Penyebaran Agama Islam, dan (2) imigran yang masuk dari pantai Barat pulau Sumatera dan/atau transmigran dari daerah Barus dan daerah Mandailing Natal, dari sekitar Candi Portibi, penyebaran mereka menuju kawasan Danau Toba dipengaruhi oleh pasang-surut kekuasaan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Melayu Jambi serta perkembangan agama Islam di daerah Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;Kerajaan Sriwijaya pada zamannya mempunyai pasukan yang bertugas menerima upeti dari kerajaan kerajaan kecil yang ada di Nusantara. Sewaktu kerajaan Sriwijaya ditahlukkan kerajaan Colamandala tahun 1025 M menyebabkan sebahagian pasukan yang sedang bertugas meminta upeti dikerajaan kecil di daerah Aceh dan Sumatera Utara tidak kembali ke pusat kerajaan Sriwijaya. Pasukan kerajaan Sriwijaya ini bersama penduduk asli (Proto Melayu) kawin dan berassimilasi budaya membentuk masyarakat Proto Batak.Masyarakat Proto Batak adalah sekelompok manusia yang telah mempunyai kebudayan yang telah dipengaruhi agama Hindu dan agama Animisme yang relatip sulit dimasuki ajaran agama Islam pada zaman dahulu. Berdasarkan pertimbangan hal-hal yang diuraikan di atas dan berdasarkan kemiripan bahasa, sastra dan aksara, maka asal-usul sub-suku Batak (Proto-Batak) dapat dibedakan terdiri dari 2 bagian yaitu, (1) Proto-Batak Utara (yang terdiri dari: Pakpak, Karo. dan Alas/Gayo) dan (2) Proto Batak Selatan (yang terdiri dari: Simalungun, Toba, Angkola dan Mandailing) seperti ditunjukkan pada gambar-denah berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYD-Xy-JCBI/AAAAAAAAADU/Os2eUHNcHXc/s1600-h/denah_proto_btk.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296512846560561170" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 518px; CURSOR: hand; HEIGHT: 170px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYD-Xy-JCBI/AAAAAAAAADU/Os2eUHNcHXc/s400/denah_proto_btk.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Imigran ataupun Transmigran yang masuk ke daerah kawasan danau Toba datang secara bertahap atau bergelombang dalam periode waktu berbeda, dan kemudian terjadi perkawinan ataupun assimilasi budaya. Setiap gelombang bergerak menuju daerah yang dianggap paling subur. Pendatang yang lebih awal akan mendapat (bertahan tinggal) di daerah yang lebih subur, sebaliknya pendatang yang lebih belakangan akan mendapat daerah yang lebih tandus. Pada mulanya suku Batak adalah hidup nomade (manusia yang tingkat kebudayaannya hidup dari memungut hasil tumbuhan secara alami dan menangkap ikan serta berburu binatang/burung dan tempat tinggal berpindah-pindah), kemudian berkembang ke tingkat budaya pertanian berpindah-pindah, pertanian tradisional dan hingga pertanian modern (sekarang).&lt;br /&gt;Memperhatikan tingkat kesuburan tanah daerah kawasan danau Toba, yang tergolong tanah yang lebih tandus adalah daerah yang ditempati Sub-suku Batak Toba (yang paling luas). Apakah hal ini dapat menjadi indikator bahwa suku Batak Toba adalah Imigran atau Transmigran yang belakangan dari kelompok Sub-suku Batak Karo, dan Pakpak (yang menempati tanah yang lebih subur)..…?.Kondisi lahan yang kurang subur, menempa penduduknya (Sub-suku Batak Toba) harus lebih agresip, berwatak yang harus lebih keras berpikir, harus lebih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dan kemudian menyebabkan sebagian penduduknya pergi merantau ke daerah lain (karena keterbatasan sumberdaya alam di tempat tinggal mereka). Orang perantau terdikondisikan menjadi lebih rajin dibanding penduduk yang dijumpainya. Masyarakat pada daerah lebih tandus terpaksa harus lebih rajin, bekerja keras, ulet dan akhirnya lebih pintar atau lebih maju dibanding masyarakat daerah yang lebih subur. Kenyataan ini terwujud secara rata-rata pada suku Batak Toba yang umumnya menjadi pribadi yang lebih rajin, bekerja keras, ulet, sifat terbuka, lebih berkembang kemajuannya dibanding Sub-suku Batak lainnya.&lt;br /&gt;Proto Batak Pakpak adalah keturunan Proto Batak Utara (Alas/Gayo, Karo, Pakpak) hasil perkawinan (assimilasi) kelompok imigran dan transmigran lokal suku keturunan bangsa Colamandala dari India Selatan melalui pantai kota Barus, Mandailing-Natal, pasukan kerajan Sriwijaya maupun kerajan Melayu Jambi dan Melayu-tua dari kerajaan Tamiang di Aceh Timur, yang telah menganut sistim demokrasi. Dalam menjalankan Demokrasi pada suku Batak dianut “The Trias Manner of Batak Culture” yakni 3 alur/sikap (perilaku) utama dalam budaya (hubungan antar manusia) suku Batak.&lt;br /&gt;Pada Batak Pakpak 3 prilaku utama tersebut, yang dilaksanakan dalam hidup berbudaya adalah meliputi (1) Sembah Merkula-kula, (2) Manat merdengngan tubuh, ( 3) Elek merberru, yang dilaksanakan dalam kelompok yang relatip besar yakni masyarakat beradat yang disebut Silima Sulang. Silima Sulang adalah 5 unsur kekerabatan dari masing-masing kelompok (kula-kula dan anak berru), yaitu (1) Perisang-isang (anak tertua), (2) Pertulan Tengah (anak pertengahan), (4) Perekor-ekor (anak bungsu), (4) Puncanidip atau Puncaniadop (saudara semarga atau satu kakek) dan (5) Anak Berru. Sulang dapat diartikan memberikan makanan sebagai wujud rasa hormat kepada kula-kula dan sebaliknya rasa kasih-sayang kepaada berru (disebut menggohon-gohoni) Pada Batak Karo dikenal 3 cara tersebut adalah Rakut Sitellu yang dilaksankankan dalam adat daerah berdasarkan Tutur Siwaluh. Pada keturunan Proto Batak Selatan 3 cara tersebut disebut Dalihan Natolu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah Pakpak Pegagan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proto Batak Pakpak berkembang menjadi sub suku Batak Pakpak, yang terdiri dari lima suak, yakni (1) Pakpak Pegagan, (2) Pakpak Keppas, (3) Pakpak Simsim, (4) Pakpak Keppas dan (5) Pakpak Boang, Pitu Guru Pakpak Sindelanen adalah dukun (Datu) dari keturunan Batak Pakpak (yaitu 7 Guru/Raja yakni Raja Api, RajaAngin, RajaTawar, Raja Lae/Lau/Lawe, RajaAji, Raja Besi dan Raja Bisa) yang mempunyai ilmu kebatinan dengan keahlian (aliran) khas masing-masing. Ilmu ini diturunkan (turun-temurun) kepada para murid masing-masing. Murid yang paling mahir tetap dianggap sebagai Raja/Guru dari ilmu aliran masing-masing. Suatu ketika, para murid yang dijuluki Raja atau Guru pada 7 aliran ilmu tersebut bertemu di daerah pegunungan antara daerah Pegagan dengan Tanah Karo. Sesuai perkembangan agama, maka ilmu mereka ke 7 guru/raja lambat laun semakin pudar (kecil) pengaruhnya kepada masyarakat, kemudian mereka yang terakhir diyakini meninggal di pegunungan antara daerah Pegagan dan Tanah Karo.&lt;br /&gt;Pakpak Pegagan adalah keturunan Guru/Raja Api (Raja Gagan) yang pertama, (yang mempunyai aliran ilmu tenaga dalam yang menyerupai tenaga api). Keturunan Guru/Raja yang pertama ada 3 marga yaitu Matanari, Manik dan Lingga, yang disebut Pakpak Pegagan. Marga Matanari tinggal di daerah kuta Balna Sikabeng-kabeng dan Kuta Gugung. Marga Manik di Kuta Manik dan Kuta Raja. Marga Lingga di Kuta Singa dan Kuta Posong. Jumlah generasi mulai dari Proto Pakpak sampai terbentuk marga Matanari belum diketahui secara pasti, namun diduga ada sekitar 11 generasi, karena marga Matanari sudah ada sekitar 19-20 generasi. Jadi Proto Batak Pakpak diduga sudah ada sejak sekitar 30 generasi x 20 tahun = 600 tahun yang lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYD_l_cvDQI/AAAAAAAAADc/Zcl1BPZ3yhM/s1600-h/01_Proto_PakPak.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296514189939903746" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYD_l_cvDQI/AAAAAAAAADc/Zcl1BPZ3yhM/s400/01_Proto_PakPak.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah Generasi-1 s/d 8 Matanari dan Tokoh Berrunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Raja Matanari adalah Marcinta Ratus (generasi ke-2) dengan putri satu-satunya adalah Pingga Matio istri Raja Silalahisabungan (upahnya karena berhasil mengobati penyakit istri Raja Matanari). Pada generasi ke-3 adalah Kembung Mbaliang (keturunnya adalah per kuta Balna Sikabeng-kabeng), dan Mbalang Tiktik (keturunanya adalah per Kuta Gugung), serta 3 orang putri, yaitu putrid-I (adalah Ranimbani (disebut juga: Ranimtamende) istri Raja Sihaloho), putri ke-2 (istri marga atau Raja Bintang), dan putri ke-3 (istri marga atau Raja Maha).&lt;br /&gt;Pada generasi ke-6 Matanari keturunan Kembung Mbaliang adalahRaja Beak Matanari (orang kaya pada zamannya) mempunyai seorang putra dan seorang putri namanya Rumintang berru Matanari (generasi ke-7) yang kawin ke Raja Onggu Sondi Raja (keturunan Raja Silalahisabungan). Raja Onngu dihukum mati karena menghina orang pakpak pada saat hampir selesai pembangun Rumah Adat milik Raja Beak Matanari. Rumintang berru Matanari mati Gantung diri atas hukuman mati suaminya si Raja Onggu. Karena kematian Raja Onngu dan Rumintang tidak biasa, maka diyakini arwah mereka menempati pohon beringin (jabi-jabi) yang ditanam Pinggan Matio (disebut eks tongkat Pinggan Matio) di Balna Sikabeng-kabeng (disebut: Sembahan si Raja Onggu- Rumintang berru Matanari).&lt;br /&gt;Generasi ke-8 Matanari terdiri dari, anak keturunan Kembung Mbaliang adalah (1) Belangenjodi, (2) Mantellumata, (3) Sibarita, serta seorang putri namanya Siberru Taren berru Matanari (yaitu anak berru si Taren atau Mpu Sambar yaitu cucu dari Mpu Taren) yang kawin ke Raja Manungkun Pintu Batu, yang mendapat tanah sebagai Rading Berru di Tamberro, dekat kuta Balna Sikabeng-kabeng. Sedangkan pada keturunan Mbalang Tiktik (per Kuta Gugung) adalah (1) Mpu Kaing, (3) Mpu Kerahan, dan (3) Mpu Kepar.dan seorang berru. namanya Saing yang kawin ke kuta Sukana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYEHXz70AEI/AAAAAAAAADk/jy_e16_WZ3g/s1600-h/02.Raja+Gagan.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296522742423879746" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYEHXz70AEI/AAAAAAAAADk/jy_e16_WZ3g/s400/02.Raja+Gagan.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;1. Matanari generasi ke-8 (Marimbaru) sampai ke-16 (Nullah)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYEIXprBLLI/AAAAAAAAAD0/EY8SL_4QEvM/s1600-h/03.Marimbaru-1.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296523839180713138" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 277px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYEIXprBLLI/AAAAAAAAAD0/EY8SL_4QEvM/s400/03.Marimbaru-1.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;2. Matanari generasi ke-8 (Marimbaru) sampai ke-17 (Onel)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYEJJayE16I/AAAAAAAAAD8/N2S2Yw66W68/s1600-h/04.Marimbaru-2.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296524694177240994" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYEJJayE16I/AAAAAAAAAD8/N2S2Yw66W68/s400/04.Marimbaru-2.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;3. Matanari generasi ke-8 (Marimbaru) sampai ke-16 (Lindung)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPI_m9aRZI/AAAAAAAAAEE/OwSL9SVAqI8/s1600-h/05.Marimbaru-3.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297298581833270674" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPI_m9aRZI/AAAAAAAAAEE/OwSL9SVAqI8/s400/05.Marimbaru-3.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;4. Matanari generasi ke-8 (Marimbaru) sampai ke-16 (Tanjung)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPJzu_2pUI/AAAAAAAAAEM/2-t8ilvtLQc/s1600-h/06.Marimbaru-4.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297299477344200002" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPJzu_2pUI/AAAAAAAAAEM/2-t8ilvtLQc/s400/06.Marimbaru-4.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;5. Matanari generasi ke-8 (Mantellumata) sampai ke-16 (Firman)&lt;br /&gt;Benarkah informasi bahwa si Arden Matanari ada talian darah (keturunan) dengan Djauli Padang Batanghari (yang mengaku mereka sampai generasi ke-8 gerada di Balna Sikabeng-kabeng, kemudian terusir dan kembali ke Sileuh akibat perang, dan sebagian mereka merobah marga menjadi Matanari)…?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPKOPVnkiI/AAAAAAAAAEU/nO_1r979fI0/s1600-h/07.Marimbaru-5.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297299932702020130" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPKOPVnkiI/AAAAAAAAAEU/nO_1r979fI0/s400/07.Marimbaru-5.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;6. Matanari generasi ke-8 (Mantellumata) sampai ke-15 (Mogang)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPL4ELNHXI/AAAAAAAAAEc/mgo6R3gyfaU/s1600-h/08.Marimbaru-6.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297301750771686770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPL4ELNHXI/AAAAAAAAAEc/mgo6R3gyfaU/s400/08.Marimbaru-6.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;7. Matanari generasi ke-8 (Mantellumata) sampai ke-17 (Ramos)Anak ke-4 dari PuDERA adalah PuUNJAM (generasi ke-11) ke kuta Sikonihan, anaknya bernama siNIHAN (munkin asal kata kuta Sikonihan adalah si + ko = kau + Nihan = nama keturunan Matanari dari kuta Balna Sikabeng-kabeng).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPMuyO3yPI/AAAAAAAAAEk/XSdBdhrCZnY/s1600-h/09.Mantellumata-7.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297302690848033010" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPMuyO3yPI/AAAAAAAAAEk/XSdBdhrCZnY/s400/09.Mantellumata-7.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;8. Matanari generasi ke-8 (Mantellumata) sampai ke-17 (Josua)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPNhOiFNJI/AAAAAAAAAEs/yIJ8jnEj_YE/s1600-h/10.Mantellumata-8.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297303557438256274" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPNhOiFNJI/AAAAAAAAAEs/yIJ8jnEj_YE/s400/10.Mantellumata-8.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;9. Matanari generasi ke-8 (Mantellumata) sampai ke-17 (Mangiring)&lt;br /&gt;Anak ke-2 dari Pertogi (generasi ke-12) adalah Raja Mban (generasi ke-13) mempunyai anak si Teggung (generasi ke-14) diduga pergi ke daerah Pulau Jawa, sehingga belum diketahui siapa keturunannya dan di mana keberadaannya…&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPORXdDBtI/AAAAAAAAAE0/zU9R9yvLbjY/s1600-h/11.Mantellumata-9.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297304384466781906" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPORXdDBtI/AAAAAAAAAE0/zU9R9yvLbjY/s400/11.Mantellumata-9.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;10. Matanari generasi ke-8 (Mantellumata) sampai ke-17 (Rekson)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPO4ofGeHI/AAAAAAAAAE8/Fe7Sg2tWKUE/s1600-h/12.Mantellumata-10.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297305059053697138" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPO4ofGeHI/AAAAAAAAAE8/Fe7Sg2tWKUE/s400/12.Mantellumata-10.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;11. Matanari generasi ke-8 (Mantellumata) sampai ke-17 (Sofyan)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPbT-9-UaI/AAAAAAAAAFE/XSDeub_RTn4/s1600-h/13.Mantellumata-11.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297318723084767650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPbT-9-UaI/AAAAAAAAAFE/XSDeub_RTn4/s400/13.Mantellumata-11.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;12. Matanari generasi ke-8 (Mantellumata) sampai ke-16 (Parulian)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPcX6zCrnI/AAAAAAAAAFM/VEswB3LQn5E/s1600-h/14.Mantellumata-12.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297319890196278898" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPcX6zCrnI/AAAAAAAAAFM/VEswB3LQn5E/s400/14.Mantellumata-12.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;13. Matanari generasi ke-8 (Mantellumata) sampai ke-17 (Kota)&lt;br /&gt;Pu Unjam (generasi ke-11) adalah ke kuta Sikonihan, sedangkan Pendekkar (generasi ke-11) belum diketahui keberadaannya dan keturunannya, di mana…?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPdLVLSF6I/AAAAAAAAAFU/dx8llwwTXqg/s1600-h/15.Mantellumata-13.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297320773450602402" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPdLVLSF6I/AAAAAAAAAFU/dx8llwwTXqg/s400/15.Mantellumata-13.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;14. Matanari Generasi ke-8 (Sibarita) s/d ke-17 (Laster)&lt;br /&gt;Keturunan si Nari (generasi ke-9)….?, si Degger (generasi ke-11)……? dan si Pangalo (generasi ke-12)….? belum diketahui keberadaannya, siapa-siapa…?, dan dimana…?. Apakah sudah berubah menjadi marga lain…?&lt;br /&gt;Pada generasi ke-12 si Berru Gundung kawin ke marga Kudadiri.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPdzw4tQDI/AAAAAAAAAFc/PVDQWrFH0o4/s1600-h/16.Mantellumata-14.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297321468083650610" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYPdzw4tQDI/AAAAAAAAAFc/PVDQWrFH0o4/s400/16.Mantellumata-14.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;15. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai generasi ke-18 (Ranap)&lt;br /&gt;Si berru Kaing (generasi ke-9) kawin ke marga Padang ke kuta Ujung Parira, yang keturunannya kemudian di kuta Karing. Keturunan Pu Selli (generasi ke-12) yakni pada generasi ke-13 ada berru yang kawin (sijahe) ke marga Pasi dan Bintang.&lt;br /&gt;TEGAH (generasi ke-15) adalah Kepala Kampung ke-II zaman Belanda (yang pertama adalah BANGAH; generasi ke-14).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVqiVPCYhI/AAAAAAAAAGE/OEYS5eXDiPk/s1600-h/17.Mantellumata-15.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297757674719568402" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVqiVPCYhI/AAAAAAAAAGE/OEYS5eXDiPk/s400/17.Mantellumata-15.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;16. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai ke-17 (Benri)&lt;br /&gt;Anak ke-2 dari mpu Kaing adalah Mpu Gala (pu Gala) yakni generasi ke-9, disebut juga Perbuahaji yang bertempat tinggal di kuta Simanduma.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVrCZAc3BI/AAAAAAAAAGM/uLAyBTMXWvU/s1600-h/18.16.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297758225487944722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVrCZAc3BI/AAAAAAAAAGM/uLAyBTMXWvU/s400/18.16.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;17. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai ke-18 (Hot Tua)&lt;br /&gt;Pada generasi ke-10 ada si berru Jabalena berru Matanari kawin ke marga Simalango ke kuta Sukana.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVrd-rwlKI/AAAAAAAAAGU/bytn68ntc7I/s1600-h/19.17.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297758699458172066" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVrd-rwlKI/AAAAAAAAAGU/bytn68ntc7I/s400/19.17.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;18. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai ke-17 (Jansen)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVsSAIMQUI/AAAAAAAAAGc/g4-3v79sNd8/s1600-h/20.18.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297759593199059266" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 227px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVsSAIMQUI/AAAAAAAAAGc/g4-3v79sNd8/s400/20.18.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;19. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai ke-18 (Natar)&lt;br /&gt;Pada generasi ke-11 ada berru yaitu si berru NITI dan generasi ke-12 ada berru si Gatang/si Geddang, keduanya berru ini kawin ke marga Padang yaitu keturunannya adalah keluarga par-toko MONORA Sidikalang.&lt;br /&gt;BANGAH (generasi ke-14) adalah Kepala Kampung Pertama zaman Belanda.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVtjf0xl2I/AAAAAAAAAGk/E0sCA26UnG8/s1600-h/21.19.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297760993276958562" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 227px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVtjf0xl2I/AAAAAAAAAGk/E0sCA26UnG8/s400/21.19.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;20. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai ke-18 (Kumpul)&lt;br /&gt;Pada generasi ke-13 ada 5 berru si Pu Silli masing-masing kawin ke marga, Bintang, Pasi, Padang (keturunannya adalah Janampu Padang), Brampu dan Angkat.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVvGa7ldVI/AAAAAAAAAGs/lzf71AcyhUQ/s1600-h/22.20.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297762692770395474" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 365px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVvGa7ldVI/AAAAAAAAAGs/lzf71AcyhUQ/s400/22.20.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;21. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai ke-18 (Ondi)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVwoRGml4I/AAAAAAAAAG0/jLQQWXKGhD0/s1600-h/23.21.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297764373759432578" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 354px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVwoRGml4I/AAAAAAAAAG0/jLQQWXKGhD0/s400/23.21.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;22. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai ke-17 (Ardin)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVxvWnlBpI/AAAAAAAAAG8/QbLZiurGicQ/s1600-h/24.22.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297765595010631314" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 235px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVxvWnlBpI/AAAAAAAAAG8/QbLZiurGicQ/s400/24.22.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;23. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai ke-16 (Umar)&lt;br /&gt;Benarkah informasi bahwa si Umar mengaku, bahwa beliau ada talian darah (garis keturunan) dengan Djauli Padang Batanghari….?. Mungkinkah mpung si Djauli Padang Batanghari adalah keturunan Raja Matanari, sehingga mereka mengetahui ceritra Pinggan Matio dan Peroltep (hulubalang Raja Matanari)…?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVzIYmVUUI/AAAAAAAAAHE/C3-V9tkDahg/s1600-h/25.23.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297767124550635842" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYVzIYmVUUI/AAAAAAAAAHE/C3-V9tkDahg/s400/25.23.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;24. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai ke-18 (Togu)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV0LCJ9mRI/AAAAAAAAAHM/A52tIWfCFE4/s1600-h/26.24.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297768269577296146" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 235px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV0LCJ9mRI/AAAAAAAAAHM/A52tIWfCFE4/s400/26.24.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;25. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai ke-16 (Nasrun)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV03X8RyPI/AAAAAAAAAHU/Gll0dN9fs-0/s1600-h/27.25.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297769031339722994" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 279px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV03X8RyPI/AAAAAAAAAHU/Gll0dN9fs-0/s400/27.25.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;26. Matanari generasi ke-8 (Mpu Kaing) sampai ke-16 (Tarapi)&lt;br /&gt;Keturunan Mpu Gala (Perbuahaji) yakni generasi ke-9, di kuta Simanduma. Rajah (generasi ke-15 adalah Rajah Kepala Kampung SIMANDUMA pada masa Pemerintahan Belanda. Keturunan Tarapi ada 3 berru (generasi ke-17) yaitu berru yang kawin ke marga Kudadiri, Bintang dan Sinaga. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV1W8N30TI/AAAAAAAAAHc/3_l4hxV_pfA/s1600-h/28.26.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297769573653139762" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 261px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV1W8N30TI/AAAAAAAAAHc/3_l4hxV_pfA/s400/28.26.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;27. Mpu Kaing (genersi ke-8) sampai generasi ke-17 (Bincar)&lt;br /&gt;Pada generasi ke-15 ada berru dari si Geddang (generasi ke-14) yang kawin ke marga Simaibang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV16YpgTMI/AAAAAAAAAHk/OsDabcFe4GU/s1600-h/29.27.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297770182580653250" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 244px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV16YpgTMI/AAAAAAAAAHk/OsDabcFe4GU/s400/29.27.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;28. Mpu Kaing (generasi ke-8) sampai generasi ke-17 (Rekes)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV2txdvIBI/AAAAAAAAAHs/1Zhx-qsA8H8/s1600-h/30.28.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297771065415507986" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 235px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV2txdvIBI/AAAAAAAAAHs/1Zhx-qsA8H8/s400/30.28.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;29. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-18 (Riady)&lt;br /&gt;Mpu Nurgas dan si Seal (generasi ke-13) belum diketahui siapa-siapa dan di mana keberadaan keturunannya. Kornes mempunyai 2 orang laki-laki, dan Togi mempunyai 3 orang adik laki-laki. Riady mempunyai satu orang adik laki-laki.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV3Wv-H5ZI/AAAAAAAAAH0/qFfjjSUrVw4/s1600-h/31.29.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297771769389114770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 261px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV3Wv-H5ZI/AAAAAAAAAH0/qFfjjSUrVw4/s400/31.29.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;30. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-18 (Hotman ). Oloan mempunyai adik leki-laki yang namanya adalah; Maruli, Sangap, Bantu, Johannes, Jonas, Deson, Rahman.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV4iktjWMI/AAAAAAAAAH8/ipVHKP3VCTY/s1600-h/32.30.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297773072036878530" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 313px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV4iktjWMI/AAAAAAAAAH8/ipVHKP3VCTY/s400/32.30.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;31. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-17 (Sich Jerry)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV5JAULlGI/AAAAAAAAAIE/HuNUCUgI6RI/s1600-h/33.31.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297773732281685090" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 313px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV5JAULlGI/AAAAAAAAAIE/HuNUCUgI6RI/s400/33.31.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;32. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-17 (Jhonny)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV7yKFaWQI/AAAAAAAAAIM/s6adyIzZmAg/s1600-h/34.32.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297776638301985026" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 391px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV7yKFaWQI/AAAAAAAAAIM/s6adyIzZmAg/s400/34.32.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;33. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-16 (Kaman)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV9ehf3-KI/AAAAAAAAAIU/MSuNriDh9SU/s1600-h/35.33.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297778500012865698" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 261px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYV9ehf3-KI/AAAAAAAAAIU/MSuNriDh9SU/s400/35.33.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;34. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-16 (Nelson)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWP05qmT8I/AAAAAAAAAIc/gMXEuF7cG3M/s1600-h/36.34.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297798675666718658" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 270px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWP05qmT8I/AAAAAAAAAIc/gMXEuF7cG3M/s400/36.34.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;35. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-16 (Asiroha)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWSNJUGF_I/AAAAAAAAAIk/iFHny8raGRY/s1600-h/37.35.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297801291207415794" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 262px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWSNJUGF_I/AAAAAAAAAIk/iFHny8raGRY/s400/37.35.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;36. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-17 (Agung)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWTSV4hd8I/AAAAAAAAAIs/ViHuvZPQrMw/s1600-h/38.36.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297802479992403906" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 270px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWTSV4hd8I/AAAAAAAAAIs/ViHuvZPQrMw/s400/38.36.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;37. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-18 (Ruben)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWVKrJHSRI/AAAAAAAAAI0/NizJYijyxgw/s1600-h/39.37.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297804547283437842" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 236px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWVKrJHSRI/AAAAAAAAAI0/NizJYijyxgw/s400/39.37.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;38. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-17 (Maruhum). Maruhum mepunyai adik 5 orang laki-laki)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWWGXYWZUI/AAAAAAAAAI8/Iq11Bdi5e44/s1600-h/40.38.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297805572770784578" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 270px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWWGXYWZUI/AAAAAAAAAI8/Iq11Bdi5e44/s400/40.38.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;39. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-18 (Anak si Rajin). Rajin mempunyai satu orang adik laki-laki par Buluh Rintang Tigalingga.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWWlOMEPmI/AAAAAAAAAJE/L0x1ZuBX9QE/s1600-h/41.39.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297806102879288930" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 265px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWWlOMEPmI/AAAAAAAAAJE/L0x1ZuBX9QE/s400/41.39.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;40. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-17 (Anak si Siman)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWXLz5P37I/AAAAAAAAAJM/q_P8mFf3WWs/s1600-h/42.40.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297806765835935666" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 253px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWXLz5P37I/AAAAAAAAAJM/q_P8mFf3WWs/s400/42.40.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;41. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-17 (Anak si Mangantar)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWXnfYxS_I/AAAAAAAAAJU/YltVAS39-OY/s1600-h/43.41.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297807241367342066" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 227px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWXnfYxS_I/AAAAAAAAAJU/YltVAS39-OY/s400/43.41.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;42. Matanari generasi ke-8 (MpuKerahan) sampai ke-16 (Anak si Taram..?)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWYtiMkKlI/AAAAAAAAAJc/4Z2s2uNDj9I/s1600-h/44.42.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297808444712299090" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 244px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWYtiMkKlI/AAAAAAAAAJc/4Z2s2uNDj9I/s400/44.42.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;43. Matanari Generasi ke-8 (Mpu Kerahan) s/d Generasi ke-17 (Anak si Sahat)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWZcbSsxeI/AAAAAAAAAJk/AvkVBXuL1C8/s1600-h/45.43.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297809250312832482" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 261px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWZcbSsxeI/AAAAAAAAAJk/AvkVBXuL1C8/s400/45.43.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;44. Mpu Kepar (generasi ke-8) sampai generasi ke-17 (Asiroha)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWZsVa94eI/AAAAAAAAAJs/ae2TYOyP5kU/s1600-h/46.44.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297809523614802402" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 243px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWZsVa94eI/AAAAAAAAAJs/ae2TYOyP5kU/s400/46.44.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;45. Mpu Kepar (generasi ke-8) sampai generasi ke-16 (Jaman) &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWcw9CC2QI/AAAAAAAAAJ0/kxbGZLAsmPU/s1600-h/47.45.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297812901502048514" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 253px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWcw9CC2QI/AAAAAAAAAJ0/kxbGZLAsmPU/s400/47.45.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;46. Mpu Kepar (generasi ke-8) sampai generasi ke-18 (Juri)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWd3v_5m8I/AAAAAAAAAJ8/yWHpVLDbPZo/s1600-h/48.46.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297814117774105538" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 305px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWd3v_5m8I/AAAAAAAAAJ8/yWHpVLDbPZo/s400/48.46.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;47. Mpu Kepar (generasi ke-8) sampai generasi ke-16 (Hinter)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWelpmf6GI/AAAAAAAAAKE/jRRrQu2jBWk/s1600-h/49.47.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297814906330933346" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 227px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWelpmf6GI/AAAAAAAAAKE/jRRrQu2jBWk/s400/49.47.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;48. Mpu Kepar (generasi ke-8) sampai generasi ke-18 (Cucu Kismer)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWe68N3C3I/AAAAAAAAAKM/3OsJRbb8yvE/s1600-h/50.48.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297815272105118578" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 287px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWe68N3C3I/AAAAAAAAAKM/3OsJRbb8yvE/s400/50.48.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;49. Mpu Kepar (generasi ke-8) sampai generasi ke-17 (AGUS)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWfLB22vLI/AAAAAAAAAKU/KEwss1aaP1k/s1600-h/51.49.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297815548497149106" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 331px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWfLB22vLI/AAAAAAAAAKU/KEwss1aaP1k/s400/51.49.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;50. Mpu Kepar (generasi ke-8) sampai generasi ke-16 (Karmen)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWfzyyosmI/AAAAAAAAAKc/Z7K27Syu7fA/s1600-h/52.50.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297816248827556450" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 323px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWfzyyosmI/AAAAAAAAAKc/Z7K27Syu7fA/s400/52.50.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;51. Mpu Kepar (generasi ke-8) sampai generasi ke-16 (Marolop)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWgWnp3ZnI/AAAAAAAAAKs/zBxK21hkj8Q/s1600-h/53.51.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297816847133402738" style="WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 323px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYWgWnp3ZnI/AAAAAAAAAKs/zBxK21hkj8Q/s400/53.51.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CATATAN PENTING&lt;br /&gt;Hubungan Matanari, Manik, Lingga dengan Sihotang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Silsilah (Trombo) Matanari Pakpak Pegagan ini masih kurang sempurna, karena keterbatasan mendapatkan informasi dari pihak-pihak keturunan Raja Matanari yang ada di tempat perantauan. Karena Trombo disusun berdasarkan ceritra para keturunan Raja Matanari, maka besar kemungkinan ada yang tidak tercantum keturunan Raja Matanari dalam Trombo ini (ada yang belum menyampaikan ceritra turun-temurun dari mereka tentang silsilah mereka sebagai bagian dari keturunan Raja Matanari). Untuk itu kita masih menunggu dan mencari informasi tentang silsilah keturunan Raja Matanari yang belum tercantum dalam trombo ini.&lt;br /&gt;Sebelum ada Trombo Matanari secara tertulis, maka Trombo Matanari adalah berbentuk ceritra dari mulut ke mulut (lisan) para tokoh (orang tua = pertua) marga Matanari. Hal ini mempermudah terjadi ketidaksempurnaan, penyimpangan (akibat pengaruh luar) dan ada yang terlupakan dari kenyataan yang sebenarnya. Misalnya, karena pengaruh masuknya marga Sihotang ke daerah Pegagan yang dapat menciptakan hubungan persaudaraan yang erat dengan marga-marga Pakpak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) sehingga terbentuk Ikatan (Pesta) Silima Tali sekitar tahun 1957 di Sumbul Pegagan. Silima Tali adalah terdiri dari 5 unsur yaitu, marga Matanari, Manik, Lingga, Sihotang dan Berru. Keempat marga tersebut menjalin ikatan persaudaraan Sisada Anak Sisada Berru. Selanjunya menyebabkan sebahagian marga Matanari, Manik dan Lingga mengaku keturunan Sihotang, bahkan di tempat perantauan ada yang sudah menganti marganya menjadi marga Sihotang, Karo-Karo, Sinulingga, Sitepu atau marga lain.&lt;br /&gt;Pengaruh berbagai faktor yakni antara lain; pengaruh Ikatan (Pesta) Silima Tali, pesatnya pertambahan Batak Toba di Pegagan, dan Pusat Pemerintahan di Tarutung menyebabkan sebagian marga Matanari mengaku Sihotang dan menarik Tarombo Matanari anak dari Oppu Saggapulo putra Oppu Borsak Sihotang Pardabuan Uruk (generasi ke-5 dari Sihotang, atau generasi ke-6 dari Siraja Oloan). Demikian juga marga Manik (disebut Manik Siketang) adalah keturunan dari Raja Tima dan Barita Laut putra Oppu Borsak Sihotang Pardabuan Uruk.&lt;br /&gt;Informasi lisan dari penetua adat (orang tua Banjir Kaban di Pokok Mangga- Medan dan orang tua Oslan Lingga di Pangambatan- Merek) bahwa dari Lingga Raja –Pegagan marga Lingga berkembang/ menyebar menjadi keturunan (1) Sibayak Lingga (marga Sinulingga), (2) Kacaribu, (3) Surbakti dan (4) Kaban. Lebih lanjut marga Lingga banyak dijumpai di daerah Aceh Alas/Gayo dan Simalungun. Pada awalnya Lingga di Pakpak Pegagan dan keturunan Lingga di Tanah Karo, Simalungun dan Gayo adalah menyatu, tetapi kemudian setelah pertambahan jumlah penduduk dan pemisahan Wilayah Pemerintahan, mau-tidak mau terjadi sedikit- banyak perbedaan di antara mereka. Aek Popo- Merek kabupaten Tanah Karo adalah salah satu kampong yang banyak penduduknya marga Lingga yang berbudaya Batak Simalungun. Aek Popo tidak jauh dan tidak terpisah dengan daerah Pakpak Pegagan (kabupaten Dairi) dan juga daerah Seribudolok (kabupaten Simalungun). Di daerah Seribudolok dijumpai banyak marga Lingga yang telah berbudaya Batak Simalungun, di daerah Tanah Karo banyak dijumpai keturunan marga Lingga yang telah berbudaya Batak Karo, dan demikian di daerah Aceh Alas/Gayo. Tetapi yang paling disayangkan di daerah Pakpak Pegagan, Lingga Raja (diduga pusat awal marga Lingga) marga Lingga keturunan Pakpak Pegagan pada umumnya sudah berbudaya Batak Toba (sebahagian mengaku keturunan oppu Tunggul Sihotang Pardabuan Toruan (generasi ke-5 dari marga Sihotang).&lt;br /&gt;Kenyataan marga Matanari, Manik dan Lingga adalah keturunan Pakpak Pegagan. Seandainya marga Matanari, Manik dan Lingga adalah keturunan Sihotang….., siapa yang mengajari mereka berbahasa dan berbudaya Pakpak….???. Pakpak suak Pegagan hanya terdiri dari 3 marga yakni Matanari, Manik dan Lingga. Sebelum pengaruh Batak Toba (terutama Sihotang dan marga keturunan Siraja Oloan lainnya) berkembang di Pakpak suak Pegagan dan Pakpak suak Keppas, maka antar marga-marga Pakpak Pegagan dan Pakpak Keppas dapat kawin (marsiolian). Walaupun marga Matanari termasuk marga yang jumlah keturunannya relatip sedikit dan laju pertambahan generasinya relatip lambat, namun marga Matanari sudah ada sekitar 19 bahkan 20 generasi, apakah marga Sihotang sudah ada sekarang sekitar 25 atau 26 generasi…?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah Pertalian Matanari dengan Padang Batanghari…???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa dari keturunan Raja Matanari belum diketahui di mana keberadaannya..?, atau siapa namanya..?, apa masih tetap marga Matanari atau sudah merobah marganya..?. Sesama keturunan Raja Matanari sering terjadi perkelahian, perselisihan yang dapat memicu ada yang pergi merantau dan mungkin pernah tidak kembali ke kampung asal…?, melupakan asal-usulnya…?., mengganti marganya..? Untuk hal ini kita sangat mengharapkan. Bahwa saudara kita tersebut dapat mengingat kembali asal-usulnya. Dari Trombo di atas, banyak nama-nama anak berru, mungkin keturunan Raja Matanari masih kurang baik menjalin hubungan terhadap anak berru, belum mampu menerapkan “elek merberru”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Drs. R.M. Kaloko (via SMS) 27 Desember 2008, bahwa ceritra dari Djauli Padang Batanghari dan A. Solin tetua marga Solin pada 12 Oktober 2008, bahwa Padang Batanghari adalah putra dari berru Padang (cucu Soritandang), adiknya adalah Sorigigi anak na Berutu, dan Pungutansori anak na Solin. Ketiganya adalah satu ibu (berru Padang) lain bapa. Padang Batanghari dilahirkan berru Padang tanpa ayah dan lahir balutan, diletakkan di atas batang pohon yang sudah tumbang (batang-batang) pada siang hari dijumpai marga Sitakar, kemudian diadopsi di rawat hingga besar, serta kemudian dikawinkan dengan berru Solin.&lt;br /&gt;Siraja Batak (generasi pertama Batak Toba) keturunanya Situmorang (generasi ke-5), Situmorang Suhutnihuta (generasi ke-8), Ompu Surungmalela (genrasi ke-9), Andornabolak (generasi ke-10), generasi ke-11 adalah Soritandang (nanaknya Padang = Situmorang…?, generasi ke-12), Sorigiri (anaknya Brutu = Sinaga….?, generasi ke-12), dan Pungutansori (anaknya Solin = Pandiangan…?, generasi ke-12). Berru Padang (generasi ke-12) melahirkan Padang Batanghari (generasi ke-13)….???.yang lahir balutan tidak diketahui ayahnya….???&lt;br /&gt;Limbongmulana, Langgatlimbong, Papagannalomak, Togahabeahan,……….., yang mempunyai 4 anak yaitu (Tinendung, Padang = Padang Batanghari,,?, Sitakar, dan Kabeakan) di Binanga Sitolu Kerajaan Pakpak Bharat.&lt;br /&gt;Menurut Drs. R.M. Kaloko (via SMS) 27 Desember 2008, bahwa di hadapan Panitia Tarombo Silalahi, Djauli Padang Batanghari menyebutkan mereka adalah keturunan marga Pasaribu. Di Tanah Pinem (kabupaten Dairi) Djauli Padang Batanghari landek (menari) dengan Tarigan mergana dan juga dengan Parangin-angin mergana, sehingga orang Karo bingung marga apa sebenarnya Djauli Padang Batanghari ini…?. Menurut Pendeta Abednego putra Djauli Padang Batanghari, mereka bukan keturunan Batak Toba melainkan keturunan Batak Pakpak yakni keturunan Parrube Haji…..yang mana yang benar ya..?.&lt;br /&gt;Pendeta Abednego dan Djauli Padang Batanghari mengaku mpung mereka Silantak (Paroltep) Padang Batanghari sampai generasi ke-8 (Sibeter Padang Batanghari) tinggal di Balna Sikabeng-kabeng (kuta Matanari Pakpak Pegagan) tetapi kemudian generasi ke-9 terusir dan kembali ke Sileuh kampung asalnya karena kalah perang, 99 rumah terbakar, sebahagian mereka tertawan dan kemudian merobah marganya menjadi Matanari. Siapa-siapa nama mpung mereka yang 99 keluarga/rumah tersebut..?, siapa yang kembali ke Sileuh dan siapa pula yang tertawan yang kemudian menjadi marga Matanari…?. Dalam Silsilah yang ditulis Pendeta Abednego, anak dari si Beter (generasi ke-8 dari Silantak hanya satu orang yaitu si Naring,. Kalau untuk menyerang satu orang/keluarga saja kenapa mesti 99 rumah yang dibakar ya …?, wah membingungkan ini, siapa yang terusir dan siapa yang ditawan ya…?, tidak logis ceritra Pendeta Abednego putra Djauli Padang Batanghari ini ya….?. Maaf…………Mungkinkah mereka ini keturunan Raja Matanari yang pergi merantau dan selanjutnya merobah marga menjadi Padang Batanghari, sehingga mereka juga mengetahui ceritra Pinggan Matio….?&lt;br /&gt;Sebahagian keturunan Raja Matanari belum diketahui siapa keturunannya dan di mana tempat tinggal mereka. Sebaliknya ada marga Matanari yang tidak mudah dimasukkan dalam silsilah (trombo) ini karena keterbatasan informasi tentang nama-nama mpung (kakek) mereka. Beberapa informasi lisan menyebutkan bahwa dibeberapa kuta/daerah dijumpai marga Matanari yang mungkin belum ada tercantum dalam silsilah ini, misalnya:&lt;br /&gt;Marga Matanari yang ber kuta di Sikonihan&lt;br /&gt;Marga Matanari di kuta Pasi-Sumbul Brampu.&lt;br /&gt;Marga Matanari sekitar kuta Simanduma&lt;br /&gt;Marga Matanari dari kuta Ujung Teran-Bukit Lehu&lt;br /&gt;Marga Matanari di daerah Singkil-Boang&lt;br /&gt;Marga Matanari di Kalimantan&lt;br /&gt;dan lain lain&lt;br /&gt;Sebagai contoh, keturunan Kembung Mbaliang (generasi ke-8) anak ke-3 nya adalah Sibarita (generasi ke-9). Anak ke-2 Sibarita adalah si Nari (generasi ke-10) belum diketahui siapa keturunannya dan di mana keberadaannya. Demikian juga keturunan dari si Degger (generasi ke-11) dan keturunan Pangalo (generasi ke-12) belum diketahui siapa dan di mana kebberadaannya. Menurut ceritra para pertua Matanari, bahwa dahulu kala, sering terjadi perselisihan atau perkelahian sesame marga Matanari, yang menyebabkan ada yang pergi merantau ke daerah lain. Kemungkinan ada diantara mereka yang sakit hati sehingga enggan pulang ke kanpung asalnya, ataupun memberikan kabar keberadaannya di perantauan kepada saudaranya yang ada di kampong asalnya. Semoga saudara kita ini dapat kembali mengetahui kampong asal mereka adalah kuta Balna Sikabeng-kabeng dan Kuta Gugung kuta asal dari keturunan Raja Matanari Pakpak Suak Pegagan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarombo Merga Matanari ini disusun penulis berdasarkan beberapa sumber tulisan dan masukan/pendapat (hasil wawancara kepada) perorangan yakni meliputi:&lt;br /&gt;1. BUKU TAROMBO MATANARI PAKPAK PEGAGAN disusun oleh KARAP DOS NI ARIHTA, Pistar Matanari (Baknam 01-05-2003)&lt;br /&gt;2. Pendapat perorangan yang disampaikan secara lisan kepada penulis.&lt;br /&gt;3. Tarombo yang disusun kelompok (keturunan mpung) marga Matanari, misalnya Tarombo Matanari keturunan Mpu KERAHAN yang disampaikan lisan oleh Pendeta Ds Josep (Mpu Sich Jerry) Matanari kepada keturunan saudaranya yaitu Banua (Mpu Ruben) Matanari.&lt;br /&gt;4. Silsilah (Trombo) Marga Matanari yang disusun oleh Jamaruli (mpung Ranap) Matanari, Torsa (mpung Demak/Juri) Matanari, dan Lumban (mpung Ranap Matanari, Sikabeng-kabeng tahun 1977.&lt;br /&gt;5. Riwayat Singkat Raja Sigodang Ulu Sihotang, yang disarikan oleh ST. M. Sihotang (op. Kartini), Medan 18 Nop. 1995&lt;br /&gt;6. Sejarah Asal Mula Matanari Menjadi Mertua Silalahi Sabungan yang Kawin Dengan Sipinggan Matio Berru Matanari Dari Balna Sikabeng-Kabeng Pegagan, yang disusun 23 Orang Marga Matanari 01 Oktober 2003. Pernantin&lt;br /&gt;7. Ilmu Pengetahuan Sosial (Geografi, Sejarah, Sosiologi, Ekonomi) untuk kelas VII SMP (oleh: Mamat Ruhimat, Nana Supriatna, Kosim) tahun 2006 Penerbit Grafindo Media Pratama Jakarta.&lt;br /&gt;8. Warisan Leluhur, Sastra Lama dan Aksara Batak, disusun oleh Uli Kozok, penyelaras bahasa Robert Sibarani, tahun 1999 Ecole francise d’Extreme-Orient KPG (Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta.&lt;br /&gt;9. Habonaron Nauli Habatahon, disusun oleh Capt Bonar Napitupulu, M.M. tahun 29 July 2008, Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9157078983311861275-4557823088673562475?l=www.jmatanari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jmatanari.co.cc/feeds/4557823088673562475/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jmatanari.co.cc/2009/01/trombo-merga-matanari-pakpak-pegagan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9157078983311861275/posts/default/4557823088673562475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9157078983311861275/posts/default/4557823088673562475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jmatanari.co.cc/2009/01/trombo-merga-matanari-pakpak-pegagan.html' title='TROMBO MERGA MATANARI PAKPAK PEGAGAN'/><author><name>Jerry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12686291329203742107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/Szhr6sraE_I/AAAAAAAAAPk/GdmGjFcazYM/S220/Jerry.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/SYD-Xy-JCBI/AAAAAAAAADU/Os2eUHNcHXc/s72-c/denah_proto_btk.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9157078983311861275.post-4841928080966917771</id><published>2009-01-14T22:52:00.000-08:00</published><updated>2010-01-08T02:56:26.240-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEJARAH'/><title type='text'>MATANARI PAKPAK PEGAGAN</title><content type='html'>Oleh; Ir. Jawaller Matanari, MS&lt;br /&gt;Medan, 7 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batak Pakpak-Dairi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku Batak Pakpak berasal dari keturunan imigran bangsa atau suku dari India Selatan (kerajaan Colamandala) yang pernah menyerang dan menahlukkan kerajaan Sriwijaya (di Palembang) hingga raja Sri Sangramawijaya Tunggawarman tertawan (1025 M). Kerajaan Sriwijaya ini akhirnya runtuh tahun tahun 1337 M, yang menyebabkan terjadi penyebaran manusia sehingga terbentuk suku Pakpak suak Pegagan sekitar 600 tahun yang silam. Diduga manusia pendatang (imigran) pertama yang masuk ke tanah Pakpak, Karo dan Gayo (Alas) adalah sama nenek-moyangnya, karena kata menyebutkan air (kebutuhan utama manusia) adalah hampir sama.  Air bahasa pakpak adalah Lae, bahasa Karo adalah Lau dan bahasa Gayo (Alas) adalah Lawe. Kemiripan kata-kata dalam bahasa Pakpak dengan bahasa Karo adalah relatip besar.  Jika di Tanah Karo terkenal  Marga Silima, di Tanah Pakpak terkenal Pakpak Lima Suak (sama-sama kata lima).&lt;br /&gt;Batak Pakpak-Dairi terdiri dari lima (5) suak yang menempati wilayah (hak wilayat) masing-masing, yakni:&lt;br /&gt;Pakpak suak Boang, di daerah Boang, Singkil, Sbullusalam, daerah Aceh dan sekitarnya.&lt;br /&gt;Pakpak suak Klassan, di derah Parlilitan, Pakkat dan sekitarnya, misalnya marga di daerah Urang julu (disebut: daerah Sionem Koden) adalah Simbuyak-mbuyak (tidak berketurunan), Turuten, Pinayungen, Maharaja, Tinambunen, Tumangger dan Anak Ampun (artinya anak bungsu, sering disebut Nahampun) dan didaerah pakat marga Meka dan lain lain,&lt;br /&gt;Pakpak suak Simsim, didaerah kecamatan Kerajaan, Salak dan sekitarnya, misalnya marga Kabeaken, Brutu (Sinaga..?), Padang (Situmorang..?), Padang Batanghari (keturunan Parrube Haji…?), Sitakar, Tinendung, dan lain lain.&lt;br /&gt;Pakpak suak Keppas, misalnya keturunan si Naga Jambe yang mulanya berasal dari daerah Sicikeh-cikeh dan kemudian berkembang didaerah Sidikalang yakni hanya ada 7 marga yaitu, Raja Udjung, Raja Angkat, Raja Bintang, Raja Capah, Raja Gajah Manik, Raja Kudadiri dan Raja Sinamo.&lt;br /&gt;Pakpak Pegagan, di daerah Pegagan (meliputi daerah Balna Sibabeng-kabeng, Lae Rias, Lae Pondom, Sumbul, Juma Rambah, Kuta Manik, Kuta Usang dan sekitarnya, hanya ada tiga (3) marga, yaitu (1) Raja Matanari, (2) Raja Manik, dan (3) Raja Lingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marga (Raja) Matanari, Manik dan Lingga adalah keturunan Papak Suak Pegagan (disebut si Raja Gagan ataupun si Raja Api).  Si Raja Api adalah salah seorang dari Pitu (7) Guru Pakpak Sindalanen (yakni keturunan Perbuahaji). yang cukup terkenal ilmu kebatinannya (dukun yang disegani , ditakuti dan tempat belajar atau berguru ilmu kebatinan) diketahui melalui legenda yang cukup terkenal di daerah Pakpak, Karo Simalem dan mungkin juga di Gayo ..? (Alas). Apabila Pitu Guru Pakpak Sindelanan bersatu, maka dianggap sudah lengkaplah ilmu kebatinan yang dipelajari orang pada zaman dahulu, yakni meliputi:&lt;br /&gt;Raja Api (Raja Gagan) di daerah Pakpak Suak Pegagan,  adalah dukun (datu) yang mempunyai ilmu kebatinan Aliran Ilmu Tenaga Dalam, yang menyerupai tenaga Api (misalnya disebut: Gayung Api, apabila kena pukulanya akan terbakar atau gosong, Tinju Marulak, yakni justru orang yang memukulnya yang mengalami efek pukulan, dan lain lain),  Ilmu kebatinan yang dikuasai dan dikembangkan si Raja Api dan keturunnya berkaitan dengan pembelaan diri, berkelahi, dan berperang melawan musuh.&lt;br /&gt;Raja Angin di daerah Pakpak Suak Keppas, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan sperti tenaga angin.  Kalau angin kuat berhembus (topan) dapat merobohkan yang kuat dan besar.  Kalau angin berhembus lambat, tidak akan terasa dan tidak dapat dilihat, tetapi mereka ada.  Jadi dapat tiba-tiba si Dukun (yang mempunyai ilmu ini) tiba-tiba ada di depan mata kita.&lt;br /&gt;Raja Tawar pergi ke Tanah Karo Simalem, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan berkaitan dengan obat-obatan ramuan tradisional.  Terbukti di daerah tanah Karo Simalem berkembang ilmu pengobatan Ramuan Tradisional, pengobatan Patah Tulang, luka terbakar dan lain lain, yang kadang kala lebih hebat dari pengobatan ilmu medis (kedokteran).&lt;br /&gt;Raja Lae atau Lau atau Lawe yang pergi ke daerah Tanah Karo Simalem atau daerah Gayo-Alas.  Lae = lau = lawe berarti air (bahasa suku Toba disebut aek).  Raja Lae adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan yang dapat mendtangkan hujan, mencegah turun hujan di suatu tempat atau mengalihkan hujan dari satu tempat ke tempat lain (disebut Pawang Hujan).&lt;br /&gt;Raja Aji di daerah Pakpak Suak Simsim sekitar kecamatan Kerajaan, Salak dan sekitarnya.  Raja Aji adalah dukun yang mempunyai aliran ilmu Membuat dan Pengobatan penyakit Aji-ajian (Guna-guna, misalnya Aji Turtur, Gadam,Racun, dan lain lain).&lt;br /&gt;Raja Besi di daerah Pakpak Suak Kellasen, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan yang berhubungan alat-alat terbuat dari besi.  Misalnya ilmu tahan (kebal) ditikam dengan pisau, kebal digergaji, terhindar dari atau kebal peluru senjata api, dan lain lain.&lt;br /&gt;Raja Bisa di daerah Pakpak Suak Boang, adalah dukun yang mempunyai ilmu kebatinan yang berhubungan dengan pembuatan dan Pengobatan yang ditimbulkan oleh Bisa, missal bisa ular, kalajengking, lipan, laba-laba, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah si Raja Api mempunyai keturunan 3 orang anak laki-laki, maka salah seorang putranya diberi nama Raja Matanari (berasal dari arti Matahari).  Si Raja Api menginginkan ilmu/tenaga kebatinan yang dimiliki putranya harus melebihi tenga Api seperti yang telah dimilikinya. Keinginan si Raja Api, putranya harus mempunyai ilmu kebatinan/tenaga dalam menyerupai tenaga (kekuatan) Matahari.&lt;br /&gt;Pada mulanya Pakpak Pegagan (si Raja Api), bapa dan kakeknya adalah manusia Nomade (mendapat makanan dari alam, hanya memanen hasil hutan dan hasil berburu binatang, menangkap ikan dan tinggal berpindah-pindah).  Diduga mereka pertama sekali tinggal sekitar hutan Lae Rias dan Lae Pondom, sehingga perkampungan mereka yang pertama diyakini adalah di sekitar Lae Rias di hulu (takal) sungai Lae Patuk, yakni daerah  di atas daerah Silalahi.  Kuburan si Raja Api dan orangtuanya serta beberapa keturunannya Raja Matanari diduga disekitar hutan Lae Rias, yang menurut Legenda disebut daerah Sembahan (keramat) SIMERGERAHGAH, Simergerahgah adalah mpung si Perbuahaji (yang memperanakkan si Raja Api = Pakpak Pegagan) keturunan orang/suku Imigran dari India yang masuk dari daerah Barus.&lt;br /&gt;Sesuai perkembangan zaman dan kebudayaan, keturunan Pakpak Pegagan tersebut di atas mengalami perubahan dari budaya Nomade menjadi Petani Berpindah-pindah.  Mereka berpindah-pindah mencari lahan yang lebih subur, dan setelah agak tandus kemudian ditinggalkan. Sistim pertanian berpindah-pindah ini mengarahkan mereka dan keturunanya bergerak ke arah Balna Sikabeng-kabeng, Kuta Gugung, Kuta Manik, Kuta Raja, Kuta Singa, Kuta Posong, Sumbul Pegagan, Batangari (Batanghari), Juma Rambah, Simanduma, sampai daerah Tigalingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakpak Suak Pegagan hanya ada tiga (3) marga yaitu Raja Matanari, Raja Manik dan Raja Lingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan perkembangan kebudayaan, zaman dan sejarah akhirnya masing-masing keturunan 3 putra si Raja Api Pakpak suak Pegagan menempati daerah Balna Sikaben-kabeng dan Kuta Gugung serta sekitarnya (keturunan Raja Matanari), daerah Kuta Manik dan Kuta Raja serta sekitarnya (Raja Manik).dan daerah Kuta Singa dan Kuta Posong serta sekitarnya (Raja Lingga).  Kuta (kampung) yang lain adalah perkembangan (pertambahan) pada generasi berikutnya.&lt;br /&gt;Apabila ada marga lain mengaku pernah menjadi raja (berkuasa) di daerah pegagan (misalnya disebut Pendeta Abednego putra Djauili Padang Batanghari sampai 8 generasi mpung mereka tinggal di Balna Sikabeng-kabeng) adalah “pernyataan yang salah”, karena hanya 3 marga keturunan suku Batak Pakpak suak Pegagan (Lihat :semua Dokumen Budaya Pakpak). Padang Batanghari adalah suku Pakpak Suak Simsim di daerah kecamatan Kerajan dan Salak dan sekitarnya bukan..?&lt;br /&gt;Pendeta Abednego dan orang tuanya Djauili Padang Batanghari mengaku bahwa Pinggan Matio adalah berru dari nenek-moyang (mpung) mereka Paroltep (si Lantak Padang Batanghari) dan keturunannya sampai 8 generasi  tinggal di Balna Sikabeng-kabeng;  Kemudian terjadi perang (graha) menyebabkan mereka (Padang Batanghari) terusir dan kembali ke kampung asalnya yaitu Sileuh di kecamatan Kerajaan.   Adakah marga Manik dan atau Lingga (Pakpak suak Pegagan selain marga Matanari) yang membenarkan pernyatan tersebut di atas…..?..........atau marga Pakpak suak Keppas…?............ atau marga Pakpak  suak Simsim…….?, ……. Siapakah keturunan saudara si Lantak (si Sebar Padang Batang Batanghari yang di Sileuh…?) yang dapat membenarkan pernyataan di atas…….? Kami mohon tolonglah dibuktikan segera kebenaran pernyataan itu.&lt;br /&gt;Sekitar generasi ke 6 dan ke 7 keturunan Raja Matanari telah membangun Rumah Adat Pakpak di Balna Sikabeng-kabeng yaitu zaman kehidupan si Raja Onggu (keturunan Raja Silalahisabungan) yang kawin dengan Rumintang berru Matanari (generasi ke-7).  Rumah adat ini dibangun oleh ahli pertukangan (arsitek) dari Batak Pakpak dan Toba (terutama dari Silalahi) yang relatip banyak jumlahnya. Pertanyaan…….di mana pada zaman tersebut Padang Batanghari….?. Pohon Beringin (jabi-jabi) yang ditanam Pinggan Matio berru Matanari (disebut; eks tongkat Pinggan Matio).  diyakini dihuni oleh arwah (sahala ni = begu ni) si Raja Onggu + Rumintang berru Matanari (karena kematian mereka tidak normal, si Raja Onggu dihukum mati karena menghina suku Pakpak, dan Rumintang mati gantung diri atas kematian suaminya), walaupun kuburan mereka berdua ini ada di Silalahi.&lt;br /&gt;Menurut Ir Ramses Silalahi (di Jakarta) via SMS dan beberapa Sihaloho dari Pematang Siantar (menurut Antony Matanari), menyatakan bahwa ada di Silencer marga Matanari (mungkinkah….? si Umar Matanari, si Arden Matanari, dkk) mengaku ada talian darah dengan Pendeta Abednego putra Djauili Padang Batanghari), adalah bukti yang mendukung pernyataan Pendeta Abednego dan orang tuanya Djauili Padang Batanghari, yakni bahwa marga Padang Batanghari pernah tinggal di Balna Sikabeng-kabeng, yang kemudian karena terjadi perang, mereka sebagian terusir dan kembali ke Sileuh, sedangkan sebahagian lagi tertawan dan kemudian merobah marganya menjadi marga Matanari.  Tidak masuk akal sehat (logika) ceritra atau pendapat tersebut di atas bukan..?.  Tawanan (Padang Batanghari) merobah marga menjadi marga Matanari supaya tidak terusir atau dibunuh musuh (penyerang), adalah alasan yang tidak logis.  Apakah tujuan perang tersebut untuk menambah orang bermarga Matanari…?. Selayaknya, jika tawanan tidak dibunuh penyerang maka kemudian mereka akan melarikan diri atau pindah ke daerah lain. &lt;br /&gt;Kenapa Padang Batanghari (yang terusir) harus kembali ke Sileuh…?, di zaman itu masih banyak lahan kosong di daerah Pegagan bukan…?, atau kenapa tidak pergi ke Silalahi (kuta anak berru…?) jika benar Pinggan Matio adalah berru Padang Batanghari…?. Atau ke daerah wilayah Pakpak Suak Keppas (sekitar Sidikalang) yang masih jauh lebih dekat dari Sileuh,,.?  Berapa orang (keluarga) yang terusir dan kembali ke Sileuh…?., dan berapa orang (keluarga) yang tertawan yang merobah marga menjadi Matanari (siapa namanya)…?.  Tidak logis keluarga Padang Batanghari (suami + istri + anak-anak) yang terusir dari Balna Sikabeng-kabeng kembali ke Sileuh karena jarak ini relatip jauh dan sangat luas lahan kosong yang harus dilewati pada zaman itu bukan…?.&lt;br /&gt;Jika benar si Umar Matanari dan Arden Matanari, dkk mengaku adalah keturunan Padang Batanghari (menjadi marga Matanari), maka mereka  telah membeberkan aibnya sendiri bukan….?. Akibat pernyataan mereka, kami Matanari dapat mengikuti apa keinginan mereka yang sebenarnya. Mungkinkah,,……? mereka adalah keturunan orang pendatang, menjadi anak angkat keturunan Raja Matanari:?  Mpung kami keturunan Raja Matanari sangat merindukan marga Matanari banyak jumlahnya, demikian juga kami sekarang. Ada semboyan mpung kami keturunan Raja Matanari, “sedangkan batang pohon pisang ni gana (kita pahat berbentuk) manusia agar ada teman, apalagi dia manusia”.  Semboyan inilah yang menyebabkan tanah wilayat raja Matanari mudah (gampang) diberikannya kepada orang pendatang, yang umumnya adalah suku Batak Toba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian mengakui anak angkat menjadi keturunannya, adalah hal yang umum (biasa) terjadi pada marga-marga lain (tidak hanya pada marga Matanari).  Akan tetapi, walaupun posisi anak angkat, selama ini mereka tetap kami hargai dan memasukkan mereka dalam Trombo Matanari sebagai keturunan ompung kami, kecuali mereka mau meminta nama mereka dihapus dari Trombo Matanari, dengan tanpa rasa menyesal akan kami kabulkan.  Bagi kami anak kandung dan anak angkat sama harkat kemanusiaannya, sehingga tidak pernah kami beda-bedakan.&lt;br /&gt;Menurut kami Matanari, lebih gentelemenlah si Umar Matanari dan si Arden Matanari, dkk  mengganti marganya dan kembali ke si Leuh (kecamatan Kerajaan) serta membawa tulang-belulang orangtuanya bukan…?.  Agar mereka kembali menjadi marga Padang Batanghari.  Kasihan mereka bukan…?, marganyapun sudah dijual (ganti) menjadi Matanari hanya demi dapat tinggal di kampung kita…?.  Bakune mo ke kaltu….?.  Mella kami mendokken, sedaroh mo kita,  oda i bedaken kami anak kandung dekket anak angkat..Tapi mella i dokken ke, ke oda marga Matanari be, bagi Matanari oda lot masalah kaltu, tadingken ke saja mo kuta ntai asa sloh bai nene ulang pailailaken mendahi Pagang Batanghari, laos mo ke mi Sileuh, mi kuta ni Padang Batanghari. Njuah-njuah kita karina. (Artinya, bagaimana kalian ini kawan…?. Kalau kami menganggap, kita tetap satu kesatuan, tidak kami bedakan anak kandung dengan anak angkat.  Akan tetapi kalau kalian katakan, bahwa kalian bukan Matanari, bagi kami Matanari bukan masalah, tinggalkan sajalah kampung kita itu, pergilah ke Sileuh, ke kampung marga Padang Batanghari….. Salam buat kita semua).&lt;br /&gt;Raja Matanari, selain mempunyai keturunan anak laki-laki yang telah mencapai sekitar 18-19 generasi sampai sekarang, juga mempunyai putri (berru).  Keturunan sebagian anak perempuan (berru) kemungkinan sudah melebihi 19 generasi. Laju generasi marga Matanari adalah relatip terlambat dan jumlahnya relatip sedikit sekali.  Mungkin hal ini terjadi akibat mpung kami keturunan Raja Matanari banyak yang mengikuti aliran ilmu hitam (animisme). Beberapa generasi keturunan Raja Matanari hanya mempunyai satu anak yang berikutnya mempunyai keturunan dan ada tidak berketurunan. Generasi ke-8 keturunan Raja Matanari j hanya  6 (enam) orang yang berketurunan, yang lainnya tidak berketurunan, atau pergi merantau..?.  Penyusunan Trombo secara tertulis dimulai sejak sekitar tahun 1970 adalah berdasarkan ceritra dari keturunan masing-masing, siapa-siapa nama mpung mereka.  Jadi kalau ada yang tidak berketurunan, ataupun pergi merantau dan tidak kembali ataupun tidak memberi kabar maka nama mpung mereka otomatis tidak tercatat dalam Trombo Matanari.&lt;br /&gt;Masuknya ajaran agama Islam ataupun agama Kristen ke daerah Balna Sikabeng-kabeng dan sekitarnya lebih terlambat dibanding di daerah lain.  Orang Pakpak cukup terkenal memakan daging manusia (musuhnya) bahkan tengkorak manusia tersebut digantungkan di Bale (Jambur) sebagai bukti kehebatan penghuni kampung. Jadi dosa kesalahan orang Pakpak (terutama Matanari) pada zaman dahulu dan mungkin sampai sekarang adalah sangat besar.  Untuk itu kami mewakili keturunan Raja Matanari, memohon maaf yang sebesarbesarnya, kepada orang-orang yang pernah dirugikan atau teraniaya ataupun kepada keturunannya, terlebih kepada Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang.&lt;br /&gt;Anak perempuan (berru) dari Raja Matanari dan dari keturunannya yang cukup terkenal (tokoh berru) adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pinggan Matio berru Matanari istri Raja Silalahisabungan (sebagai Upah Raja Silalahisabungan karena telah berhasil mengobati penyakit istri Raja Matanari).&lt;br /&gt;Ranimbani berru Matanari istri Raja Sihaloho putra Raja Silalahisabungan.&lt;br /&gt;Adek si Ranimbani berru Matanari istri Raja Bintang&lt;br /&gt;Adek si Ranimbani berru Matanari istri Raja Maha.&lt;br /&gt;Rumintang berru Matanari istri si Raja Onggu keturunan Ruma Sondi (Pohon Beringin yang ditanam si Pinggan Matio di Balna Sikabeng-kabeng diyakini masyarakat sebagai tempat keramat, disebut Sembahan si Raja Onggu- Rumintang berru Matanari).&lt;br /&gt;Siberru Taren berru Matanari istri Raja Manungkun keturunan Batu Raja., yang mendapat tanah Rading Berru di Tamberro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami Matanari mengakui, bahwa sesama kami keturunan Raja Matahari seing berkelahi bahkan berperang, akibatnya ada sebahagian mereka keturunan mpung kami pergi merantau.   Mereka sebagian belum kami ketahui kabarnya, apakah mereka tetap marga Matanari atau telah merobah marganya menjadi marga lain juga belum kami ketahui. Mungkinkah keturunan hulubalang Raja Matanari (Paroltep) adalah anak keturunan Raja Matanari menjadi marga lain…?  Kami sangat merindukan mereka, kami menginginkan marga Matanari lebih besar jumlahnya, makin kuat eksistensinya, sehingga tidak terjadi lagi diperantauan penggantian marga Matanari menjadi marga Sihotang, Karo-Karo, Sinulingga, Sitepu dan lain lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebahagian keturunan Raja Matanari mengaku dirinya keturunan Oppu Saggapulo putra Oppu Borsak Sihotang Pardabuan Uruk adalah pengaruh ikatan (Pesta) SILIMA TALI di Sumbul Pegagan sekitar tahun 1957. Ikatan dan Pesta Silima Tali diadakan adalah berdasarkan pada kepentingan yang saling menguntungkan antara suku Pakpak suak Pegagan (Matanari, Manik dan Lingga) dengan suku Batak Toba (marga Sihotang). Orang Pakpak suak Pegagan ingin mempermudah segala urusan (kepentingan) yang berkaitan dengan berbagai urusan terutama bidang pemerintahan yang pada zaman tersebut berpusat di Tarutung.  Demikian juga Sihotang ingin memperkuat eksistensinya di daerah Pakpak suak Pegagan maupun suak Keppas. Matanari memberikan tanah dan parhutaan disebut huta Sihotang dekat Balna Sikabeng-kabeng.&lt;br /&gt;Ikatan (Pesta) Silima Tali terdiri dari 5 unsur yaitu (1) Sihotang, (2) Matanari, (3) Manik, (4) Lingga dan (5) marga-marga Berru-Berre dari 4 marga tersebut di atas.  Pesta (Ikatan) Silima Tali, menjalin ikrar bahwa 4 marga tersebut di atas dinyatakan Sisada Anak dan Sisada Berru. Pada waktu selanjutnya, pengaruh Pesta (ikatan) Silima Tali menjadi lebih besar pada marga Matanari. Yaitu menyebabkan marga Matanari sebahagian melupakan ikrar sisada anak sisada berru, yakni berubah menjadi mengakui bahwa marga Matanari adalah anak (keturunan) Oppu Saggapulo putra Oppu Borsak Sihotang Pardabuan Uruk  Kenyataan ini terjadi tidak lepas dari akibat jumlah keturunan marga Raja Matanari sangat sedikit dan pendidikan masih terbelakang, sebaliknya marga Sihotang jumlah keturunannya banyak dan berpendidikan lebih maju,.&lt;br /&gt;Selain marga Matanari, juga marga Manik dan sebahagian marga Lingga mengaku keturunan marga Sihotang.  Hal ini terjadi dengan alas an yang hamper sama dengan yang telah diuraikan diatas (kepentingan yang saling menguntungkan).  Demikian halnya, pengaruh marga Sihotang berpengaruh besar sampai pada marga marga Pakpak Kepas (Raja Udjung, Raja Angkat, Raja Bintang, Raja Capah, Raja Gajah Manik, Raja Kudadiri dan Raja Sinamo), ke tanah karo Simalem marga Sitepu dan semua marga Karo-karo umumnya, di daerah Simalungun marga Sitopu,  Semua marga-marga tersebut di atas, terutama di daerah perantauan merasa (mengaku) satu dengan marga Sihotang.   Sehingga ada beberapa orang menyebutkan istilah “Sihali Mas” (singkatan dari: Sihotang, Hasugian, Lingga, Manik, Matanari, Sitepu, Sitopu dan Semua yang termasuk Karo-Karo Mergana), yang artinya adalah Pengali Emas atau Penggali Emas..  Harus diakui bahwa marga Sihotang cukup hebat menjalin persaudaraan dalam suku Batak Toba, Pakpak, Karo dan Simalungun.  Horas….Njuah-njuah….Mejuah-juah  buat yang kami hormati Oppung/ Bapa/ Abang/ Adek/ Anak/ Cucu marga Sihotang di mana pun mereka berada..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian disampaikan untuk diketahui semua halayak, dan dengan demikian diharapkan bahwa:&lt;br /&gt;Tidak  ada lagi keturunan raja (marga) Padang Batanghari yang mengaku pernah tinggal  di Balna Sikabeng-kabeng (mulai si Lantak sampai keturunannya generasi ke-8) kemudian terusir dan kembali ke Sileuh akibat perang.&lt;br /&gt;Marga Matanari dengan Sihotang adalah Sisada Anak Sisada Berru  berdasarkan Pesta (ikatan) Silima Tali sekitar tahun 1957 di Sumbul Pegagan, jadi marga Matanari bukanlah keturunan (anak) Oppu Saggapulo putra Oppu Borsak Sihotang Pardabuan Uruk, melainkan Matanari, Manik dan Lingga adalah anak (keturunan) Pakpak Suak Pegagan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau ada kata-kata yang kurang berkenan, penulis mohon maaf, dan dengan senang hati dapat menerima semua kritik demi penyempurnaan catatan sejarah penting buat kita yang memerlukannya sekarang dan waktu kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Njuah-Njuah…..Mejuah-juah……Horas&lt;br /&gt;Salam dan hormat saya&lt;br /&gt;Penulis&lt;br /&gt;Ir. Jawaller Matanari, MS&lt;br /&gt;Putra Pendeta  Ds. Josep (mpung Sich Jerry) Matanari. Kuta Gerat Pegagan.&lt;br /&gt;Ketua PERMANA Medan dan Sekitarnya.&lt;br /&gt;Mobile: 081361149346&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9157078983311861275-4841928080966917771?l=www.jmatanari.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.jmatanari.co.cc/feeds/4841928080966917771/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.jmatanari.co.cc/2009/01/matanari-pakpak-pegagan.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9157078983311861275/posts/default/4841928080966917771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9157078983311861275/posts/default/4841928080966917771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.jmatanari.co.cc/2009/01/matanari-pakpak-pegagan.html' title='MATANARI PAKPAK PEGAGAN'/><author><name>Jerry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12686291329203742107</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_tn4gJHsXOAA/Szhr6sraE_I/AAAAAAAAAPk/GdmGjFcazYM/S220/Jerry.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry></feed>
